Suatu hari seorang kolega berkunjung ke kantor untuk mengadakan pertemuan informal dengan atasan dan kami. Beliau adalah salah seorang Ibu Asisten Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang cukup akrab dengan kami para pelaksana di Kemenkeu. Si Ibu baru saja kembali dari pertemuan ASEAN-OECD Workshop on Regulatory Reform di Hanoi Vietnam beberapa waktu lalu.
Cerita yang menarik untuk dibagi disini bukanlah tentang isi workshop tersebut, melainkan sisi menggelitik dari pengalaman beliau manakala harus menelusuri pelosok kota Hanoi di tengah malam demi menemukan Hotel yang ‘manusiawi’ dan terjangkau dari sisi budget. Lho kok bisa? Memangnya tidak dipesan waktu masih di Indonesia.
Usut punya usut ternyata Beliau menjadi ‘korban penipuan’ reservasi hotel secara on-line lewat sebuah web penyedia jasa layanan reservasi hotel. Hotel yang dipesan dan sudah dibayarkan lewat transaksi kartu kredit itu, ternyata dinyatakan penuh ketika beliau sudah sampai disana, padahal waktu telah menunjukkan larut malam, sekitar pukul 22.00 waktu setempat.
Alhasil, beliau pun terpaksa ‘berkeliaran’ di jalan-jalan kota Hanoi untuk mencari hotel yang pas di hati. Maklum, hotel-hotel bintang 3 ke bawah di Hanoi kebanyakan terkenal dengan citra kumuh dan prostitusi terselubungnya. Untungnya ada staf KBRI yang bersedia mendampingi, dan hotel yang pas dihati pun ditemukan tepat pada pukul 00.30 waktu Hanoi. (lagi…)


