Waktu sepertinya tak kan pernah bosan mengukir sejarah dan mendendangkan nyanyian perubahan
Ia yang telah melahirkan Beliau, mereka, dia, bahkan kau dan aku
Ia jua yang akhirnya mempertemukan kita dalam sebuah catatan peradaban
dan memisahkan kita dalam alunan melodi kehidupan
Ah sayang,
Sungguh sayang aku bahkan tak pernah bisa mengingat
Kapan pertama kali kita mulai bergenggaman tangan
Mungkin ketika jaket biru tua dilekatkan di badan
Atau mungkin ketika mengetuk pintu gerbang kampus biru untuk pertama kali
Aku hanya ingat ketika engkau dan aku berpeluh dalam sebuah asa
Manakala barisan-barisan telah tersusun rapih
Dan ratusan kepalan tangan menghujam angkasa
Lantas kita pun berteriak lantang:
“Katakan Hitam, adalah Hitam !”
“Katakan Putih, adalah Putih !”
Tiga tahun kita menghabiskan waktu
Menuliskan kata dalam cerita, cinta, bahagia, dan duka
Merajut asa dalam keriangan canda
Ah, betapa rasanya terlalu singkat bagi sebuah drama kehidupan
Aku bahkan tak pernah paham benar rupa gundah gulanamu
Aku juga tak pernah bisa melukiskan wajah amarahmu
Dalam benakku hanya ada secuil memori terekam
Bahwa acuh mu yang seolah tak butuh itu adalah bahasa pendam yang tak mendendam
Bahwa kernyit kening dan diam mu itu adalah wujud rasa dalam renungan
Biar kutitipkan saja sebuah sajak
Untuk kau baca
Dalam rupa bangga nan bersahaja
Di balik semat nama abdi negara, pengusaha, maupun wiraswasta
Maka ijinkanlah aku menuliskan satu alinea saja:
‘masihkah kau ingat bait-bait perjuangan. saat kepal tangan menghujam angkasa dan pekik lantang kita membahana. ‘katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih. wahai kalian yang rindu kemenangan, kemenangan nurani dan hati. menjunjung totalitas perjuangan. seluruh rakyat menanti baktimu. berbekal intelektualitas moral Indonesia tercinta ada di tanganmu.’
