<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kangpandoe's Weblog</title>
	<atom:link href="http://kangpandoe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kangpandoe.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Jun 2011 14:33:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kangpandoe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kangpandoe's Weblog</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kangpandoe.wordpress.com/osd.xml" title="Kangpandoe&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kangpandoe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Balada Negeri Ulat Bulu</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/04/30/balada-negeri-ulat-bulu/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/04/30/balada-negeri-ulat-bulu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Apr 2011 17:33:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dan kepunyaan Allah-lah TENTARA langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Fath 48:4) Aku tak pernah paham benar tutur katamu kawan, tatkala kau ungkap resah dan amarahmu pada negara dan kau adukan gundah-gulanamu pada bumi pertiwi atau ketika kau hanya diam tertegun melihat carut-marutnya negeri negeri yang konon katanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=222&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Dan kepunyaan Allah-lah TENTARA langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Fath 48:4)</p>
<p>Aku tak pernah paham benar tutur katamu kawan,<br />
tatkala kau ungkap resah dan amarahmu pada negara<br />
dan kau adukan gundah-gulanamu pada bumi pertiwi<br />
atau ketika kau hanya diam tertegun melihat carut-marutnya negeri</p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/04/ulat-bulu.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/04/ulat-bulu.jpg?w=300&#038;h=202" alt="" title="ulat bulu" width="300" height="202" class="aligncenter size-medium wp-image-223" /></a></p>
<p>negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kertaraharja<br />
atau entahlah apa lagi istilahnya buat menggambarkan indahnya bumi ini&#8230; <span id="more-222"></span></p>
<p>Inilah negara yang gusar itu, kawan.<br />
Yang setiap kau susuri jejak rekamnya kau bisa bercermin pada sejarahnya yang gemilang<br />
namun menyisakan banyak sisi kelam</p>
<p>Ini jua negara yang kalut itu, kawan.<br />
Yang setiap kau simak kisahnya, kau bisa menyaksikan betapa satir-nya drama kehidupan tersaji<br />
Pada penegakkan hukumnya yang masih tebang pilih<br />
Pada serangkaian kasus korupsinya yang mengguncang negeri<br />
Atau pada aksi-aksi terorisme yang membuat geram dan semakin tak manusiawi</p>
<p>Tengoklah pemimpinnya yang sibuk mengurus citra diri<br />
Para wakil rakyatnya yang gigih memperjuangkan gedung baru dengan penuh ambisi<br />
Para elit politiknya yang sibuk berdagelan dagang sapi dengan alibi koalisi<br />
Toh padahal di gang-gang kecil masih ada rakyatnya yang sulit mencari sesuap nasi</p>
<p>Mari kemari sejenak, wahai kawan<br />
Duduklah sejenak di sisiku<br />
Kita bercengkrama sambil memandang langit cerah nan bertabur bintang<br />
Dan bulan sabitnya menggelayut manja di atap langit, menambah syahdunya malam ini</p>
<p>Mari kita celotehkan saja risaumu pada angin malam<br />
Biar diterbangkannya gelisahmu ke penjuru negeri dan tepian pantai<br />
Agar hilang gundah gulanamu dan sirna resah pikiranmu<br />
Biarkan kita berbagi dengan alam beban-beban berat dipikiranmu itu</p>
<p>Kawan<br />
Tahukah kau kalau aku hanya paham benar satu hal<br />
bahwa Tuhan tengah mengirimkan bala tentaranya untuk menegur manusia-manusia negeri ini</p>
<p>dan patutlah kita bersyukur kawan<br />
karena kasih-sayang dan keagungan-Nya<br />
bala tentara yang Ia turunkan tak seperkasa ababil yang meluluh-lantakan tentara abrahah<br />
tak juga dalam rupa gempa yang membinasakan pedagang-pedagang curang di negeri Madyan<br />
dan tak pula mewujud dalam rupa air bah yang menenggelamkan Kaum Nuh</p>
<p>aku menarik nafas panjang untuk menuturkannya padamu kawan<br />
setelah tsunami dan merapi, disusul gempa dan banjir yang silih berganti<br />
kini teguran datang lagi dalam rupa kawanan Ulat Bulu<br />
mungkin bentuknya lucu, kecil, berbulu, namun banyak membuat orang jijik</p>
<p>ah, rasa-rasanya aku jadi teringat kembali lembaran-lembaran kitab suci<br />
manakala Alloh memeringatkan Fir’aun dengan berbagai bukti<br />
maka dikirimkan-Nya wabah belalang, kutu, dan katak sebagai jundi</p>
<blockquote><p>”Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS Al A’raf 7:133)</p></blockquote>
<p>Kau pun menggugat tanya<br />
Lalu dimanakah pemuda Musa yang gagah berani berkata lantang dihadapan penguasa tirani?<br />
atau dimana pula sekumpulan pemuda kahfi yang terasing demi kebenaran sejati<br />
apa tak rindu kita pada kehadiran sosok jiwa-jiwa pasukan Badar berani?</p>
<p>Berhenti-lah bertanya tuk sejenak hai kawan,<br />
Mengapa tak kita saja yang tampil menjadi pemuda pilihan negeri<br />
Berbuat yang terbaik dengan ladang amal masing-masing yang kita miliki<br />
Sekecil apa pun kontribusi kan kita berikan tuk memperbaiki negeri  </p>
<p>Dan rasa-rasanya sekali lagi kita mesti berguru pada satu ayat suci</p>
<blockquote><p>“Innalloha laa yu ghoiyiru maa biqaumin, hattaa yu ghoiyiru maa bianfusihim”</p></blockquote>
<p>dan Sukarno pun pernah berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bangsa yang tidak percaya pada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka&#8221; (Pidato HUT Proklamasi tahun 1963)</p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=222&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/04/30/balada-negeri-ulat-bulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/04/ulat-bulu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ulat bulu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kritis tak Berarti tidak Objektif: Bincang-bincang Pembangunan Gedung Baru DPR</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/04/22/kritis-tak-berarti-tidak-objektif/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/04/22/kritis-tak-berarti-tidak-objektif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 06:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[“There are two freedoms; the false, where a man is free to do what he likes; the true, where a man is free to do what he ought”(Charles Kingsley)* Sebuah pembangunan proyek infrastruktur, entah berupa jalan, jembatan, pelabuhan, ataupun gedung seyogianya disambut gembira dan didukung oleh banyak pihak. Pasalnya pembangunan identik dengan menggeliatkan roda perekonomian, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=211&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“There are two freedoms;  the false, where a man is free to do what he likes; the true, where a man is free to do what he ought”(Charles Kingsley)*</em></p>
<p>Sebuah pembangunan proyek infrastruktur, entah berupa jalan, jembatan, pelabuhan, ataupun gedung seyogianya disambut gembira dan didukung oleh banyak pihak. Pasalnya pembangunan identik dengan menggeliatkan roda perekonomian, meningkatkan government spending, dan pada gilirannya berdampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian suatu wilayah bahkan negara. </p>
<p>Namun hal tersebut nampaknya tidak serta merta berlaku bagi rencana pembangunan gedung baru DPR. Dari awal rencana digulirkan hal ini telah menjadi polemik di berbagai media. Pasalnya gedung baru yang dibangun dinilai kelewat mewah dengan dilengkapi berbagai fasilitas seperti SPA, fitness center, dan kolam renang. </p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/04/gedung1.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/04/gedung1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="gedung1" width="225" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-212" /></a></p>
<p>Banyak kalangan menuding pembangunan tersebut sebagai sesuatu yang melukai perasaan rakyat. Terlebih jika membandingkan kinerja para wakil rakyat dengan fasilitas yang mereka peroleh, rasa-rasanya masih jauh panggang dari api. </p>
<p>Tak sulit melihat indikatornya, dari 70 RUU yang telah ditetapkan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun  2010, sampai dengan penutupan masa sidang II tahun sidang 2010-2011 hanya delapan dari 70 RUU tersebut yang berhasil diselesaikan oleh DPR, ditambah dengan delapan RUU kumulatif terbuka.<br />
<span id="more-211"></span></p>
<p><strong>Latar Belakang</strong><br />
Seperti dilansir dalam situs dpr.go.id, kapasitas maupun penataan ruang yang ada sudah tidak dapat menampung maupun mengatur jumlah karyawan, barang-barang dan berkas yang berada di dalam ruang Gedung MPR/DPR/DPD-RI. Bahkan disebutkan pula jika meja kerja staf dan jumlah staf yang tidak sebanding dengan luasan ruangan, hal ini mengakibatkan ruang gerak yang semakin sempit. </p>
<p>Selain itu, ruang perpustakaan DPR juga dinilai sudah tidak memadai sehingga diperlukan penambahan dan penataan kembali. Maka dalam perspektif ini, disimpulkan diperlukan penambahan maupun penataan Gedung di Komplek MPR/DPR/DPD-RI. Kemudian pembangunan gedung baru DPR ini disepakati dalam rapat koordinasi antara Tim Kerja BURT DPR RI dengan Tim Kerja PURT DPD RI. </p>
<p>Alasan lain yang dikemukakan adalah ruangan yang ditempati anggota DPR saat ini dianggap tidak optimal untuk kinerja dewan. Sebagai gambaran tiap anggota DPR RI di Gedung Nusantara I menempati ruang seluas ± 32 m2, diisi 1 anggota, 1 sekretaris, dan 2 staf ahli. </p>
<p>Pada masa bakti Anggota Dewan periode 2009 -2014, muncul keinginan penambahan jumlah staf ahli yang semula 2 menjadi 5, serta penambahan fasilitas berupa ruang rapat kecil, kamar istirahat, KM/WC, dan ruang tamu.</p>
<p>Berdasarkan kebutuhan baru tersebut, perhitungan untuk ruang masing-masing anggota menjadi 7 orang, meliputi 1 anggota dewan, 5 staf ahli, dan 1 asisten pribadi seluas ± 120 m2. Perhitungan luas total bangunan berubah dari ±120.000 m2 (27 Lt) menjadi ±161.000 m2 (36 lt). </p>
<p>Dengan luas total ± 156.586.26 m², maka rincian biaya total pembangunan adalah sebesar Rp. 1.162.202.186.793,- yang terdiri dari: 1) biaya konstruksi fisik sebesar Rp. 1.125.074.721.000,- 2) Biaya konsultan perencana sebesar Rp 19.126.270.257,- 3) Biaya konsultan Manjemen Konstruksi sebesar Rp 16.876.120.815,- dan 4) Biaya pengelolaan kegiatan sebesar Rp 1.125.074.721,-. Biaya tersebut diluar biaya IT, security system dan furniture/mebelair. </p>
<p><strong>Mengkritisi tanpa harus kehilangan objektivitas</strong><br />
Mencermati latar belakang yang dikemukakan DPR, sebetulnya tidak semua alasan bisa kita salahkan. Dalam era demokrasi dan keterbukaan seperti sekarang, sebagai rakyat kita harus jeli melihat mana yang perlu didukung dan mana yang tidak. </p>
<p>Saya termasuk orang yang sepakat bahwa DPR memerlukan tambahan fasilitas ruangan kerja dan tempat penyimpanan berkas yang handal. Selain itu, fungsi perpustakaan DPR juga mesti ditingkatkan dengan adanya fasilitas ruangan yang lebih representatif dan mudah diakses publik.</p>
<p>Hanya mencoba mengkritisi beberapa hal, pertama mengapa DPR tidak menggunakan konsep penataan dan relokasi ruangan dengan cara pembagian ruangan yang lebih proporsional.  Dengan kata lain gedung baru yang akan dibangun nantinya tak harus 36 lantai. Mungkin  cukup terdiri dari belasan lantai untuk merelokasikan yang sudah tak tertampung di gedung lama. </p>
<p>Toh akan lebih hemat, efektif, dan efisien bukan. </p>
<p>Kedua, mengenai isu adanya tambahan fasilitas seperti fitness centre, spa, dan kolam renang. Saya sendiri tidak melihat adanya fasilitas ini dari situs dpr.go.id. namun pemberitaannya diberbagai media membuat jadi bertanya-tanya, “Apa betul sarana kebugaran seperti ini yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja DPR?”. </p>
<p>Apa urgensinya membangun sarana-sarana itu? Alih-alih menjadi kantor wakil rakyat, jangan-jangan gedung ini nantinya lebih cocok disebut sebagai hotel bintang lima.   </p>
<p>Ketiga, mengenai tambahan staf ahli dari semula 2 orang menjadi 5 orang. Perlu dipahami bahwa kinerja anggota dewan pada hakikatnya bergantung pada dukungan kinerja staf ahli. Namun permasalahannya adalah adanya missing-link antara kenyataan ini dengan logika persepsi rakyat. </p>
<p>Rakyat akan bertanya “jika semua bergantung staf ahli, lantas anggota dewan sendiri mengerjakan apa? Apa hanya hadir dari rapat ke rapat saja?”</p>
<p>Sementara pernyataan lain mengatakan bahwa, “Untuk jadi anggota DPR harus ahli, kalau tidak ahli tak usah-lah berani-berani mencalonkan diri menjadi anggota DPR? Jangan mengandalkan staf ahli saja”<br />
Permasalahan ini menurut hemat penulis perlu dijawab dengan melakukan reformasi kinerja anggota dewan. Maksudnya, dalam pengelolaan kinerja sebuah institusi harus terdapat hubungan yang jelas antara pengukuran kinerja, compensable factor (elemen dari job yang fundamental dan dapat dikompensasikan, seperti skills, effort, responsibility, dan working conditions) serta dukungan fasilitas dan reward yang diberikan. </p>
<p>Jadi pertama-tama perlu dilakukan pengukuran analisis beban kerja anggota dewan. Kedua, beban kerja tersebut dihubungkan dengan dukungan staf. Yang jelas harus ada bukti empirik bahwa dewan memang memerlukan tambahan dukungan staf ahli, jangan asal minta tambah-tambah saja. Sebab saya khawatir jika setelah diukur beban kerjanya, jangan-jangan malah sebenarnya jumlah 2 staf ahli dan 1 sekretaris sudah sangat cukup dan memadai bagi mereka.</p>
<p><strong>Multiple attribute decision making dalam pembangunan gedung DPR</strong><br />
Sebagai sebuah keputusan publik, tentunya pembangunan gedung baru DPR memiliki atribut-atribut keputusan yang mesti diperhatikan sebelum keputusan final ditetapkan dan dilaksanakan. Apalagi yang mengawasi DPR sesungguhnya adalah mata dan telinga rakyat, karena memang secara hierarkis tidak ada lagi dewan pengawas DPR.</p>
<p>Apa yang saya maksud sebagai atribut keputusan disini adalah segala sesuatu yang mencerminkan misi dan tujuan yang hendak dicapai serta dampak yang diperkirakan dari pengambilan keputusan tersebut. Menurut saya setidaknya ada 5 atribut utama yang mesti diperhatikan yakni public acceptance, functional impact, quality of performance, law compliance dan economic impact. </p>
<p>Saya meletakkan  public acceptance sebagai atribut pertama, karena isu pembangunan gedung DPR ini sangat sensitif dengan akseptasi publik. Dalam era keterbukaan dan kebebasan mengemukakan pendapat seperti sekarang, mau tidak mau publik akan bereaksi cepat dalam menanggapi permasalahan umum yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka rasakan sehari-hari. </p>
<p>Seharusnya  DPR mau mendengarkan aspirasi konstituen akar rumput mereka, aspirasi rakyat yang telah memilih mereka. Sehingga pada gilirannya rakyat akan puas dengan mereka. Permasalahan lainnya adalah sosialisasi yang harus dilakukan dengan bijak. Apresiasi perlu disampaikan karena melalui situsnya (link: http://www.dpr.go.id/id/sosialisasi-gedung/aspirasi), DPR telah membuka akses kepada masyarakat untuk menyalurkan apresiasinya. </p>
<p>Kedua adalah functional impact, maksudnya pembangunan gedung ini harus memperhatikan aspek fungsional dari adanya bangunan gedung baru itu sendiri. Bukankah dalam dunia arsitektur dikenal istilah bentuk mengikuti fungsi. Jadi misalnya apakah layak sebuah tempat kerja wakil rakyat ditambahi fasilitas spa, kolam renang, dan fitness center? </p>
<p>Yang ketiga adalah aspek atribut quality of performance, maksudnya harus ada sebuah jaminan atau minimal hubungan keterkaitan yang jelas antara peningkatan kinerja DPR dengan penambahan fasilitas, termasuk fasilitas gedung, ruangan kerja, dan jumlah staf ahli. Setidaknya ada bukti empirik dan jaminan bahwa pembangunan gedung baru dan fasilitas lainnya mampu meningkatkan kinerja anggota DPR.</p>
<p>Keempat law compliance, perlu diperhatikan sisi kepatuhan hukum dari sisi perencanaan, proses pengadaan, pelelangan, dan eksekusi proyek.</p>
<p>Terakhir tak kalah penting adalah atribut economic impact, apa manfaat pembangunan gedung baru ini secara ekonomis. Berapa opportunity cost yang hilang jika seandainya dana untuk membangun 36 lantai gedung baru itu dapat dialokasikan untuk memperbaiki sekolah yang nyaris ambruk, membayar tenaga kesehatan di daerah pelosok, meningkatkan kesejahteraan guru, atau membangun sarana infrastruktur lainnya yang memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.</p>
<p>Disisi lain, economic impact juga tidak hanya dilihat dari hal-hal di atas, bisa juga dianalogikan jika kinerja dewan semakin meningkat, maka semakin banyak RUU yang disahkan, impact-nya semakin tinggi tingkat jaminan kepastian hukum di Indonesia, hal ini akan berdampak pada semakin baiknya kondisi Indonesia di mata internasional. Harapannya investor semakin banyak yang masuk.</p>
<p>Permasalahannya sekarang, jika kita menggunakan sudut pandang ini, bagaimana cara mengukur dan menjamin peningkatan kinerja dewan? Jawabannya adalah Reformasi Kinerja Anggota Dewan.</p>
<p>Referensi informasi:<br />
http:// www.dpr.go.id<br />
Referensi kutipan:<br />
 *http://thinkexist.com/quotation/there_are_two_freedoms-the_false-where_man_is/151135.html<br />
Referensi kerangka berpikir:<br />
Dessler, Gary. Human Resource Management. 2005. Prenctice Hall Inc.<br />
Goodwin, Paul dan Wright, George. Decision Analysis for Management Judgment Third Edition. 2004. John Wiley and Sons, Ltd. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=211&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/04/22/kritis-tak-berarti-tidak-objektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/04/gedung1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">gedung1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menilik Pembiayaan Syariah di Indonesia, Studi Kasus Pembiayaan Perumahan</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/01/09/menilik-pembiayaan-syariah-di-indonesia-studi-kasus-pembiayaan-perumahan/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/01/09/menilik-pembiayaan-syariah-di-indonesia-studi-kasus-pembiayaan-perumahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Jan 2011 02:09:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Finance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I : Aspek Fundamental &#38; Tinjaun Syari’ah yang Perlu Diperhatikan Abstraksi Sejak tumbuhnya industri keuangan syariah di Indonesia, animo kaum muslimin di tanah air untuk menggunakan transaksi keuangan syariah meningkat cukup pesat, termasuk dalam hal pembiayaan kepemilikan rumah (KPR). Sayangnya kurangnya pemahaman akan keuangan syariah itu sendiri menyebabkan sebagian kaum muslimin sepertinya yakin saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=199&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Bagian I : Aspek Fundamental &amp; Tinjaun Syari’ah yang Perlu Diperhatikan</em></strong></p>
<p><strong>Abstraksi</strong></p>
<p>Sejak tumbuhnya industri keuangan syariah di Indonesia, animo kaum muslimin di tanah air untuk menggunakan transaksi keuangan syariah meningkat cukup pesat, termasuk dalam hal pembiayaan kepemilikan rumah (KPR). Sayangnya kurangnya pemahaman akan keuangan syariah itu sendiri menyebabkan sebagian kaum muslimin sepertinya yakin saja dengan perbankan syariah. Mereka menjadi percaya begitu saja dengan bank syariah tanpa sempat lagi mengecek dulu jenis akad yang digunakan atau ada tidaknya kaidah fiqh yang terlanggar. Asal ada embel-embel syariah saja rasanya sudah cukup. Di sisi lain, perbankan syariah pun dinilai oleh sebagian pihak terlalu tinggi menetapkan <em>fix profit margin</em>-nya sebagai sumber utama pendapatan pengganti bunga (<em>floating rate</em>) yang diharamkan. Sehingga ada sebagian nasabah yang merasa bahwa produk syariah “lebih mahal” dari konvensional.</p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Suatu hari seorang teman memberikan link blog perumahan yang kebetulan mengusung embel-embel “Perumahan Islami”. Menarik memang konsep yang ditawarkan, sehingga memancing saya mengajukan pertanyaan informasi lebih lanjut kepada “sang admin” bagaimana mekanisme pembiayaan untuk memiliki perumahan tersebut.  </p>
<p>Agak terkejut saya karena feed back informasi yang disampaikan ternyata pembiayaan perumahan tersebut masih terafiliasi dengan perbankan konvensional. Sementara pertanyaan saya tentang akad-akad transaksi syariah yang lazim dan mungkin bisa digunakan dalam pembiayaan seperti murobahah, istishna’, salam, dan musyarokah tidak disinggung sama sekali dalam jawabannya.</p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/karedenan2.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/karedenan2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="karedenan2" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-201" /></a></p>
<p>Berawal dari keprihatinan akan hal tersebut, saya mencoba menulis beberapa hal yang mungkin bisa sedikit dijadikan rujukan saya pribadi dan teman-teman yang menginginkan pembiayaan kepemilikan rumah dengan cara syariah. Tulisan ini mencoba memberikan deskripsi informasi dan telaah literatur keuangan syariah yang sedang saya pelajari. Namanya juga orang masih belajar, tentu masih banyak kekurangan dan perlu penyempurnaan di sana-sini. Yang benar datangnya dari Allah dan Rasul-Nya dan yang salah dari sisi penulis pribadi.   </p>
<p><strong>Mengapa pilih pembiayaan syariah</strong><br />
<span id="more-199"></span><br />
Merujuk kembali kepada sumber hukum Islam, yakni Qur’an dan Sunnah rasanya semua kaum muslimin akan menyepakati pengharaman riba. Oleh karena itu, penulis hanya akan mereview sedikit beberapa dalil tentang keharaman riba tersebut. Merunut pada ayat Al Qur’an yang diturunkan pada periode Mekkah, umumnya ayat tersebut hanya mengindikasikan ketidaksenangan terhadap riba, seperti firman Allah SWT :</p>
<p>“<em>Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhoan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)</em>.” (Q.S. Ar-Rum ayat 39)</p>
<p>Menurut Ibnu Hajar Al Asqolani, pelarangan tegas terhadap riba turun pada waktu sebelum perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah. Kemudian larangan final dan yang diulang-ulang datang pada tahun ke-10 Hijriah atau dua minggu sebelum wafatnya Rasulullah SAW. Sedangkan Muhammad Ayub dalam bukunya “<em>Understanding Islamic Finance</em>” mencoba mengurut-urutkan ayat-ayat mengenai Riba berdasarkan waktu pewahyuannya sebagai berikut:</p>
<p>1.	Q.S. Ar-Rum ayat 39<br />
2.	Q.S. An-Nisa ayat 161<br />
3.	Q.S. Ali-Imran ayat 130-132; dan<br />
4.	Q.S. Al-Baqoroh ayat 275-281</p>
<p>Dalam suatu ceramah yang sempat penulis hadiri, Mantan Direktur Bank Muamalat dan penulis buku “Satanic Finance” M. Riawan Amin memberikan perhatian khusus pada Surat Al-Baqoroh ayat 278- 279 :</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya (yakni meninggalkan sisa riba), maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)</em>” (Q.S. Al Baqoroh ayat 278 – 279).</p>
<p>Menurut Riawan Amin dalam isi ceramahnya tersebut, setiap dosa memiliki ancaman hukumannya masing-masing dan hanya Riba yang diancam dengan perang dari Allah dan Rasul-Nya. Atau dengan kata lain keterlibatan dalam transaksi yang berbasiskan Riba setaraf dengan sedang berperang melawan Allah dan Rasul-Nya, yang bahkan tiada seorang muslim pun yang akan berani punya pikiran seperti itu.</p>
<p>Rasulullah SAW dalam hadits beliau juga banyak  menyinggung mengenai keharaman Riba.  Diantara hadits yang paling terkenal misalnya yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir ra. Sebagai berikut:</p>
<p><em>Dari Jabir r.a. : “Rasulullah SAW mengutuk penerima dan pembayar riba, orang yang mencatatnya, dan saksi mata dari transaksi tersebut dan mengatakan mereka semua sama (dalam dosa)</em>” (H.R. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)</p>
<p>Dari uraian tentang keharaman riba di atas, sampai disini dapat kita simpulkan bahwa wajib hukumnya bagi kaum muslimin meninggalkan transaksi ribawi dan beralih kepada transaksi yang berbasiskan hukum-hukum syariah.  Sebagai catatan pembagian dan jenis-jenis Riba serta kaidah-kaidah yang harus dipahami terkait masalah Riba tidak dibahas disini karena memerlukan penjelasan rinci dan ke-khususan tersendiri. </p>
<p><strong>Bebas Riba saja ternyata belum cukup</strong>   </p>
<p>Permasalahan yang muncul di lapangan kemudian adalah bebas Riba saja ternyata belum cukup. Setidaknya ada dua isu utama lainnya yang menjadi perhatian penulis pada produk pembiayaan perbankan syariah di Indonesia, khususnya pembiayaan perumahan. Pertama adalah isu <em>syariah compliance</em> dan kedua adalah masalah yang secara sederhana saya sebut “kok lebih mahal dari konvensional”. Isu pertama akan coba penulis bahas pada tulisan bagian pertama, sedangkan isu ke-dua akan diuraikan lebih lanjut pada bagian kedua tulisan ini.</p>
<p>Pertama isu mengenai <em>syariah compliance</em>, hampir bisa dipastikan bahwa semua produk pembiayaan perbankan syariah bebas dari riba. Namun demikian, perlu dipahami bahwa karakteristik transaksi keuangan Islam tidak sebatas pada bebas Riba saja. Karena setidaknya suatu akad transaksi dalam Islam harus memenuhi kriteria sebagai berikut:<br />
	Bebas Riba (interest free)<br />
	Bebas Ghoror (uncertainty or lack of knowledge free)<br />
	Bebas Maysir (gambling free)<br />
	Bebas dari unsur tadlis (penipuan)<br />
	Bebas dari unsur Ikroha (ketidak ridho’an salah satu pihak)<br />
	Tidak bertentangan dengan dalil syari’, sebagaimana kaidah fiqh: “<em>Al Ashlu fil Asy yaa’i al ibahah, hatta yadullud dalilu ‘alat tahrimi. Hukum asal dalam mu’amalah adalah boleh hingga ada dalil yang mengharamkannya.</em>” (Imam As Suyuthi dalam Al Asybah Wa An Nadzhair)</p>
<p>Sekali lagi karena keterbatasan lingkup dalam tulisan ini, dan keperluan penjelasan yang lebih komprehensif, kriteria-kriteria tersebut di atas belum dapat penulis jabarkan secara rinci satu per satu di sini. Tentu harapannya agar pembaca jadi lebih tertarik mempelajari keuangan syariah secara mandiri dan tulisan ini mampu sedikit berperan sebagai katalisator untuk hal itu.  </p>
<p><strong>Syariah Compliance</strong></p>
<p>Untuk mengetahui aspek syariah compliance suatu akad, maka pertama perlu dipahami struktur akad yang digunakan oleh bank syariah. Perbankan syariah juga melakukan bisnis seperti halnya konvensional, dengan faktor pembedanya adalah kesesuaian dengan aspek syariah. Oleh karena itu, bank syariah dapat menjual barang yang dibelinya dengan suatu profit margin, menyewakan aset dengan imbalan uang sewa, dan membagi keuntungan (atau menanggung resiko) yang berasal dari investasi berbasiskan syirkah. </p>
<p>Ada 2 jenis akad mu’amalah maaliyah yang dikenal dalam terminologi fiqh mu’amalah, yakni akad Li Tabarru’ dan akad Li Tijari. Akad Li Tabarru’ maksudnya adalah transaksi mu’amalah dalam rangka ta’awun (tolong-menolong) untuk mencari keridho’an Allah. Jadi pada transaksi ini ke-dua pihak dilarang untuk mencari keuntungan. Akad-akad yang termasuk dalam kategori Li Tabarru’ adalah: 1) wadi’ah; 2) wakalah; 3) kafalah; 4) hawalah; 5) Rahn; dan 6) Qardh.</p>
<p>Jadi misalnya kita menabung dan bank menggunakan akad wadi’ah (titipan) maka kita tidak dibenarkan meminta bagian hasil dari dana yang dititipkan kepada Bank. Demikian juga ketika kita meminjam uang dari bank dan misalnya bank menggunakan akad Qardh (pinjaman) maka bank tidak diperkenankan menarik keuntungan dari dana pokok yang dipinjamkan. Ingat ada kaidah fiqh yang menyatakan “<em>Kullu Qordhin Jarro Manfa’atan Fa Huwa Riba. Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat/ keuntungan adalah Riba</em>”. </p>
<p>Bahkan sedemikian hati-hatinya Rasulullah SAW mengenai manfaat yang timbul dari aspek pinjam-meminjam ini, beliau juga melarang tawaran barang dan jasa yang diberikan oleh peminjam walaupun itu bukan berupa tambahan harta pada pokok pinjaman.</p>
<p><em>Dari Anas ibn Malik r.a. : Nabi Muhammad SAW bersabda “Ketika salah satu dari kalian memberikan pinjaman dan yang meminjam menawarkan makanan, janganlah kamu memakannya, dan jika yang meminjam menawarkan tumpangan pada hewannya, janganlah kamu menaikinya, kecuali mereka sebelumnya sudah terbiasa dengan saling bertukar bantuan.</em>” (HR. Baihaqi dalam kitab Al-Buyu’, Bab kulli qordhin jarro manfa’atan fa huwa riba).</p>
<p>Sedangkan akad Li Tijari maksudnya adalah transaksi mu’amalah dalam rangka mencari keuntungan duniawi dan secara syara’ memang diperbolehkan. Ada 4 jenis akad mu’amalah maaliyah yang tergolong dalam kategori Li Tijari. Masing-masing dari ke-4 akad tersebut memiliki turunan-turunan dan variasi-variasi dalam praktik nyata di lapangan. Ke-4 jenis akad tersebut adalah: 1) Bai’ (jual-beli); 2) Syirkah (persekutuan dalam modal dan kepemilikan); 3) Ijaroh (sewa-menyewa); dan 4) Ju’alah (pemberian imbalan/ ju’al). Dibawah ini adalah bagan pembagian akad transaksi maaliyah.</p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/slide1.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/slide1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Slide1" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-200" /></a><br />
                 <em>Sumber: Bahan Ajar Fiqh Mu&#8217;amalah Lanjutan. FEUI. Salemba:2010</em></p>
<p>Jika nasabah telah mengerti bahwa akad yang digunakan adalah kategori Li Tijari, hal ini pun tidak berhenti sampai disini. Nasabah kemudian harus jeli pula untuk melihat ada tidaknya unsur-unsur larangan yang terkandung dalam transaksi yang ditawarkan oleh perbankan. Unsur larangan yang paling sering ditemukan dalam kasus pembiayaan jual beli perumahan misalnya adalah larangan menggabungkan dua akad yang saling berhubungan dalam satu akad dan Bay al Dayn bi Dayn (jual-beli utang dengan utang). </p>
<p><strong>Penggabungan dua akad dalam satu akad</strong></p>
<p>Perbankan syariah sangat mungkin akan menghadapi beberapa transaksi yang di dalamnya akan terdapat perjanjian atau ketentuan yang saling bergantung satu-sama lain dan ini harus dihindari. Dalam hal ini, Direktur Training Development and Shariah Aspects-Institute of Islamic Banking and Insurance (IIBI) London, Muhammad Ayub dalam bukunya “Understanding Islamic Finance” memberikan rekomendasi kombinasi beberapa akad yang diperbolehkan dengan syarat dan kondisi tertentu:</p>
<p>1.	Kombinasi Bai’ (jual beli) dengan Ijaroh (sewa-menyewa)</p>
<p>Bai’ mengalihkan kepemilikan dan resiko dari penjual kepada pembeli, sedangkan Ijaroh tidak mengalihkan kepemilikan dan resiko dari pemberi sewa kepada penyewa. Oleh karena itu dua akad ini harus dipisahkan dalam akad yang berbeda.</p>
<p>Pada akad Ijaroh Al Muntahia bi Tamliek (penyewaan yang berujung pada transfer kepemilikan kepada penyewa) selama periode penyewaan, bank tetap bertanggung-jawab atas biaya dan resiko yang terkait kepemilikan. Selain itu, selama periode penyewaan dilarang mengalihkan kepemilikan dan resiko kepada pihak penyewa karena hal itu menyebabkan transaksi menjadi tidak sah (bathil).</p>
<p>Solusinya salah satu pihak dapat menjalankan janji unilateral untuk menjual, membeli, atau memberikan hadiah pada saat akhir periode sewa. Dengan catatan hal ini tidak akan mengikat pihak yang lain. Atau pihak yang lain memiliki pilihan untuk membeli/ tidak membeli dari pihak satunya atau menjual/ tidak menjual kepada pihak satunya. </p>
<p>2.	Kombinasi Syirkah (persekutuan dalam modal dan kepemilikan) dengan Ijaroh</p>
<p>Maksudnya satu pihak dapat memberikan bagian kepemilikannya atas sebuah aset yang diperoleh secara bersama/bersekutu kepada pihak sekutunya dalam suatu penyewaan. Dalam hal ini para fuqoha sepakat mengenai diperbolehkannya pembagian hak seseorang dalam suatu harta benda ke pihak lain. </p>
<p>Akan tetapi perlu dicatat bahwa penjualan unit-unit kepemilikan ke nasabah Musyarokah Muttanaqisoh harus tetap dipertahankan terpisah, yang menuntut “penawaran dan penerimaan” (akad) untuk setiap unit.  </p>
<p>3.	Kombinasi Musyarokah dengan Mudhorobah (bagi hasil)</p>
<p>Perlu diingat bahwa pada prinsipnya, sebagaimana dalam pembagian akad di atas, mudhorobah dan musyarokah adalah sama-sama turunan dari syirkah. Dalam musyarokah kepemilikan aset/ usaha menjadi milik bersama ke dua pihak. Sedangkan pada mudhorobah kepemilikan ada pada investor (Shohibul Maal), sekutu aktif (Mudhorib) yang menjalankan usaha mendapatkan imbalan berupa bagi hasil dari keuntungan usaha. </p>
<p>Kasus ini tidak begitu banyak, Muhammad Ayub memberikan contoh jika misalnya bank mengelola dana deposito dari deposan dengan basis Mudhorobah, mereka juga bisa ke dalam bisnis dengan syarat bahwa rasio keuntungan untuk sekutu pasif tidak boleh lebih besar dibandingkan rasio modal mereka dalam total modal.</p>
<p>4.	Kombinasi Wakalah (agensi/perwakilan) dan Kafalah (dana kelolaan) dengan akad Bai’ atau Ijaroh</p>
<p>Hal ini diperbolehkan dengan syarat hak dan kewajiban yang berasal dari beragam akad disesuiakan dengan peraturan tertentu sesuai dengan akad yang sudah ada. Sesuai dengan praktik bank syariah yang ada saat ini, wakalah adalah komponen penting dalam perjanjian Murobahah, Salam, dan Istishna’.   </p>
<p><strong>Jual Beli Utang dengan Utang</strong></p>
<p>Prinsip lain yang perlu diperhatikan dalam kaidah fiqh adalah larangan jual beli “Bai’ al Kali bil Kali” atau “Bai’ ad Dayn bid Dayn” yang berarti penjualan utang dengan utang. Dalam transaksi jual beli yang sesuai syariah ada 3 bentuk yang diperbolehkan. Pertama pertukaran barang dengan uang pada saat bersamaan. Kedua pertukaran barang terlebih dahulu dengan cara pembayaran ditunda untuk waktu tertentu yang disepakati. Ketiga pertukaran barang yang ditunda penyerahannya sesuai waktu yang disepakati tetapi dengan pembayaran uang dimuka. </p>
<p>Maksud jual beli utang dengan utang dalam konteks bank syariah di sini adalah misalkan kita bertransaksi dengan bank menggunakan akad Murobahah untuk membeli rumah dengan pembayaran dari pihak nasabah yang ditunda dalam jangka waktu yang disepakati. Pada saat akad Murobahah terjadi maka bank harus sudah mempunyai rumah sebagai obyek yang ditransaksikan. Jika pada saat transaksi bank belum mempunyai rumah maka akadnya menjadi bathil karena ke dua pihak telah melakukan transaksi utang dengan utang. Atau dengan kata lain objek pertukaran dalam jual-beli belum dimiliki oleh masing-masing pihak. Nasabah belum menyerahkan uangnya dan bank bahkan belum memiliki barangnya (rumah).</p>
<p>Ada contoh lain yang saya kutip dari buku “Understanding Islamic Finance” dan menurut Muhammad Ayub telah menjadi praktik bank syariah dewasa ini, yakni “rollover” dalam Murobahah. Dalam kasus kegagalan piutang Murobahah-nya, bank memasuki kontrak Murobahah baru guna memberikan waktu yang lebih panjang kepada nasabahnya sekaligus dapat mengenakan jumlah yang lebih besar pada piutang mereka.</p>
<p>Semua Dewan Pengawas Syariah dan ulama melarang praktik-praktik seperti ini dan pengembalian sebesar berapa pun dari prinsip <em>rollover</em> Murobahah tidak dianggap sebagai pendapatan yang sah bagi bank.  </p>
<p><strong>Rekomendasi</strong></p>
<p>Sebagai salah satu solusi yang dapat ditawarkan dalam menciptakan rasa aman dan tentram bagi nasabah terhadap akad yang dilakukannya dengan perbankan syariah, penulis sangat sepakat dengan usulan bahwa Dewan Pengawas Syariah Nasional akan memberlakukan fatwa syariah compliance per-akad. Hal ini mengingat bahwa fatwa yang ada sekarang masih bersifat global dan belum dapat diterapkan secara kasus per kasus.</p>
<p>Namun demikian, tentunya hal ini masih memerlukan kajian yang lebih mendalam dari segenap ahli-ahli keuangan syari&#8217;ah mengenai efisiensi dan efektifitas implementasinya di lapangan. Selain itu, penulis juga sangat sepakat apabila perbankan syariah akan diberikan <em>assessment</em> terhadap kepatuhan dan kesesuian mereka terhadap aturan dan kaidah syariah melalui pemberian Indeks Kepatuhan Syariah. Sehingga nasabah sebagai konsumen jasa keuangan merasa aman dan lebih tentram lagi dalam menjalankan transaksi keuangan sesuai dengan keyakinannya.<br />
(bersambung)</p>
<p>Nantikan tulisan kedua:<br />
Menilik Pembiayaan Syariah di Indonesia, Studi Kasus Pembiayaan Perumahan<br />
Bagian II: Analisa Akad Pembiayaan yang Lazim Digunakan dan Ilustrasi Perhitungan</p>
<p>Referensi:<br />
Ayub, Muhammad. <em>Understanding Islamic Finance</em>. PT Gramedia Pusataka Utama. Jakarta: 2009.<br />
Wahyudi, Imam. <em>Bahan Ajar Fiqh Mua’amalah Lanjutan</em>. FEUI. Salemba: 2010<br />
Ibnu Hajar, Al Asqolani. <em>Fathul Bari</em>.<br />
Sabiq, Sayyid. <em>Fiqh Sunnah</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=199&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/01/09/menilik-pembiayaan-syariah-di-indonesia-studi-kasus-pembiayaan-perumahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/karedenan2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">karedenan2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/slide1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Slide1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepucuk Surat Cinta untuk Bunda</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/01/04/sepucuk-surat-cinta-untuk-bunda/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/01/04/sepucuk-surat-cinta-untuk-bunda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 14:22:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Bunda, bagaimana kabarmu di penghujung malam hari ini? Adakah setiap dentuman waktu kan selalu menjelma dalam rupa doa teriring cinta Sungguh aku rindu dekapan hangat dan belaian manja itu Dan sungguh aku pun terus pula berharap bahwa dirimu adalah sejumput jiwa yang tenang, yang setiap saat selalu berada dalam rengkuh cinta dan perlindungan-Nya&#8230; Bunda, tahukah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=194&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bunda, bagaimana kabarmu di penghujung malam hari ini?<br />
Adakah setiap dentuman waktu kan selalu menjelma dalam rupa doa teriring cinta<br />
Sungguh aku rindu dekapan hangat dan belaian manja itu<br />
Dan sungguh aku pun terus pula berharap bahwa dirimu adalah sejumput jiwa yang tenang,<br />
yang setiap saat selalu berada dalam rengkuh cinta dan perlindungan-Nya&#8230;</p>
<p>Bunda, tahukah engkau saat ini aku tengah asyik membaca suratmu yang lalu<br />
Tatkala kau berbincang tentang jutaan harapan mu padaku<br />
Ah, Bunda. Aku hanya bisa melirih dalam setiap bait dan rangkai kata mu<br />
Betapa aku sangat beruntung memiliki orang yang membesarkanku dalam cinta </p>
<p><a href="http://lookingtheearth.files.wordpress.com/2010/12/ibu.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/ibu.jpg?w=300&#038;h=260" alt="" title="ibu" width="300" height="260" class="alignleft size-medium wp-image-195" /></a>  </p>
<p>Dan aku pun terpikir bahwa masih saja diriku serupa anakmu yang durhaka<br />
yang setiap kali kau menelpon ku, aku selalu berlagak tengah sibuk mengurus dunia.<br />
Aku yang zhalim karena begitu asyik dengan teori-teori kuliah ekonomi di kepalaku<br />
Aku yang merugi karena nafas waktu ku terengah-engah oleh tarikan pekerjaan &amp; organisasi<br />
Hingga panggilanmu acap kali tak terdengar jelas dan kusahuti dengan kata, “Ah..”<br />
<span id="more-194"></span></p>
<p>Bunda sayang,<br />
mengapa waktu begitu lekas bergulir membentuk keriput di wajahmu,<br />
menguras sendi-sendi tenagamu<br />
dan membentuk gurat-gurat di keningmu<br />
Namun satu hal yang tak kan lekang, yakni pancaran kecantikan dan ketangguhanmu..<br />
Karena kau-lah wanita tangguh itu yang telah membesarkan kami<br />
Kau-lah yang mengajarkan kesahajaan dan keberanian<br />
Ketika dalam khilafnya akhirnya Ayah terseret dalam pusaran dunianya hingga kini<br />
Dalam kesigapan kau tampil sebagai sosok Ibu sekaligus Ayah</p>
<p>Aku tak pernah bisa lupa<br />
Bagaimana dengan tegasnya kau menolak beberapa lelaki yang mencoba mendekatimu<br />
Dan kau pun lebih memilih dua bocah lelaki kecilmu<br />
Untuk kau besarkan dan kau ajarkan kepada mereka hakikat makna kehidupan</p>
<p>Kau jua yang mengajarkan bagaimana caranya menjadi lelaki sejati kepada kami<br />
Kau juga yang melarang kami untuk meneteskan air mata<br />
“Bunda paling benci melihat lelaki menangis” ujarmu ketika itu<br />
Sebuah pesan yang ku pegang teguh hingga kini,<br />
meskipun tanpa sengaja telah beberapa kali ku langgar</p>
<p>terutama ketika kau putuskan untuk menjual istanamu satu-satunya<br />
untuk membiayai pendidikan dua bocah lelakimu yang telah beranjak dewasa<br />
aku tak pernah sanggup untuk tidak menangis ketika itu</p>
<p>kini kau telah mampu membuktikan kepada mereka yang mencemoohmu dulu<br />
bahwa katanya bocah lelaki kecil mu ini tak kan pernah bisa sampai di bangku kuliah<br />
toh ternyata mereka salah besar kan Bunda,</p>
<p>kini bocah lelaki kurus ini tengah meniti hari meraih mimpi masa kecil-nya<br />
belajar di universitas terbaik di negeri ini<br />
pada sebuah fakultas yang konon selalu melahirkan lulusan Menteri<br />
meskipun dengan itu harus kutebus dengan menjejal sisa-sisa waktu<br />
juga membelanjakan seperempat gajiku itu setiap bulan<br />
yang mungkin saja bisa kugunakan untuk mencicil istana baru untuk mu</p>
<p>Ah, kau memang begitu anggun tuk tak pernah risaukan semua itu,<br />
yang kau hadirkan justru selusin dukungan pada setiap keputusan dan mimpi-mimpi ku<br />
bahkan ketika kuputuskan tuk mengurungkan saja prosesi wisuda diploma ku dulu<br />
walau pun sedih tak bisa membuat mu menyaksikan upacara sakral itu<br />
namun ruang-ruang kedewasaan dan logika akan realitas telah khatam kau ajarkan padaku </p>
<p>     <em>“bunda, dari pada untuk wisuda baiknya uang yang ada digunakan untuk mengurus dokumen pemberkasan   CPNS saja, toh tidak diwisuda pun aku tetap telah lulus dari Sekolah Tinggi ini” ungkapku dulu</em></p>
<p>Juga tentang cerita prestasi gemilang adik<br />
Pelajar teladan Jawa Barat dan peserta olimpiade sains nasional<br />
Tak heran Institut terbaik di negeri ini, FTI ITB pernah disinggahinya meski hanya 2 bulan<br />
Walau pada akhirnya kau menolak keseriusan ku tuk menanggung semua biaya kuliahnya<br />
Dan fatwa keluarga akhirnya menuntunnya untuk mengikuti jejak ku di sekolah tinggi kedinasan.<br />
Toh semua itu tak sedikit pun mengurangi bukti ketangguhan dan keseriusan mu membesarkan bocah-bocah lelaki mu itu</p>
<p>Bunda sayang,<br />
aku pun tak kan pernah bisa melupakan kalimat sanjungan mu yang selalu membesarkan hati<br />
memberikan disposisi kedewasaan dan ruang-ruang kematangan berpikir<br />
Meskipun jiwa kekanak-kanakan sepertinya tak mau lekang juga dari diri ku<br />
“Anak lelaki yang paling ku percaya” ucap mu pada ku suatu ketika<br />
Aku memang tak pernah bisa mengalahkan adik yang kau semat dengan gelar “Anak lelaki yang paling bisa kau andalkan” karena adik memang selalu dekat di sisi mu<br />
Namun kata-kata “percaya” itu lah yang membuat ku semakin  percaya diri mengeksekusi berbagai pilihan-pilihan hidup </p>
<p>Jika suatu saat aku pergi lagi meninggalkanmu, apakah Bunda akan ikut kecewa?<br />
Tiga tahun sekolah menengah aku berpisah darimu,<br />
lalu tiga tahun yang memayahkan kembali menipiskan kehangatan itu lagi.<br />
Aku selalu mengira bahwa Bunda berharap setelah itu aku kembali dan menyemai semua peluh yang pernah aku jalani bersamamu.</p>
<p>Namun aku salah,<br />
Ternyata kau malah mendorong ku untuk bertumbuh lebih cemerlang lagi,<br />
Dan mengepakkan sayap-sayap kecil ku yang dulu itu melintasi 7 samudera dan 5 benua</p>
<p>Hingga suatu saat aku pun paham bahwa keputusan Bunda menyekolahkanku membuka cakrawala baru yang mungkin menyanjungkan lubuk hati mu</p>
<p>Seperti halnya semangat kakek dulu<br />
Masih jelas terekam dalam memori ku ketika kau tunjukkan artikel awal tahun 80-an di majalah usang itu<br />
Tentang keperkasaan kakek melawan kepongahan Jakarta<br />
Tentang ketangguhannya mengayuh becak<br />
Tentang idealisme-nya menyekolahkan ke tiga anaknya hingga tingkat SLTA<br />
Sebuah barang mewah tentunya bagi rakyat jelata dikala itu<br />
Ah, rasanya aku jadi mengerti bagaimana Kakek dulu juga telah menempa mu menjadi wanita perkasa</p>
<p>Bunda sayang,<br />
Aku mohon restu mu untuk menjelajah benua lebih jauh lagi,<br />
melintasi samudera, dan melihat dunia yang lebih megah dan eksotis daripada negeri ini.<br />
Seperti pesanmu, aku ingin datang ke tempat di mana menara ilmu tertancap megah dan menjulang tinggi,<br />
aku selalu berharap bisa menjadi bagian darinya. </p>
<p>Bunda, apakah kau akan kecewa?<br />
Bahwa aku takut tak mampu menyelimutimu dalam dingin malam<br />
dan menyuapimu makan pagi saat gigimu tak kuasa lagi mengunyah?<br />
Ah, aku merasa terlampau lancang seperti si Malin.<br />
Tapi, tahukah Bunda bahwa hatiku pun bergelegak</p>
<p>Adakah sesuatu yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain melihat anak-anaknya tumbuh sempurna, jauh lebih sempurna dari orang-tuanya? </p>
<p>Dan adakah sesuatu yang lebih membahagiakan bagi seorang anak selain melihat orang-tuanya bangga dan bahagia melebihi kebahagiaan dan kebanggaan dirinya sendiri? </p>
<p>Meski ia tahu persis bahwa matahari tak pernah meminta cahayanya kembali dari bumi<br />
Dan langit tak pernah pula meminta air hujannya dikembalikan padanya.</p>
<p><a href="http://archive.kaskus.us/thread/2616308"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/20241__468x_nekohealing-17.jpg?w=300&#038;h=239" alt="" title="20241__468x_nekohealing-17" width="300" height="239" class="alignright size-medium wp-image-196" /></a></p>
<p>Bunda sayang,<br />
Tak lupa kau pun mengajarkan kami tentang cinta<br />
Ketika suatu ketika ku bertanya padamu dari mana kah cinta datang?<br />
Kau pun menjawab </p>
<p>      <em>“Ia tak datang dan mengalir dari manapun, Ia memancar dari setiap kebaikan yang kau penuhi, dari setiap kebenaran yang kau ucapkan, dan dari setiap janji yang tak kau ingkari.” Itulah cinta, </em></p>
<p>Dan apa Bunda tahu?<br />
Aku menyalinnya dalam batinku untuk aku sampaikan kepada pujaan hatiku.<br />
Nanti, jika saatnya telah tiba dan restumu telah sempurna.<br />
Kan ku katakan pula padanya:</p>
<p>     <em>“Bahwa aku tak punya apa-apa untuk  kau banggakan, kecuali sedikit keterpesonaan kepada kebaikan, itu pun perkara yang telah Tuhan-ku anugerahkan dan Ibunda ku ajarkan”.</em></p>
<p>Kelak jika aku menikah, aku berharap istriku mampu bersikap sepertimu.<br />
kukuh tegar berpendirian<br />
tajam menghujam bernasihat<br />
namun indah dan lembut bertutur,<br />
Bolehkah, Bunda? </p>
<p>Ah, lagi-lagi Bunda mempercayakan segala sesuatunya pada pilihan ku<br />
Kriteria mu pun ternyata hanya satu, “selama kau tentram kepadanya”<br />
Sebuah kata sederhana dan bersahaja namun sarat makna<br />
Aku pun baru saja mengerti ketika membuka kembali lembaran kitab suci<br />
bahwa kata sederhana ini ternyata telah merangkumkan semuanya<br />
“Li taskunuu ilaiha”, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya.</p>
<p>Dan sekali lagi kau mengajarkan makna yang begitu dalam Bunda</p>
<p>Maka aku pun mengerti bahwa tak perlu lah mencari karakter yang serupa<br />
Karena itu adalah kemuskilan, tak ada manusia yang memiliki karakter sama di dunia ini</p>
<p>Tak perlu pula ku rumitkan dengan bertanya visi-misi nya<br />
Sebab acap kali visi dan misi hanya selarik kata-kata nan elok menyastra<br />
Toh ini juga bukan dagangan kampanye pemilihan umum bukan</p>
<p>Ketenteraman telah menjadi bahasa batin yang hanya bisa dimengerti sepasang jiwa<br />
Jiwa yang telah dipasang-pasangkan oleh Tuhannya dengan cara seksama<br />
Tanpa sempat kita tahu bagaimana detail ceritanya</p>
<p>Bisa jadi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, layaknya proklamasi republik ini<br />
Atau jangan-jangan dalam rupa perlahan-lahan dan sedemikian halus seiring dentuman waktu<br />
Layaknya gugurnya dedaunan yang tak pernah dapat kita terka kapan kejadiannya<br />
Demikianlah jiwa itu pun tak pernah tahu kapan persisnya mereka telah jatuh cinta</p>
<p>Dan kau, Bunda, aku berharap kau tersenyum membacanya.<br />
Menyorotkan rona bahagia bahwa kini kau yakin segala pesan mu telah ku resapi maknanya<br />
Dan aku, aku rindu, teramat rindu… Padamu Bunda.<br />
Dan bila aku ditanya apa lagi yang aku inginkan darimu,<br />
Jawabku hanya, “Doa dan Keridho’anmu Bunda”</p>
<p>Jakarta, 29 Muharram 1432 H / 4 Januari 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=194&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2011/01/04/sepucuk-surat-cinta-untuk-bunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/ibu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ibu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2011/01/20241__468x_nekohealing-17.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">20241__468x_nekohealing-17</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Catatan untuk Konsumen dan Pelaku Bisnis on-line</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/29/hal-yang-perlu-diperhatikan-dalam-transaksi-e-commerce-sebuah-catatan-untuk-konsumen-dan-pelaku-bisnis-on-line/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/29/hal-yang-perlu-diperhatikan-dalam-transaksi-e-commerce-sebuah-catatan-untuk-konsumen-dan-pelaku-bisnis-on-line/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 02:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari seorang kolega berkunjung ke kantor untuk mengadakan pertemuan informal dengan atasan dan kami. Beliau adalah salah seorang Ibu Asisten Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang cukup akrab dengan kami para pelaksana di Kemenkeu. Si Ibu baru saja kembali dari pertemuan ASEAN-OECD Workshop on Regulatory Reform di Hanoi Vietnam beberapa waktu lalu. Cerita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=185&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari seorang kolega berkunjung ke kantor untuk mengadakan pertemuan informal dengan atasan dan kami. Beliau adalah salah seorang Ibu Asisten Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang cukup akrab dengan kami para pelaksana di Kemenkeu. Si Ibu baru saja kembali dari pertemuan ASEAN-OECD Workshop on Regulatory Reform di Hanoi Vietnam beberapa waktu lalu. </p>
<p>Cerita yang menarik untuk dibagi disini bukanlah tentang isi workshop tersebut, melainkan sisi menggelitik dari pengalaman beliau manakala harus menelusuri pelosok kota Hanoi di tengah malam demi menemukan Hotel yang ‘manusiawi’ dan terjangkau dari sisi budget. Lho kok bisa? Memangnya tidak dipesan waktu masih di Indonesia.</p>
<p>Usut punya usut ternyata Beliau menjadi ‘korban penipuan’ reservasi hotel secara on-line lewat sebuah web penyedia jasa layanan reservasi hotel. Hotel yang dipesan dan sudah dibayarkan lewat transaksi kartu kredit itu, ternyata dinyatakan penuh ketika beliau sudah sampai disana, padahal waktu telah menunjukkan larut malam, sekitar pukul 22.00 waktu setempat. </p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/58482_ilustrasi_pencurian_kartu_kredit_300_225.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/58482_ilustrasi_pencurian_kartu_kredit_300_225.jpg" alt="" title="58482_ilustrasi_pencurian_kartu_kredit_300_225" width="300" height="225" class="alignleft size-full wp-image-186" /></a></p>
<p>Alhasil, beliau pun terpaksa ‘berkeliaran’ di jalan-jalan kota Hanoi untuk mencari hotel yang pas di hati. Maklum, hotel-hotel bintang 3 ke bawah di Hanoi kebanyakan terkenal dengan citra kumuh dan prostitusi terselubungnya. Untungnya ada staf KBRI yang bersedia mendampingi, dan hotel yang pas dihati pun ditemukan tepat pada pukul 00.30 waktu Hanoi.  <span id="more-185"></span></p>
<p><strong>Pelajaran</strong></p>
<p>Apa yang dialami oleh kolega saya tersebut bisa jadi pernah dialami oleh beberapa konsumen on-line (e-commerce) lainnya. Dalam hal ini konsumen menjadi korban ketidak-beresan vendor penyedia jasa. Alih-alih transaksi on-line memberikan manfaat kemudahan malah terjadi apa yang dalam terminologi fiqh mu’amalah disebut sebagai tadlis (penipuan) dan ghoror (ketidak jelasan informasi).</p>
<p>Karakteristik transaksi on-line dapat digeneralisasi sebagai berikut:<br />
1) ‘blind’, karena kita tidak dapat melihat siapa pihak penjualnya secara riil;<br />
2) borderless, karena dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja;<br />
3) dapat terjadi kapan saja dalam 24 jam dan 7 hari seminggu, dan<br />
4) pembayarannya biasanya selalu dilakukan di awal sebelum penyerahan barang/ jasa (non-instantaneous).  </p>
<p>Menilik karakteristik tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa memang melakukan transaksi on-line memiliki resiko dibandingkan transaksi konvensional. Walaupun kita juga tidak dapat menampikkan berbagai manfaat dan kemudahan-kemudahan dari adanya transaksi on-line tersebut.</p>
<p><strong>Pertumbuhan Bisnis On-line</strong></p>
<p>Meminjam istilah dari negeri Paman Sam, ‘perusahaan dot-com’ beberapa tahun belakangan memang tumbuh subur di seluruh dunia bahkan di Indonesia. Data yang saya kutip dari Forrester Research Press menyebutkan bahwa perusahaan yang sempat mengguncang perekonomian AS dengan fenomena ‘dot.com crisis’ ini memang memiliki angka pertumbuhan yang cukup fantastis. Pertumbuhan  Business to consumer- internet commerce di Amerika Serikat pada tahun 2004 mencapai 19% per tahun. Angka yang cukup tinggi bahkan apabila dibandingkan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto UKM di Indonesia tahun 2006 yang hanya sebesar 6,4% (Berita Resmi Statistik-BPS No.28/05, Th XI, 30 Mei 2005).  </p>
<p>Memang belum ada data konkrit serupa mengenai angka pertumbuhan e-commerce di Indonesia, namun melihat pertumbuhan dan perkembangannya dewasa ini, secara kasat mata saja kita berani mengajukan sebuah hypothesis bahwa moda transaksi on-line telah menjadi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat perkotaan yang pada umumnya memiliki tingkat pendidikan tinggi dan menginginkan kemudahan dalam bertransaksi. Bahkan transaksi on-line juga telah menjelma dalam wujud tren komunitas seperti halnya KASKUS dengan julukan khasnya “KASKUSER”.</p>
<p>Belum lagi banyak orang yang kemudian melirik bisnis on-line ini dengan membuat berbagai blog yang berisi jualan barang dagangan secara on-line. Tidak sedikit yang menggeluti bisnis on-line ini adalah para pegawai yang menginginkan penghasilan tambahan dengan waktu yang fleksibel.</p>
<p><strong>Penelitian Ilmiah</strong></p>
<p>Dalam ketertarikan penulis mencermati bisnis on-line ini, terlebih karena mengingat kasus yang menimpa kolega di atas dan banyaknya teman-teman yang telah menggeluti bisnis on-line, penulis menemukan sebuah jurnal penelitian ilmiah yang cukup dapat menyediakan rujukan informasi mengenai analisis perilaku keputusan konsumen dalam e-commerce. </p>
<p>Jurnal yang dimaksud berjudul “A trust-based consumer decision-making model in electronic commerce: the role of trust, perceived risk, and their antecedents” diterbitkan pada tahun 2007 dengan menyajikan hasil penelitian 3 orang peneliti dari 3 universitas yakni: Dan J. Kim, Associate Professor of Computer Information Systems-University of Houston Clear Lake; Donald L. Ferrin, Associate Professor of the Organisational Behaviour and Human Resource Group-Singapore Management University; dan H. Raghav Rao, Profesor pada Department of Management Science and Systems-State University of New York. </p>
<p>Penelitian ini mencoba menyusun sebuah model mengenai faktor-faktor apa saja yang memengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian secara on-line, dengan sebelas hypothesis yang diajukan peneliti. Pada intinya peniliti mengajukan model bahwa intensi/niat konsumen untuk membeli ditentukan oleh persepsi resiko transaksi (RISK), Kepercayaan konsumen kepada vendor (TRUST) dan persepsi manfaat yang diperoleh konsumen (BENEFIT).</p>
<p>Persepsi kepercayaan dan resiko (Trust and Risk) dipengaruhi oleh 3 hal yakni:<br />
1) experience-based berupa familiarity konsumen dengan vendor,<br />
2) Cognition-based berupa kualitas informasi yang disajikan, jaminan perlindungan privasi (seperti alamat email, nomor telepon, alamat rumah dll), dan jaminan perlindungan keamanan (seperti authentication, encryption, keamanan nomor kartu kredit, dll).<br />
3) Affect-Based berupa reputasi vendor dan adanya jaminan pihak ketiga (third-party seal) merupakan jaminan serupa sertifikat semisal dari bank, akuntan, lembaga konsumen, dll yang menegaskan kredibilitas vendor.</p>
<p>Hasil dari penelitian tersebut mengemukakan kesimpulan sebagai berikut:<br />
1) bahwa kepercayaan konsumen dan persepsi resiko memiliki pengaruh kuat dalam menentukan keputusan pembelian.<br />
2) Reputasi vendor, jaminan privasi, jaminan keamanan transaksi, kualitas informasi pada website berpengaruh secara kuat pada kepercayaan konsumen.<br />
3) Yang menarik bahwa ternyata kehadiran jaminan pihak ketiga pada vendor (third party seal) memiliki pengaruh yang kecil pada kepercayaan konsumen. </p>
<p>Jadi kalau bisnis on-line anda mau semakin maju, jangan kejar target penjualan dulu deh benahi dulu faktor-faktor di atas. Itu bukan kata ane Gan, itu kata bapak-bapak peneliti&#8230; he..he..he..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=185&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/29/hal-yang-perlu-diperhatikan-dalam-transaksi-e-commerce-sebuah-catatan-untuk-konsumen-dan-pelaku-bisnis-on-line/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/58482_ilustrasi_pencurian_kartu_kredit_300_225.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">58482_ilustrasi_pencurian_kartu_kredit_300_225</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Pohon Kelapa</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/27/belajar-dari-pohon-kelapa/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/27/belajar-dari-pohon-kelapa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2010 12:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[(Sebuah Refleksi dari Perilaku Organisasi Seorang Pegawai) “Belajar dari pohon kelapa” sebuah tema sederhana yang menjadi bahasan pertemuan pekanan kami di salah satu selasar Masjid Baitul Maal sekitar tiga tahun silam, menjelang prosesi wisuda dan pengumuman penempatan instansi kerja. Sebagai calon abdi Negara ketika itu, kami dihadapkan pada sebuah transformasi antara dunia kampus ke dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=178&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<em>Sebuah Refleksi dari Perilaku Organisasi Seorang Pegawai</em>)</p>
<p>“Belajar dari pohon kelapa” sebuah tema sederhana yang menjadi bahasan pertemuan pekanan kami di salah satu selasar Masjid Baitul Maal sekitar tiga tahun silam, menjelang prosesi wisuda dan pengumuman penempatan instansi kerja.</p>
<p>Sebagai calon abdi Negara ketika itu, kami dihadapkan pada sebuah transformasi antara dunia kampus ke dunia kerja yang masih asing dan penuh teka-teki. Doktrin yang sering dihembuskan ketika itu adalah,”PNS harus siap ditempatkan dimana saja”. Hingga pada akhirnya ketika kemampuan memilih unit eselon I tidak lagi menjadi <em>privilege</em> angkatan kami, kami pun menyiapkan mental untuk siap ditempatkan dimana saja.</p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/coconuttree_1600x1200.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/coconuttree_1600x1200.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Belajar dari pohon kelapa" title="coconuttree" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-179" /></a></p>
<p>Pohon kelapa adalah spesies tumbuhan yang unik, karena kita dapat menemukan habitatnya sejak dari tepi pantai nan terik, sampai ke daerah perbukitan nan sejuk. Kalau sejenak kita mentadaburkannya setidaknya kita akan menyimpulkan bahwa tumbuhan ini memiliki kemampuan adaptif yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang di tempat tumbuh yang memiliki karakteristik berbeda-beda.<br />
Keunikan lain dari tumbuhan ini adalah kemanfaatan yang dapat diambil manusia padanya sangat banyak dan beragam. Selain buah dan airnya, manusia pun dapat mengambil manfaat dari daunnya, batoknya, sabutnya, bahkan batangnya. Subhanallah.</p>
<p>Sampai di sini jelas pelajaran yang dapat kita ambil ada dua, mampu ditempatkan dimana saja dengan kemampuan adaptasi yang baik dan berikanlah kemanfaatan yang sebesar-besarnya dimana pun kita berada. Karena bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.</p>
<p><strong>Sebuah Anomali</strong> <span id="more-178"></span></p>
<p>Yang namanya manusia memang banyak maunya, meminjam istilah Adam Smith “unlimited wants” (keinginan manusia tak terbatas). Terkadang kita sendiri dibuat pening kalau memikirkannya. Contoh kecil ketika kuliah dulu saya sangat ingin sekali cepat lulus biar segera bekerja, punya penghasilan sendiri dan berhenti total dari minta uang ke orang tua. Ternyata ketika awal masa kerja, saya malah kepingin sekali kembali ke bangku kuliah, “dunia kuliah ternyata lebih menyenangkan daripada dunia kerja” pikiran pragmatis saya ketika itu.</p>
<p>Anomali terbesar yang pernah saya alami justru sejak awal memasuki dunia kerja dimana saya ditempatkan saya mengatakan kepada teman-teman ketika itu, “saya ingin pindah, saya tidak cocok berada di sini.” Gubbraaakkk… benar-benar sebuah anomali dari proses tadabbur terhadap pohon kelapa yang telah saya ketahui sebelumnya.</p>
<p><strong>Nasihat seorang kawan</strong></p>
<p>“Jika kamu tidak mencintai pekerjaan-mu, maka cintailah orang-orang di lingkungan kerjamu, jika kamu tidak mampu mencintai orang-orang di lingkungan kerja, maka cintailah gedung kantormu, barang-barangnya, dan suasananya. Jika tidak bisa juga maka cintailah perjalanan menuju kantormu. Jika masih tidak bisa, maka cintailah apapun yang mampu membuatmu mencintai pekerjaanmu.”</p>
<p>Kira-kira begitu nasihat teman saya kepada saya, namun entah mengapa justru keinginan saya untuk pindah pekerjaan semakin membesar setelah mendengarnya. Gubbraaakkk…</p>
<p>Beruntung saya masih mengingat dengan baik konsep tadabbur pohon kelapa di atas. Sehingga walaupun saya belum mendapatkan kepuasan kerja (job satisfaction) namun setidaknya saya masih bisa memenuhi apa yang dikatakan Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge dalam buku Organizational Behavior sebagai dependent variable dalam sebuah perilaku organisasi. Misalnya produktivitas yang dipandang baik oleh atasan, dan tingkat absenteeism (ketidak hadiran) yang rendah.</p>
<p>Sebab ternyata salah satu faktor yang sangat rentan dilakoni oleh orang yang tidak mendapatkan kepuasan kerja adalah absenteeism. Sebuah survey di Amerika mengungkapkan bahwa rata-rata kerugian langsung bagi para pemberi kerja AS dari ketidak hadiran tanpa izin adalah $789 dalam satu tahun per karyawan. Sedangkan di Inggris kira-kira $694 per tahun untuk satu orang karyawan. Di Swedia, rata-rata 10% angkatan kerjanya mengambil cuti sakit pada waktu tertentu.</p>
<p><strong>Jawabannya adalah “Muyyul”</strong></p>
<p>Sebuah antiklimaks yang indah manakala akhirnya Allah SWT memberikan jawaban atas anomali-anomali tersebut. Yup… jawabannya adalah kecenderungan individu ( “Muyyul” ). Artinya memang betul kita harus mau dan mampu ditempatkan dimana saja, akan tetapi bukankah Allah SWT sendiri telah menggariskan bahwa setiap manusia akan terlahir dengan memiliki kecenderungan-kecenderungan, bakat, dan potensi yang berbeda-beda.</p>
<p>Ada sebuah penilitian yang dilakukan oleh John Holland dimana dia mengembangkan sebuah kuesioner Vocational Preference Inventory yang memuat 160 jenis pekerjaan. Responden memberi tahu pekerjaan yang mereka sukai atau tidak, dan jawaban-jawaban tersebut digunakan untuk membentuk profil kepribadian. Alhasil lahirlah teori “Kesesuaian Kepribadian – Pekerjaan” (Personality – job fit theory).<br />
Holland menghadirkan 6 tipe kepribadian dan kesesuaian bidang pekerjaannya sbb:</p>
<p>1. Jenis pribadi realistis: lebih menyukai aktivitas fisik yang membutuhkan ketrampilan, kekuatan, dan koordinasi. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah mekanik, operator, pekerja lini perakitan, dan petani.</p>
<p>2. Jenis pribadi investigatif: lebih menyukai aktivitas yang melibatkan proses berpikir, berorganisasi, dan memahami. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah ahli eksakta, ahli ekonomi, dan pembawa berita.</p>
<p>3. Jenis pribadi Sosial: lebih menyukai aktivitas-aktivitas sosial. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah pekerja sosial, guru, konselor, psikolog klinis.</p>
<p>4. Jenis pribadi konvensional: lebih menyukai aktivitas yang diatur oleh peraturan rapih dan tidak ambigu. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah AKuntan, Manjer Perusahaan, Kasir Bank, juru tulis.</p>
<p>5. Jenis pribadi giat: lebih menyukai aktivitas verbal di mana terdapat banyak peluang untuk memengaruhi orang lain dan memperleh kekuasaan. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah Pengacara, agen real estate, humas, manajer bisnis kecil (UKM).</p>
<p>6. Jenis pribadi artistik: lebih menyukai aktivitas ambigu dan tidak sistematis, memungkinkan ekspresi yang kreatif. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah Pelukis, Musisi, Penulis, desainer interior.</p>
<p>Termasuk pribadi yang manakah anda?</p>
<p>Satu hal lagi sebelum kelupaan, kemampuan manusia yang membedakannya dengan makhluk Allah yang lain adalah kemampuan untuk membuat pilihan. Dan kelak kemampuan memilih ini lah yang juga akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Apakah kita akan cenderung untuk memilih jalan taqwa atau sebaliknya lebih cenderung untuk memilih jalan sesat (Istilah ALqur’annya Fujuroha wa taqwaha).</p>
<p>Untuk itu sebelum membuat pilihan-pilihan mintalah petunjuk-Nya, karena apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah.</p>
<p>Wallahu’alam</p>
<p>Referensi:<br />
Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge dalam Organizational Behavior </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=178&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/27/belajar-dari-pohon-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/coconuttree_1600x1200.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coconuttree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Memoar</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/16/sebuah-memoar/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/16/sebuah-memoar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 09:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Waktu sepertinya tak kan pernah bosan mengukir sejarah dan mendendangkan nyanyian perubahan Ia yang telah melahirkan Beliau, mereka, dia, bahkan kau dan aku Ia jua yang akhirnya mempertemukan kita dalam sebuah catatan peradaban dan memisahkan kita dalam alunan melodi kehidupan Ah sayang, Sungguh sayang aku bahkan tak pernah bisa mengingat Kapan pertama kali kita mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=174&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu sepertinya tak kan pernah bosan mengukir sejarah dan mendendangkan nyanyian perubahan<br />
Ia yang telah melahirkan Beliau, mereka, dia, bahkan kau dan aku<br />
Ia jua yang akhirnya mempertemukan kita dalam sebuah catatan peradaban<br />
dan memisahkan kita dalam alunan melodi kehidupan</p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/stan_041.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/stan_041.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="STAN_041" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-175" /></a></p>
<p>Ah sayang,<br />
Sungguh sayang aku bahkan tak pernah bisa mengingat<br />
Kapan pertama kali kita mulai bergenggaman tangan<br />
Mungkin ketika jaket biru tua dilekatkan di badan<br />
Atau mungkin ketika mengetuk pintu gerbang kampus biru untuk pertama kali </p>
<p>Aku hanya ingat ketika engkau dan aku berpeluh dalam sebuah asa<br />
Manakala barisan-barisan telah tersusun rapih<br />
Dan ratusan kepalan tangan menghujam angkasa<br />
Lantas kita pun berteriak lantang:<br />
	“Katakan Hitam, adalah Hitam !”<br />
	“Katakan Putih, adalah Putih !”</p>
<p>Tiga tahun kita menghabiskan waktu<br />
Menuliskan kata dalam cerita, cinta, bahagia, dan duka<br />
Merajut asa dalam keriangan canda<br />
Ah, betapa rasanya terlalu singkat bagi sebuah drama kehidupan</p>
<p>Aku bahkan tak pernah paham benar rupa gundah gulanamu<br />
Aku juga tak pernah bisa melukiskan wajah amarahmu<br />
Dalam benakku hanya ada secuil memori terekam<br />
Bahwa acuh mu yang seolah tak butuh itu adalah bahasa pendam yang tak mendendam<br />
Bahwa kernyit kening dan diam mu itu adalah wujud rasa dalam renungan</p>
<p>Biar kutitipkan saja sebuah sajak<br />
Untuk kau baca<br />
Dalam rupa bangga nan bersahaja<br />
Di balik semat nama abdi negara, pengusaha, maupun wiraswasta<br />
Maka ijinkanlah aku menuliskan satu alinea saja:</p>
<p>&#8216;<em>masihkah kau ingat bait-bait perjuangan. saat kepal tangan menghujam angkasa dan pekik lantang kita membahana. ‘katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih. wahai kalian yang rindu kemenangan, kemenangan nurani dan hati. menjunjung totalitas perjuangan. seluruh rakyat menanti baktimu. berbekal intelektualitas moral Indonesia tercinta ada di tanganmu</em>.’</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=174&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/16/sebuah-memoar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/12/stan_041.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">STAN_041</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melodi Hujan</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/11/09/melodi-hujan/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/11/09/melodi-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 09:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Partikel-partikel itu telah bertemu, menggumpal, dan menggelayut perkasa di atap langit. Kepekatannya menutupi temaram sang senja namun dengan nuansa kesyahduan sementara dingin mulai menyelimuti kolong langit Dengan penuh khidmat mereka telah menjelma rupa Mendung Dalam ketundukannya mereka telah berkumpul untuk menyelesaikan suatu perkara dari Tuhannya Burung-burung pun mulai berterbangan menyambut kedatangan Sang Mendung Burung hujan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=167&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Partikel-partikel itu telah bertemu, menggumpal, dan menggelayut perkasa di atap langit.<br />
Kepekatannya menutupi temaram sang senja namun dengan nuansa kesyahduan<br />
sementara dingin mulai menyelimuti kolong langit<br />
Dengan penuh khidmat mereka telah menjelma rupa Mendung<br />
Dalam ketundukannya mereka telah berkumpul untuk menyelesaikan suatu perkara dari Tuhannya </p>
<p>Burung-burung pun mulai berterbangan menyambut kedatangan Sang Mendung<br />
Burung hujan penduduk desa menyebutnya,<br />
Psarisomus dalhousiae ahli Biologi menamakannya,<br />
Mereka berputar dan menari dengan eloknya dibawah naungan Sang Mendung<br />
Desah dan kicauannya adalah bahasa puji-pujian bagi Pencipta semesta alam</p>
<p>Mendung masih menggelayut, seolah enggan beranjak dari langit senja.<br />
Mungkin juga ia sedang menunggu perintah Tuhannya,<br />
“Akan kemanakah ia harus pergi menjatuhkan peluhnya yang semakin berat itu” <span id="more-167"></span></p>
<p>Dengan wajah letih, tergesa-gesa Angin datang menjumpai Mendung di tepian senja<br />
“Aku sudah susuri setiap jengkal bumi. Tanah dan gunung-gunungnya,<br />
tepian pantai dan samudera birunya” katanya.<br />
“Ayo, turutlah bersamaku supaya setiap peluhmu jatuh ke seluruh negeri !”</p>
<p><a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/11/rain1.gif"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/11/rain1.gif?w=300&#038;h=225" alt="" title="rain" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-172" /></a></p>
<p>Mendung tersenyum. Ronanya sendu hingga tak bersuara<br />
Ia tahu kedatangan angin adalah untuk membantunya<br />
Namun ini pun suatu pertanda bahwa sudah semakin dekat saatnya<br />
Manakala ia harus meluruh, berpendar, dan mencair<br />
Memecah jutaan partikel yang telah melekat pada dirinya<br />
Menghadirkan hujan nan memesonakan </p>
<p>Tanpa ragu ia bersandar pada angin, karena ia tahu dirinya lemah<br />
Ia memeluk bahu sang angin dan merelakan langkahnya dituntun pergi ke mana saja.</p>
<p>“Kau tahu mengapa aku bergerak? Dari yang tinggi menuju yang rendah.<br />
Kau tahu mengapa aku berkeliling? Dari selatan ke utara, adakalanya dari timur ke barat.<br />
Karena keseimbangan memaksaku berpindah meski kadang memang tak ramah.”  Angin membuka kata kepada Mendung.<br />
“Dan kau tahu mengapa kau harus terjun?<br />
Karena puncak tak selamanya tertempuh. Karena batas tak selamanya terlampau.” Lanjutnya.</p>
<p>Mendung sedar tak pernah mampu menjelajah dunia.<br />
Langkahnya tak kan menempuh ujung selatan dan utara.<br />
Meski angin, sesungguhnya, menyediakan bahunya untuknya bersandar<br />
Bahkan ia menyediakan punggungnya untuk ditunggangi ke segala arah. </p>
<p>“Aku berhenti di sini,” kata Mendung.</p>
<p>“Biar aku mengantarmu ke sudut paling utara,” cegah Angin.</p>
<p>Mendung menggeleng, “Sudah sampai waktuku,” katanya.<br />
“Kau teruskan-lah perjalananmu bersama dengan Hujan yang sebentar lagi hadir menggantikan ragaku”</p>
<p>Tanpa banyak bicara, Mendung lantas merunduk penuh takzim.<br />
Ia pergi meluruh bersama gemuruh petir yang sambar-menyambar. </p>
<p>Angin kemudian melesat ke pucuknya tak berhingga<br />
Mencari kesetaraan, menghela kehampaan.<br />
Angin mengerti, jiwa yang menyublim tak serupa lagi perwujudannya.<br />
 Juga tak sama bentuk peristilahannya. </p>
<p>Kini hadirlah rinai-rinai syahdu itu,<br />
Tercurah-lah rahmat Tuhan semesta alam<br />
Terbasahilah tanah-tanah yang kering<br />
Tersiramilah jiwa-jiwa yang tandus, gersang dan hampir mati itu</p>
<p>Hujan pun tersenyum, ia telah lahir dari peluh-peluh Mendung yang tak kuasa lagi ditanggungnya<br />
Dengan bernyanyi kecil, Hujan melambaikan tangannya kepada Angin<br />
“Ayo bawa aku kesegenap pelosok bumi !” pintanya kepada Angin<br />
“Agar aku bisa membasahi setiap jengkal tanah dan gunung-gunungnya, tepian pantai dan samudera birunya” lanjutnya.</p>
<p>Angin menggenggam tangan Hujan,<br />
Sementara Hujan, dengan tersenyum manja member isyarat pada Angin<br />
untuk mengantarkannya perlahan ke belahan bumi bagian utara,<br />
Mereka berlari-lari kecil sambil mendendangkan lagu gembira<br />
Mereka saling bergenggaman tangan, Erat sekali,<br />
dan dengan penuh perhatian di bimbingnya Hujan menyelesaikan tugasnya</p>
<p>Hujan telah menjelma rupa bahagia lewat titik-titik air<br />
Meluncur teratur bak jutaan anak panah kecil yang dihempaskan Angin<br />
Menimbulkan alunan melodi syahdu dalam gemercik air<br />
Wanginya telah mengaroma dalam bebasahan dedaunan, </p>
<p>Di udara, alunan melodi itu pun bersambut oleh nyanyian burung-burung hujan<br />
Di bumi, tak kalah serunya orkestra katak di pinggir danau turut membahana<br />
Ikan-ikan pun menari-nari, dan tetumbuhan pun sama memuji dalam diam dan bahasa yang tak pernah kita mengerti.</p>
<p>Maka tatkala rinai itu telah berganti gerimis kecil dan Angin telah menyampaikan salam perrpisahan dengan Hujan<br />
Ketetapan Tuhan telah berlaku, perkara yang diputuskan telah dilaksanakan<br />
Oleh Mendung, Angin, dan Hujan serta gemuruh petir sebagai pertandanya </p>
<p>Angin pun melanjutkan perjalanannya<br />
Kali ini dengan wajah kuyu menanggung rindu<br />
Dalam singkatnya perjumpaan dengan Hujan dan Mendung,<br />
Angin telah menemukan keikhlasan, cinta, dan pengorbanan</p>
<p>Hingga ketika ia kembali ke khatulistiwa,<br />
dijumpainya hijau di mana-mana, wewarna bunga-bunga nan merekah menyebarkan ranumnya</p>
<p>Angin pun menjelma gemuruh yang menampar-nampar gembira.<br />
“Ke manakah hujan yang menumbuhkan kalian?” tanyanya<br />
“Katakan padanya, aku merindukannya !” pintanya.<br />
“Rindu macam apakah sebenarnya?” dedaunan dan bebungaan sama bertanya keheranan<br />
“Seperti jiwa kalian yang tumbuh dari kematian, aku merindukannya.”<br />
Katakan padanya. Katakan padanya !</p>
<p>Untuk mereka yang selalu terinspirasi oleh kesyahduan Hujan dan keberkahan yang dibawanya<br />
Allohumma Shoyyiban Naafi’an, Amiin</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=167&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/11/09/melodi-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/11/rain1.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">rain</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Hanya Ingin Tumbuh Cinta</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/09/16/aku-hanya-ingin-tumbuh-cinta/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/09/16/aku-hanya-ingin-tumbuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2010 06:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah pada suatu hari ramai nian orang membicarakan cinta Ia menjelma bak riuh rendah kicauan beburung di pagi hari Menelisik ke dalam rasa setiap insan yang merindukan kehadirannya Kabarnya tersiar diterbangkan angin ke sesudut bumi hingga ke tepian pantai Menerobos dalam seluk beluk pekatnya belantara Sinarnya elok memesona menghampiri penduduk negeri Apa pasal… Oh, rupa-rupanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=156&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah pada suatu hari ramai nian orang membicarakan cinta<br />
Ia menjelma bak riuh rendah kicauan beburung di pagi hari<br />
Menelisik ke dalam rasa setiap insan yang merindukan kehadirannya<br />
Kabarnya tersiar diterbangkan angin ke sesudut bumi hingga ke tepian pantai<br />
Menerobos dalam seluk beluk pekatnya belantara<br />
Sinarnya elok memesona menghampiri penduduk negeri<br />
<a href="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/09/seeds.jpg"><img src="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/09/seeds.jpg?w=300&#038;h=225" alt="benih yang mulai tumbuh" title="seeds" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-157" /></a></p>
<p>Apa pasal… <span id="more-156"></span><br />
Oh, rupa-rupanya ramai kenduri cinta di bulan ini menjadi lantaran<br />
Karena ikatannya kelak menjadi kokoh, suci, lagi sakral<br />
Berharap benih-benihnya bermekaran<br />
Agar akar-akarnya menghujam mencengkram bumi, hingga bangunannya tak kan pernah terpental<br />
Sementara pucuk-pucuknya indah, dan megah, lagi memesonakan </p>
<p>Sampai suatu ketika kau pun bertanya…<br />
“Mengapa sepasang mata yang tak pernah bersua, bisa saling jatuh dan mencinta?”<br />
Aku pun tersipu, lalu ku buang ragu dan malu, agar mantap ku menjawabnya<br />
Sebuah keajaiban yang barangkali tengah kau herankan keadaannya<br />
Bahwa tidakkah kau ingat ada yang menggenggam hati-hati manusia<br />
Tiada satu hal pun yang terbersit di dalam dada<br />
Melainkan Dia mengetahuinya<br />
Dia-lah Yang Menghimpunkannya, Karena Dia Sang Maha Cinta </p>
<p>Ah, lagi-lagi kau bicara tentang Cinta…<br />
Sebuah kata sarat makna, namun sulit dicerna<br />
Terkadang sulit pula ia dinalar dengan logika, apalagi hanya lewat sebuah karya sastra<br />
Ia rasa yang mampu menjelma dalam karsa, dan mewujudkan sebuah karya<br />
Ia hadir bak setetes embun bagi bongkah-bongkah jiwa manusia<br />
Namun jangan sekali-kali kau nodai ia<br />
Sebab aku khawatir, jangan-jangan ia hanya akan menjadi lelaku absurd dari para pecinta </p>
<p>Hingga sampai-lah aku pada suatu ketika<br />
Dimana akhirnya giliran mereka yang bertanya<br />
Kapankah giliran-ku kan tiba ?<br />
Maafkan aku kawan, sebab kali ini agaknya pendapatku berbeda<br />
Karena keluhurannya, ku katakan bahwa aku tak ingin jatuh cinta</p>
<p>“Mengapa ?” Itu tanya mereka<br />
Karena tak selayaknya cinta itu jatuh, apalagi membuat seseorang jatuh karenanya<br />
Namun, toh itu bukan berarti bahwa aku tak punya cinta<br />
Kukatakan kepadamu, bahwa aku hanya tak ingin jatuh cinta<br />
Sebab yang kuinginkan adalah tumbuh cinta</p>
<p>Biarkan-lah benih-nya kokoh tertanam<br />
Berharap akarnya menancap dan menembus hingga ke bumi lapis ke-tujuh<br />
Agar batangnya menjulang tiap waktu, dalam cerahnya hari maupun kelamnya malam<br />
Sementara rerimbun dedaunannya teramatlah elok untukku berteduh<br />
Pohonnya pun terus bertumbuh, disirami kerinduan dalam naungan rembulan malam<br />
Ditemani kesyahduan yang membuat jiwa-ku semakin kukuh, bukannya malah menjadi rapuh</p>
<p>Maka biarlah kutuliskan sendiri kisah-ku<br />
Ketika aku hendak memilih rahim tempatmu bertumbuh beraroma<br />
Ketika aku mulai mencari seribu pasang terbaik untuk menggapaimu<br />
Yang setiap kakimu menendang, berkatalah ia, “Hilanglah duka, datanglah cinta”<br />
Hingga dapat kuhirup keberkahan wewangian surgawi dalam belukarnya duniawi bersamamu</p>
<p>Berharap ia akan menjelma dalam rupa embun dan matahari<br />
Yang menyucikan jiwa lagi menyejukkan nurani<br />
Namun juga menghangatkan disatu sisi<br />
Dan biarkan ku tuangkan saja kisah ini dalam bait-bait puisi </p>
<p>Puisi yang kan mampu mengasah penaku setajam pedang di ujung jemari<br />
Menguak kedalaman relung nurani, simpati, bahkan empati<br />
Menahan amarahku segemulai kupu-kupu menari<br />
Mengubah kecut dan masamnya semerbak mewangi kembang melati </p>
<p>Kanpandoe<br />
Jawaban atas mereka yang selalu bertanya “kapan” dan “siapa”<br />
(6-7 Syawal 1431 H)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=156&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/09/16/aku-hanya-ingin-tumbuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kangpandoe.files.wordpress.com/2010/09/seeds.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">seeds</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islamic Calendar</title>
		<link>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/08/24/islamic-calendar/</link>
		<comments>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/08/24/islamic-calendar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 12:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kangpandoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kangpandoe.wordpress.com/2010/08/24/islamic-calendar/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=155&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bHQ9MTI4MjY1MTEwODM*NyZwdD*xMjgyNjUxMjU*OTgxJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJTNhJTIwc21pbGUm/bj13b3JkcHJlc3MmZz*xJm89YjJiYTJlMTY*Mjk3NDI4YThiYmNmODQwZDdjMTFiZGYmb2Y9MA==.gif" />
<div style="text-align:center;width:140px;height:160px;float:right;margin:0 auto;"><iframe frameborder="0" width="148" height="168" src="http://wpcomwidgets.com/?width=140&amp;height=160&amp;src=http%3A%2F%2Fwww.widgipedia.com%2Fwidgets%2Falhabib%2FCute-Little-Muslim---Hijri-Calendar-2833-8192_134217728.widget%3F__install_id%3D1282651030422%26__view%3Dexpanded&amp;quality=best&amp;flashvars=%26dayAdd%3D0%26cal%3Dtrue%26rb%3D1%26ak%3D2%26jb%3D%26gig_lt%3D1282651108347%26gig_pt%3D1282651254981%26gig_g%3D1%26gig_n%3Dwordpress&amp;loop=false&amp;wmode=transparent&amp;menu=false&amp;allowscriptaccess=sameDomain&amp;_tag=gigya&amp;_hash=f4105989ef65b1908b377caf793d2ea6" id="f4105989ef65b1908b377caf793d2ea6"></iframe></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kangpandoe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kangpandoe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kangpandoe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kangpandoe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kangpandoe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kangpandoe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kangpandoe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kangpandoe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kangpandoe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kangpandoe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kangpandoe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kangpandoe.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kangpandoe.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kangpandoe.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kangpandoe.wordpress.com&amp;blog=3187475&amp;post=155&amp;subd=kangpandoe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kangpandoe.wordpress.com/2010/08/24/islamic-calendar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a93d373f3f5671d8a4d6fdd3c4034065?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kangpandoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bHQ9MTI4MjY1MTEwODM*NyZwdD*xMjgyNjUxMjU*OTgxJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJTNhJTIwc21pbGUm/bj13b3JkcHJlc3MmZz*xJm89YjJiYTJlMTY*Mjk3NDI4YThiYmNmODQwZDdjMTFiZGYmb2Y9MA==.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
