Kangpandoe’s Weblog

April 7, 2008

Nikah Dini ! Siapa Sie yang Gak Mau ?!

Filed under: Artikel — kangpandoe @ 10:00 am

Klo ngebahas masalah satu ini, ampun deh gak bakalan ada habis-habisnya, sumpeh. Apalagi buat para lajang dijamin ni masalah yang selalu hangat, aktual, dan menarik plus bakalan bikin kamu betah berjam-jam cuma buat ngomongin ini masalah.

Di tulisan ini saya gak mau bicara macem2 tentang nikah dini coz buku-buku yang ngebahas itu udah banyak buanget alias udah bejibun. Cuma ada satu hal ni yang menurut-ku menarik untuk dibahas, yaitu gimana kita melihat nikah dini dari sudut pandang dan bahasa yang berbeda dari apa yang sering dipaparkan oleh buku-buku tersebut, serta menguak berbagai fakta lapangan yang terjadi akibat maraknya propaganda tentang nikah dini.

Ada dialog yang lucu banget antara aku dan temen sekosku yang kuliah di FK UI tentang topik yang satu ini. Bermula dari kabar akan menikahnya kakak kelas kami di SMA dulu ( aku dan temenku ini dulu satu SMA en satu organisasi DKM alias Rohis ) terjadilah dialog ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, namun di ujung-ujungnya ada beberapa kesepakatan atas pembahasan Kami tersebut. Begini ceritanya :

(T) :  Ndu kapan mau nyusul nikah, nunggu apalagi kerjaan udah punya?

(A) : Nikah itu bukan urusan satu-dua hari lho Min, dibalik itu terselip tanggungjawab yang besar. Aku sie awalnya pingin nikah setahun setelah wisuda tapi kemarin dah bilang ke mamah belum diijinin aku harus S-1 dulu syaratnya. Kamu sendiri kapan hayoo? Kan udah S.Ked tinggal nunggu gelar dokternya…

(T) : Aku sie dirumah udah ditawarin beberapa calon sama orang tua ada yang sekarang kuliah di kedokteran di bandung, ada yang kuliah di UNJ dan ada satu lagi yang kuliah di Kebidanan. Tapi ku bilang nanti dulu coz aku juga belum siap untuk nikah planningku untuk nikah 3 tahun lagi.

(A) :   Klo aku dulu waktu mau lulus dari STAN, kakak sepupuku itu suka ngelobi mamah katanya, “Bu’le nanti sebelum penempatan ke daerah disuruh nikah aja dulu, kan lebih enak klo pas penempatan itu udah bawa temen dari sini daripada nyari disana…ntar ta cariin deh gampang.” Eh ternyata aku penempatan di Jakarta.

(T) :   Jadi, gimana nie kapan nikahnya?

(A) :   Beberapa waktu lalu Muroby sempat bilang ke forum masalah ini, kata beliau “Karena di STAN nikah dini dianggap sebagai suatu prestasi tersendiri bagi ikhwan-akhwat saya tidak ingin kalian terbawa euphoria seperti itu dan menonjolkan semangat untuk nikah dini tapi menomorduakan planning yang matang karena nikah itu bukan urusan satu-dua hari saja akhi.” Beliau menambahkan “ Saat ini sebenarnya kalian dihadapkan pada pilihan antara nikah dulu atau pengembangan diri dulu, tidak semua orang yang nikah dini itu bisa mensejajarkan pengembangan dirinya lho. Sering saya menemukan orang yang menikah dini justru pengembangan dirinya menjadi terbengkalai dan aktivitas dakwahnya menjadi kendur. Ini bukan berarti saya kemudian melarang antum semua untuk nikah dini, hanya saja tolong di review lagi apa hukum nikah bagi antum saat ini? Sudahkah wajib atau jangan-jangan sunnah saja belum?”

(T) :  Klo aku dulu sempet kepikiran mau nikah sie, tapi nikahnya itu untuk menghalalkan pacarannya dulu… ya jadi aktivitas setelah nikahnya itu layaknya orang berpacaran aja, masih tinggal dirumah masing-masing, kuliah tetep jalan, dan tiap week end bisa jalan kemana-mana berdua Tapi, waktu kutanya ma Ustadz aku malah diomelin itu makruh katanya “Kamu kok mau enaknya aja.”

(A) :   Walah kok pemikirannya sama sieh, aku juga dulu pingin banget nikah dini supaya menghalalkan pacarannya dulu aja coz secara kesiapan menjadi orang tua kayanya belom siap nih wong jalan kemana-mana aja masih suka dipanggil Ade’

(T) :  Hahaha

(A) :  Eh Min, ternyata rumah tangga ikhwan-akhwat ada juga lho yang mengalami krisis perceraian?

(T) :   Ah, masa sih, masa kayak gitu?

(A) :   Iya, awalnya juga aku mikirnya ikhwan-akhwat tu saling menerima, sabar dan sebagainya tapi aku diceritaain kakak sepupuku di pondok gede. Dia sering jadi konsultan pernikahan untuk ikhwan-akhwat katanya dia sering nemuiin kasus-kasus perceraian atau keretakan rumah tangga di kalangan ikhwan-akhwat.

(T) :  Wah, penyebabnya apa Ndu?

(A) :  Rata-rata ya hal-hal manusiawi seperti masalah ekonomi, masalah keluarga, emosi yang masih labil karena nikah dini belum didukung persiapan yang optimal…de el el

{ Kesepakatan pertama ‘nikah memerlukan planning yang mantap dan saat ini hukum nikah bagi kami belum wajib’ }

(T) :  Ndu klo kamu nikah nanti rencananya ta’aruf lewat murobbiy ato gimana?

(A) : Aku pernah nanya ke Murobi sie tentang best practice-nya, jawabannya tidak harus lewat Murobiy. Klo dulu memang harus lewat Murobiy karena jumlah kader masih sedikit dan kualitas kader perlu dijaga. He..he..jadi kayanya aku klo udah siap bakal ngomong langsung ke orangnya klo orangnya udah oke langsung menghadap ke orang tuanya.

(T) :  Wah, sama Ndu aku juga pinginnya kaya gitu…kan sebenarnya yang punya hak adalah orang tuanya.

(A) :   Iya bukankah Hasan Bashri pernah melamar Rabi’ah Al Adawiyah secara langsung, dan Sahabat Abdurrahman bin Auf r.a. melamar Ummu Hakim binti Qarizh rh.a secara langsung.

{ Kesepakatan kedua ‘tidak harus lewat Murobiy’ }

(A) : Min, klo di UI biasanya nikahnya sesama anak kedokteran lagi ya?

(T) : Biasanya sih iya, umumnya sie di kita jangan berharap dapet temen seangkatan coz itu udah jadi jatahnya kakak kelas di FK tu udah rahasia umum.

(A) : Kok gitu ya, klo gitu pada maen tek-tekan dong?!

(T) : Apaan tu tek-tekan?

(A) : Itu lho menetapkan target jauh-jauh hari…btw gimana menurut pendapatmu, boleh ga kita ngungkapin perasaan kita dulu ke seseorang dan berjanji akan menikahinya beberapa tahun lagi misalnya?

(T) : Klo soal tek-tekan ga tau ya, mungkin ada tapi klo menurutku menyimpan di hati boleh aja coz namanya juga perasaan suka. Nah, yang gak boleh klo udah ngungkapin plus ngejanjiin mau dinikahi bbrp tahun lagi klo udah siap nikah ya langsung aja. Aku juga pernah ditanya adek kelas pertanyaan yang sama terus ku jawab jodoh itu di tangan Allah jadi klo emang udah jodoh kita gak bakalan kemana. Trus kata adek kelasku lagi “ klo diambil duluan sama orang gimana bang?” jawabku gampang aja yaa itu namanya bukan jodoh-mu, klo dia memang ditakdirkan jadi jodohmu entah gimana caranya mungkin dia jadi janda dulu baru kemudian bisa kamu nikahi.

(A) : ha..ha..ha..

(T) :   Aku ada cerita tentang masalah ini di kampus X di bandung ada dua orang ikhwan akhwat yang bertahun-tahun ada pada satu amanah, ketika si ikhwan lulus kuliah dia kerja di Jakarta dan otomatis posisi-nya di amanah tsb diganti sama adek kelasnya.

Rupanya sejak lama si ikhwan ini punya perasaan suka sama akhwatnya, coz pernah suatu hari dia datang jauh2 dari Jakarta ke Bandung hanya untuk ngelihat si akhwat itu..

Seiring berjalannya waktu ternyata si adek kelasnya ini yang langsung duluan menghadap ke orang tua si akhwat untuk meminangnya, pinangannya diterima dan undangan pun sampailah ke tangan si ikhwan yang ada di Jakarta tadi.

Apa yang terjadi adalah si ikhwan kecewa berat dan gak menghadiri sama sekali walimahannya.

(A) : lho kan menghadiri undangan walimah klo kita diundang hukumnya wajib?

(T) : namanya juga orang patah hati, ndu.

(A) : ehhm… ya ikhwan juga manusia, emang perasaan suka adalah fithrah manusia yang gak bisa di hilangkan begitu aja, tapi yang penting disini adalah gimana caranya supaya prosesnya itu bisa berlangsung dengan cara yang benar jadi klo pun orang yang kita suka belum jadi jodoh kita kita gak kecewa berat dan menyerahkan urusannya kembali kepada Allah.

{ kesepakatan ketiga ‘suka boleh aja, tapi ga usah pake tek-tekan ya dan pandai-pandailah menjaga hati’ }

Nb : Tulisan ini murni cuma sekedar obrolan dan opini dari kita berdua di dalamnya gak di dukung sama sekali oleh dalil atau argumentasi kuat lainnya, oleh karenanya diskusi lebih lanjut dan masukan lainnya sangat diharapkan dalam rangka mencari kebenaran.

4 Komentar »

  1. hehehee..ant dah ngebet kayaknya ya kang…??
    ga ada alasan untuk menunda ya kang..jadi segerakan ya kang…!!!

    barakallahu…..

    Komentar oleh Cakep — April 8, 2008 @ 5:40 am | Balas

  2. Whuaaaah, akhirnya launching juag postingan yang ini…😛

    Sip markisip lah…🙂

    Komentar oleh Gandhi — April 11, 2008 @ 3:22 am | Balas

  3. pan, mending kau baca bukunya Fadlan Al Ikhwani (Pro-U) “Don’t Cry: Ketika Mencintai, Tak Bisa Menikahi”….

    (^_^)v

    Komentar oleh Farijs van Java — April 16, 2008 @ 1:05 am | Balas

  4. postingan lama, tapi tetep menarik.. ana juga dilemma gini, ada perasaan pingin nikah cepet2 tuk ngehindarin hal-hal yang gak diinginkan (karena tau sendiri lah dunia sekarang) tapi tetep perasaan lum siap tuu ada aja..

    tentang nikah untuk halal pacaran masa seeh makruh..? menurut ana seeh wajar, asal diperjanjikan sebelumnya. dilihat dari kenyataannya lho.. pacaran zaman sekarang khan bukan cuma jalan aja😀 .

    di indonesia gak ada sosialisasi / alternatif tuk nikah muda ya..

    Komentar oleh hirzie — Agustus 13, 2009 @ 8:02 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: