Kangpandoe’s Weblog

Desember 22, 2008

3 Angin dan Seekor Kera

Filed under: Motivasi — kangpandoe @ 11:05 am

Pada zaman dahulu kala, tersebutlah 3 buah angin yang tengah bercengkrama satu sama lain. Mereka adalah angin puyuh, angin topan, dan angin sepoi-sepoi. Ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba seekor kera yang sedang asyik bermain dan bergelantungan di dahan sebuah pohon besar nan rindang mengusik perhatian ketiga angin ini.

Angin Puyuh berkata, “Hai teman-temanku! Mari kita bertaruh siapakah gerangan yang dapat menjatuhkan kera itu dari pohon, dia akan kita angkat sebagai pemimpin dan yang paling hebat diantara kita bertiga.” ujarnya pada kedua orang kawannya.

“Aku setuju usulmu Angin Ribut,” kata Angin Topan. “Bagaimana denganmu Angin Sepoi-Sepoi?” Tanya mereka berdua. “Aku menurut saja usul kalian,” kata Angin Sepoi-Sepoi datar.

Setelah mereka berembuk, akhirnya diputuskanlah Angin Puyuh yang mendapatkan giliran pertama menjatuhkan sang kera dari tempatnya bergelantungan. Angin Puyuh mengeluarkan semua kekuatannya untuk menjatuhkan sang kera dari dahan tempatnya bergelayutan. Akan tetapi, semakin keras Angin Puyuh berusaha, semakin keras pula sang kera berpegangan pada pohon besar nan kokoh tersebut.

Setelah melihat usaha kawannya menemui kegagalan, Angin Topan berkata dengan pongahnya, “Kalau kekuatanmu hanya segitu mana bisa kau menjatuhkan si kera, coba kalian lihat aku.” Ucapnya kepada kedua kawannya.

Angin Topan mengerahkan seluruh kekuatannya, kekuatan Angin Topan memang lebih dahsyat dari kawannya si Angin Puyuh. Akan tetapi yang terjadi adalah sang kera lebih keras lagi 3 kali lipat untuk berpegangan pada pohon besar itu. Sang Kera menggunakan kaki, tangan, dan ekornya untuk berpegangan kuat-kuat.

Akhirnya Angin Topan pun putus asa. “Baiklah teman-teman sekarang giliranku untuk mencoba,” ujar si Angin Sepoi-Sepoi. Teman-temannya menertawakannya. “Kami saja yang lebih kuat dari mu tidak berhasil menjatuhkannya, apalagi kamu.” Ejek mereka.

Angin Sepoi-Sepoi tidak memperdulikan ejekan kawannya, ia turun perlahan mendekati pohon besar dimana sang kera bergelantungan. Perlahan tapi pasti dia mulai beraksi, hembusannya yang meneduhkan lama kelamaan membuat sang kera mengantuk. Apalagi sebelumnya, sang kera kelelahan setelah dihantam oleh Angin Puyuh dan Angin Topan. Lambat laun dia katupkan matanya, dan yang terjadi akhirnya adalah kejatuhan sang kera tak terelakkan lagi.

Jangan terbuai dengan zona nyaman

Sering dijumpai seseorang yang ditimpa berbagai tantangan dan ujian yang susah namun dia sanggup melewatinya dengan baik. Adakalanya seseorang ketika dia sudah merasa nyaman dengan lingkungan yang memiliki sedikit tantangan, tidak ada gejolak yang berarti, dia akan merasa terlena dan parahnya dia lupa berpegang pada prinsip hidupnya yang seharusnya selalu dia pegang teguh.

Akibatnya fatal, dia terjatuh… Nah, kisah diatas mencoba mengingatkan kita untuk hati-hati pada ujian bertipe “Angin Sepoi-Sepoi” ini. Salah-salah tak waspada, kita bisa jatuh dibuatnya. Sewaktu diuji dengan kesusahan dan penderitaan kita kuat. Ketika diuji dengan kesenangan dan kemewahan dunia jangan-jangan kita kurang waspada dan akhirnya terjatuh. Naudzubillah.

Iklan

Burn Your Self

Filed under: Photography — kangpandoe @ 7:19 am

Burn Your Self

Temukan kembali motivasi dirimu dengan membakar semangat perubahan dalam diri, nyalakan kembali semangat itu, bakar tempat tinggal zona nyamanmu.

3 Doa 3 Cinta (Resensi Film)

Filed under: Features — kangpandoe @ 3:52 am

Akhirnya setelah lama gak posting, akang kembali turun gunung meramaikan dunia persilatan perblog-an di tanah air…halah opo tho?

Akhirnya pula, setelah lama gak lihat akting Nicholas Saputra dan Dian Sastro dalam satu film bersama para penikmat film dapat kembali menyaksikan akting mereka dalam film teranyar “3 Doa 3 Cinta”.

Apa aja sih yang cukup menarik dari film ini selain bintang-bintangnya? Berikut seklumit resensi dari akang sebagai penggemar film…(he..he.. belagu nih akang)

Secara umum film besutan sutradara Nurman Hakim ini cukup bagus untuk disaksikan, film ini menyajikan tema yang tidak kebanyakan diantara film-film lain yang saat ini membanjiri dunia perfilm-an tanah air. Kehidupan pesantren begitu kuat dan nyata digambarkan dalam film ini, sungguh menarik.

Bagi yang pernah ‘nyicipin’ kehidupan nyantri, film ini seolah mengajak bernostalgia. Suasana pesantren tradisional begitu kentara tergambarkan. Ngaji kitab gundul dengan terjemahan bahasa jawa, antrian jatah makan, menimba air, sampai kenakalan-kenakalan santri di pesantren apik tersaji. Maklum sang sutradara konon jebolan pesantren.

Nah, bagi yang belom pernah mendengar ato melihat gimana sih kehidupan di pesantren, film ini cocok dijadikan rujukan.

3 Doa 3 Cinta, Review

Kisah bermula dari persahabatan 3 Santri Huda (Nicolas Saputra), Rian (Yoga pratama), dan Syahid (Yoga Bagus). Dengan latar belakang dan cita-cita berbeda, setiap tahun mereka berkumpul di ‘tempat rahasia’ untuk menuliskan cita-cita apa yang ingin dicapai pada sebuah dinding dan berdoa bersama agar yang mereka tuliskan tercapai.

Huda santri yang ditinggalkan ibunya di Pesantren sejak usia 11 tahun, bertekad ingin menemukan ibunya di Jakarta. Berbekal surat terakhir yang dikirimkan ibunya dan bantuan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) akhirnya Huda dapat menemukan jejak ibunya di Jakarta. Tapi apa lacur, ternyata Ibunya sudah meninggal dunia setahun yang lalu di Jakarta.

Rian adalah seorang santri penggemar cinematography, sejak mendapatkan kado sebuah handycam dari ibunya, kegemaran Ryan akan cinematography semakin terarah, dia pun bercita-cita ingin meneruskan usaha video shooting pernikahan yang dulu sempat dirintis ayahnya sebelum meninggal. Ryan kemudian sempat kecewa dengan ibunya yang memutuskan untuk menikah lagi padahal ayahnya belum genap setahun meninggal.

Syahid berasal dari keluarga miskin, kondisi ayahnya yang sakit-sakitan dan membutuhkan biaya besar membuatnya seolah menjadi tokoh yang paling patut dikasihani. Syahid bercita-cita menemui kemulian dengan mati syahid sebagai syuhada. Namun cita-cita mulianya itu, menyebabkan dia terjerumus dalam kelompok pengajian garis keras di luar pesantren. Sampai-sampai syahid berencana melakukan aksi pengeboman bunuh diri, untungnya aksinya belum sempat terlaksana.

Sedikit kritik pada penampilan Dian, walaupun Dian bisa mengubah imej sosoknya yang ‘perempuan banget’ menjelma menjadi cewek matre, norak, dan terkesan murahan. Tapi kok kayaknya penampilannya kelewat seronok sebagai penyanyi dangdut lazimnya, meskipun itu penyanyi di level kampung.

Untuk penampilan Nicho tetap tak berubah, karakternya tetap sebagai sosok pria pendiam dan cool, tak jauh berbeda saat menjadi Rangga di ‘Ada Apa Dengan Cinta?.’ Tapi aktingnya sebagai santri patut juga diacungi jempol, apalagi Nicho sendiri berlatar belakang dari dunia yang sama sekali tak pernah bersentuhan dengan pesantren.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.