Kangpandoe’s Weblog

Desember 22, 2008

3 Doa 3 Cinta (Resensi Film)

Filed under: Features — kangpandoe @ 3:52 am

Akhirnya setelah lama gak posting, akang kembali turun gunung meramaikan dunia persilatan perblog-an di tanah air…halah opo tho?

Akhirnya pula, setelah lama gak lihat akting Nicholas Saputra dan Dian Sastro dalam satu film bersama para penikmat film dapat kembali menyaksikan akting mereka dalam film teranyar “3 Doa 3 Cinta”.

Apa aja sih yang cukup menarik dari film ini selain bintang-bintangnya? Berikut seklumit resensi dari akang sebagai penggemar film…(he..he.. belagu nih akang)

Secara umum film besutan sutradara Nurman Hakim ini cukup bagus untuk disaksikan, film ini menyajikan tema yang tidak kebanyakan diantara film-film lain yang saat ini membanjiri dunia perfilm-an tanah air. Kehidupan pesantren begitu kuat dan nyata digambarkan dalam film ini, sungguh menarik.

Bagi yang pernah ‘nyicipin’ kehidupan nyantri, film ini seolah mengajak bernostalgia. Suasana pesantren tradisional begitu kentara tergambarkan. Ngaji kitab gundul dengan terjemahan bahasa jawa, antrian jatah makan, menimba air, sampai kenakalan-kenakalan santri di pesantren apik tersaji. Maklum sang sutradara konon jebolan pesantren.

Nah, bagi yang belom pernah mendengar ato melihat gimana sih kehidupan di pesantren, film ini cocok dijadikan rujukan.

3 Doa 3 Cinta, Review

Kisah bermula dari persahabatan 3 Santri Huda (Nicolas Saputra), Rian (Yoga pratama), dan Syahid (Yoga Bagus). Dengan latar belakang dan cita-cita berbeda, setiap tahun mereka berkumpul di ‘tempat rahasia’ untuk menuliskan cita-cita apa yang ingin dicapai pada sebuah dinding dan berdoa bersama agar yang mereka tuliskan tercapai.

Huda santri yang ditinggalkan ibunya di Pesantren sejak usia 11 tahun, bertekad ingin menemukan ibunya di Jakarta. Berbekal surat terakhir yang dikirimkan ibunya dan bantuan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) akhirnya Huda dapat menemukan jejak ibunya di Jakarta. Tapi apa lacur, ternyata Ibunya sudah meninggal dunia setahun yang lalu di Jakarta.

Rian adalah seorang santri penggemar cinematography, sejak mendapatkan kado sebuah handycam dari ibunya, kegemaran Ryan akan cinematography semakin terarah, dia pun bercita-cita ingin meneruskan usaha video shooting pernikahan yang dulu sempat dirintis ayahnya sebelum meninggal. Ryan kemudian sempat kecewa dengan ibunya yang memutuskan untuk menikah lagi padahal ayahnya belum genap setahun meninggal.

Syahid berasal dari keluarga miskin, kondisi ayahnya yang sakit-sakitan dan membutuhkan biaya besar membuatnya seolah menjadi tokoh yang paling patut dikasihani. Syahid bercita-cita menemui kemulian dengan mati syahid sebagai syuhada. Namun cita-cita mulianya itu, menyebabkan dia terjerumus dalam kelompok pengajian garis keras di luar pesantren. Sampai-sampai syahid berencana melakukan aksi pengeboman bunuh diri, untungnya aksinya belum sempat terlaksana.

Sedikit kritik pada penampilan Dian, walaupun Dian bisa mengubah imej sosoknya yang ‘perempuan banget’ menjelma menjadi cewek matre, norak, dan terkesan murahan. Tapi kok kayaknya penampilannya kelewat seronok sebagai penyanyi dangdut lazimnya, meskipun itu penyanyi di level kampung.

Untuk penampilan Nicho tetap tak berubah, karakternya tetap sebagai sosok pria pendiam dan cool, tak jauh berbeda saat menjadi Rangga di ‘Ada Apa Dengan Cinta?.’ Tapi aktingnya sebagai santri patut juga diacungi jempol, apalagi Nicho sendiri berlatar belakang dari dunia yang sama sekali tak pernah bersentuhan dengan pesantren.

5 Komentar »

  1. hmmm… kayaknya filmna bagus, jadi pengin nonton…

    Komentar oleh guzz — Desember 22, 2008 @ 9:47 am | Balas

  2. ga terlalu kentara juga kehidupan nyantrennya, pan. menurutku film ini cuma cocok jd film festival. endingnya khas film festival, byk mengecewakan kaum awam. tp krna menceritakan khdpn pesantren tradisionalnya itu, cocoklah dia sbg film budaya.

    soal distro, asli gw kaget bgt. aktingnya itu mantep, bs jg dia jd genit bgt gitu. ah, tp distro di situ sbnrnya ga terlalu masuk di cerita. dia di situ bkn sbg penyanyi kampung, pan. tp penyanyi pasar malem. dan kebanyakan penyanyi pasar malem emg kek gt tingkahnya.

    ah, tp gw kecewa ama polisi yg di situ. nggak banget! masak asal2 nodong gt, nembak2 pula. berasa jd penculik aja malah. ah, pokoknya kalah ama inspektur vijay.

    v(^_^)

    Komentar oleh Farijs van Java — Desember 22, 2008 @ 11:53 am | Balas

  3. wkwkwwkwkkwk

    doyan nonton juga nih si Feriska……

    Komentar oleh kangpandoe — Desember 24, 2008 @ 3:04 am | Balas

  4. Pengin nontooon… Apalagi yang maen Nico (satu diantara sedikit artis yang kusuka ^_^)

    Sedang dalam usaha merayu Ncep biar mau ikutan. Kqkqkq

    Komentar oleh fauziah85 — Desember 30, 2008 @ 7:38 am | Balas

  5. yah, film berbobot memng susah dicerna….atw kurang menghibur dan kurang komersil….
    tpi dy punya hampir smw elemen yg dibutuhkan dalam karya seni…..
    hahahhhaahahaha….

    yg jelas,gw lebih suka ini rpd pulo hantu atw tali pocong perawan…

    Komentar oleh bigur — Mei 24, 2009 @ 5:23 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: