Kangpandoe’s Weblog

Januari 22, 2009

Bidadari itu Terlalu Indah Untukku

Filed under: Features — kangpandoe @ 3:00 am

Bismillah. Air wudhu masih terasa segar menyapu wajahku. Lega rasanya setelah meminta pada-Nya dalam dhuha. Prasyarat penilaian ibu sebagai labuhan terakhir jawabankupun sudah kutuntaskan. Dan ibuku sebagaimana ibu-ibu lain di dunia memberikan jawaban yang amat menyanjungkan hati anak-anaknya. “Kalau memang ananda bahagia, apapun keputusan nya silahkan diambil. Insya Allah kebahagiaan ibu mengikuti kebahagiaan anakku.”

Tapi selain menyanjungkan hati atas tanggung jawab dan ruang kedewasaan yang diberikan, yang juga tersisa dan tak dapat kuhindari adalah kegamangan. Kata yang dalam seminggu terakhir proses ta’aruf ini mengisi ruang berpikirku. Mungkin ini karena istikharah yang belum keras kuusahakan. Ya Allah, maafkan hamba atas kegamangan yang tidak selayaknya. Karena semestinya ketika menyertakan-Mu tak layak rasanya hamba menyinggung kata-kata gamang.

Hampir satu bulan lebih proses ikhtiar mencari pendamping hidup kutempuhi. Agak lama untuk sampai pada saat dimana aku berani memutuskan untuk bertindak. Terlalu lama mungkin bagi sang akhwat yang menungu-nunggu di seberang sana. Merenung dalam kegamangan. Menghela nafas. Lantas menerawang ke langit biru. Melihat awan-awan putih begitu bebas mengarak dirinya.

Hah……andaikan keputusan ini bisa kusampaikan semudah awanan itu berarak, hmmmm…. Lantas aku mencari nomor telepon mas Faris, kakak dari Farahiya Rahma, bidadari yang sedang coba kukenali lebih dalam di nomor kontak handphoneku. “Bismillah” lirihku dalam hati mencoba menegarkan diri dengan bimbingan-Nya. Kata-kata yang akan kusampaikan belum kususun sedemikian rupa agar bisa menjamin sang pendengar di ujung sana tidak salah menanggapi atau salah-salah dapat tersinggung perasaannnya. Namun ketulusan dan kejujuran penyampaian menurutku lebih utama dibanding kata-kata yang didiplomasikan dan menyastra indah berkelok-kelok.

***

Hallo, iya, Assalamu’alaykum Iz…” mas Faris dari seberang telepon menyapaku seperti biasa, dengan sapaan yang amat hangat dan tanda ingin tahu yang penuh. Hatiku berdetak, amat tidak nyaman rasanya mendengar kehangatan itu mengingat pembicaraan yang ingin kusampaikan. “Wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh mas, afwan kalau menganggu istirahatnya. Ana ingin membicarakan mengenai kelanjutan ta’aruf dengan adiknya mas Faris nih mas……” terbata-bata aku menyampaikan maksudku menghubungi beliau.

Iya jadi bagaimana Iz, ceritanya. Ayo, coba, mas mau dengar ceritanya. Mas harap ini sebuah kabar gembira” Kabar gembira. Mudah-mudahan keputusan ini benar-benar menjadi kabar gembira. Dibanding keputusan yang menggantung dan tidak jelas. Terus terang dalam diri mbak Farah ana tidak melihat ada profil cela sedikitpun. Malah kebalikannya mas, profil adik mas ini mungkin tidak akan ana temui lagi pada sosok akhwat manapun. Namun dibalik hal itu, ada satu hal, mas, yang membuat ana memutuskan untuk mundur dari proses ini.

Sesuatu itu, maaf, mungkin amat rumit untuk ana coba jelaskan. Kalau boleh ana istilahkan sesuatu itu namanya adalah ‘kecocokan batin’ mas. Kemaren dalam proses ta’aruf terakhir ustadz yang menjadi perantara kami memberi taushiyah kepada ana. Beliau mengatakan bahwa ruh itu laksana pasukan yang akan menemui pasukan lainnya. Secara alamiah. Dan itu tanpa paksaan. Saat itulah seseorang kita sebut jodoh kita.

Saat ada yang dinamakan dengan kecocokan batin, meski sedikit. Mas dengan istri mas sekarang juga mungkin dahulunya ketika berkenalan juga merasakan adanya perasaan ini, mesti cuma sedikit.

Fatimah juga ketika menyampikan penolakan halus saat sahabat terbaik Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq melamarnya “Ayah, mungkin yang berikutnya” jelas Fathimah kepada Rasulullah. Begitupun ketika Umar bin Khotthob memutuskan maju meminangnya. Namun ketika Ali r.a yang mengajukan penawaran serupa, Fathimah mengiyakannya dengan malu-malu.

Pilihan Fathimah ini ternyata tidak didasarkan pada urutan keutamaan serta kebaikan para sahabat yang datang hendak menikahinya. Namun disana ada cinta dan bahasan kesekufuan. Dan Rasulullah mendiamkannya. Sehingga menurut ana cinta menjadi sesuatu yang syar’i dalam upaya memancangkan pondasi awal pernikahan di prosesi ta’aruf.

Nah, dalam dua kali proses perkenalan dengan mbak Farah ana belum menemukan adanya kecocokan batin ini. Jadi ana putuskan untuk mundur dikarenakan mbak Farah juga butuh keputusan yang tidak terlalu lama. Afwan mas sebelumnya, ana harap ini tidak menyebabkan silaturahim kita terputus.” Segala hal yang aku rasakan selama menjalani proses dengan terus terang kuceritakan, tanpa ada yang kututupi.

Oh iya nggak papa, mas paham kok. Insya Allah silaturahim kita, tetap kita jaga ya………assalamu’alaykum” Mas Faris menutup pembicaraan dengan singkat namun lumayan membuat rasa tidak nyaman di hatiku berkurang. “wa’alaykumsalam…jazakallah ya mas” balasku.

Berat sekali untuk mengakhiri proses ini. Terus terang kecondongan hatiku masih teramat kabur dan remang. Ada dua kutub yang saling tarik menarik. Kutub kesempurnaan profil serta penerimaan Rahma atas diriku membuat aku ingin terus maju. Namun kutub kecocokan batin menarik kembali diriku untuk mundur dari proses ini.

Aku amat ingin kehidupan rumah tangga nanti dihiasi dengan cinta dan kasih sayang dan bukan hanya dipagari dengan kewajiban sebagai suami istri belaka. Aku amat ingin merasaan indahnya syurga itu di dunia. Kembali aku teringat taushiyah seorang ustadz ketika mengisi kajian rutin kamis malam di Masjid Baitul Maal. “Siapa yang tidak pernah merasakan syurga di dunia maka ia tidak akan pernah merasakan syurga di akhirat

***

Sabtu, 8 November 2008 (ditulis oleh seorang teman yg tidak mau disebutkan namanya)

16 Komentar »

  1. iz? bukan fer-iz kan, maksudnya? hwehe.

    v(^_^)

    yah, masih mending dia gamang, daripada aku yg tergamang setiap malam. //cari arti tergamang di kamus!//

    jadi, kapankah dikau melangkah seperti dia, bro?

    Komentar oleh Farijs van Java — Januari 22, 2009 @ 10:48 am | Balas

  2. klo fer-iz yg dmaksud jg gak papa kok…
    cie..cie..

    Komentar oleh kangpandoe — Januari 23, 2009 @ 12:56 am | Balas

  3. kirain kang pandu beneran lagi ikhtiar…..
    kecewa yg ke berapa kaliny nih…
    ><;

    Komentar oleh mip2 — Januari 23, 2009 @ 4:48 am | Balas

  4. ikhtiar dlm mencari pndamping maksudnya….

    Komentar oleh mip2 — Januari 23, 2009 @ 4:49 am | Balas

  5. Mulanya aku bingung ketika mbaca tulisan ini. Kok manggilnya Iz bukan Ndu. Lama-lama aku nyadar ternyata nama panjangnya Pandu Rizky Fauzy yang biasa dipanggil Rizky atau Riz atau panggilan pendeknya Iz. Bener-bener gak nyangka gue padahal kirain ke kudus dulu, padahal di piagam dah terlanjur ku tulis nama en***, berarti harus kurubah lagi dong…

    Komentar oleh mahasiswa pemula — Januari 23, 2009 @ 7:58 am | Balas

  6. wekz… tenang2 saudara2 ini bukan pengalaman pribadiku kok…
    ini pengalaman seorang teman yg mungkin bs diambil pelajarannya, whehehe
    dan keknya aku belom perlu mengadakan jumpa pers kan untuk menjelaskan tulisan ini?
    ha ha ha😀

    Komentar oleh kangpandoe — Januari 23, 2009 @ 9:34 am | Balas

  7. kang, it’s light me up

    bahwa, sebenarnya yang paling besar kemungkinan merasa kecewa adalah pihak akhwat

    eh, makanya lain kali akhwatnya jangan tau dulu siapa yg lg proses dengan dia

    kalo udah tau, banyak main perasaan nanti

    Komentar oleh donnyyordan — Januari 28, 2009 @ 2:45 pm | Balas

  8. ahsanta akh, klo kata mbaku baiknya CV ikhwan jangan dikasihkan ke akhwatnya dulu, sebelum si ikhwannya bener2 serius sama akhwat tersebut setelah membaca CV si akhwat. Wallahu’alam

    Komentar oleh kangpandoe — Februari 13, 2009 @ 10:02 am | Balas

  9. Gw kirain lu bro, tp gpp cukup mencerahkan hati gw..

    Komentar oleh prambors — Maret 11, 2009 @ 10:14 am | Balas

  10. Lupa..
    Thx bro

    Komentar oleh prambors — Maret 11, 2009 @ 10:16 am | Balas

  11. thanks bro… btw gw turut bahagia melihat hati prambors tercerahkan… ha ha😀

    Komentar oleh kangpandoe — Maret 13, 2009 @ 2:45 am | Balas

  12. aku jadi bingung jadinya nih.
    ta’aruf yang baik bagaimana sih?

    Komentar oleh samsul arifin — April 1, 2009 @ 4:26 pm | Balas

  13. Aku salut, sungguh keberanian yang luar biasa, kalo aku mungkin gemetaran menyampaikan hal seperti itu.

    Komentar oleh Aku Punya dot com — Juli 24, 2009 @ 7:36 am | Balas

  14. aku juga gemetaran kali ya Mas… hehe

    Komentar oleh kangpandoe — Agustus 6, 2009 @ 4:15 am | Balas

  15. kalo aku ketika dapat tawaran untuk menjadi pendamping dan merasa ia jauh lebih baik dariku maka aku akan berdoa…”Ya Allah berikan dia untukku…hadirkan cinta itu…sayang atuh dikasihkan ke yang lain….he he..

    Komentar oleh dewi — Agustus 28, 2010 @ 2:08 am | Balas

  16. @ Mba Dewi : in this case absolutely I agree with you mba, So do I insya Allah

    Komentar oleh kangpandoe — Agustus 30, 2010 @ 5:58 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: