Kangpandoe’s Weblog

Februari 13, 2009

They are New Wonderful Mothers

Filed under: Features — kangpandoe @ 9:55 am

“Masya Allah, aku sampai terharu Pandu melihat ada calon makhluk baru di dalam perutku,” tutur seorang sahabat yang kini bertugas di Surabaya kira-kira satu setengah tahun yang lalu (he..he.. gimana kabarnya astro boy tante?).ย  Sementara itu, komentar dari ibu hamil yang lainnya mengatakan begini; “Makanya Pan jangan suka melawan ibu, orang hamil susah tahu! Mau tidur harus selalu telentang dan sering pegal-pegal,” ucapnya sambil bercanda-canda dan gembira. “Iya, he ‘eh mba,” jawabku.

Bagi kaum wanita nampaknya kehamilan yang pertama merupakan saat-saat yang menakjubkan sekaligus membahagiakan. Walaupun ‘gak ngalamin’ dan ‘belum menyaksikan sendiri saat-saat istri sendiri sedang mengandung’ (maksudna masih blom punya istri) perasaan bahagia itu seolah menjalari setiap orang yang berada di dekat wanita-wanita hamil tersebut.

Terus terang aku dulu bukan tipe orang yang menyukai anak-anak kecil, ribet, rese, rikuh, dan kaku klo becanda ma anak-anak. Tapi itu dulu banget, sebelum aku punya beberapa keponakan yang lucu-lucu. Sekarang udah ada si Aid, si Zulfa, Syasya, Nayla, dan Ahda (banyak amat ya? tapi mereka anaknya pinter2, gak pada suka jajan, dan menggemaskan, notes: bocah-bocah ini bukan anak dari satu orang lho, tapi anak-anak dari 3 orang mbaku). Sejak itu, aku justru malah jadi seneng sama anak-anak kecil.

Ujian Menjadi Orang Tua

Terjaga ditengah malam seolah-olah menjadi panggilan kewajiban yang kudu dilakoni oleh para orang tua baru ini. Ganti popok, menyusui, sampai meninabobokan bocah-bocah ini hampir menjadi santapan setiap malam. Konsekuensinya, pagi-pagi badan pegel-pegel, mata masih ngantuk, sementara kerjaan sudah menunggu di depan mata (maklum wanita pekerja).

Nayla dan Ummi

Nayla dan Ummi

“Pan orang itu baru bener-bener ngerasain jadi orang tua ketika anaknya sakit,” ucap budeku suatu saat.

Ucapan itu aku saksikan sendiri kebenarannya ketika menyaksikan Nayla dan Syaya sakit. Mba Wulan terlihat tanpa kenal lelah berusaha menjaga Nayla sepenuh hati. Lain lagi teh Putri, mbaku yang satu ini yang dulu banget (waktu jaman kita kecil) sering berantem ma aku, bahkan kadang aku beranggapan dia tidak mempunyai naluri keibuan (he..he.. maaf teh) begitu Syasya dirawat dirumah sakit, ternyata naluri keibuan telah memanggilnya untuk menjaga Syasya sepanjang malam (he..he..asumsiku salah tuh).

Klo melihat kesitu jadi inget diri sendiri nih… jangan2 waktu aku kecil sama merepotkannya dengan bocah-bocah itu. Apalagi waktu kecil aku memang badung (ha..ha..ha.. nostalgia mode on). Duel sepulang sekolah, berantem di dalem kelas, kabur dari latihan pramuka mingguan, de el el… de el el… Mamah maafkan aku ya, mudah-mudahan aku bisa membalas semua jasa-jasamu dan menjadi anak yang berbakti. Amiin

9 Komentar »

  1. Wah, biar jadi suka ma anak kecil harus punya ponakan dulu ya? ribet banget. Kalo kata orang, cewek virgo emang biasanya cuma suka ma anaknya sendiri, ya entahlah, mungkin memang perlu dicoba dulu. Hehehehe…

    NB: Kadang-kadang jadi deg-degan juga mikirin “hal itu”.

    Komentar oleh fauziah85 — Februari 13, 2009 @ 10:38 am | Balas

  2. jah, telat bgt kau boi, suka ama anak kecil. mbak nur jg nih, keknya kepaedofilianku musti kutularkan. hwehe.

    v(^_^)

    sekarang lg byk bgt bumil-bumil di sekelilingku. jd senang. perempuan kl jd bumil pan berasa lbh seksi. jah, jd pgn “menghamili”, nih. dalam artian pengen segera melihat istri jadi bumil. hwehe.

    sayang nih beberapa malam mendung mulu. purnama ga muncul, deh. bidadari jadinya ga turun.

    Komentar oleh Farijs van Java — Februari 13, 2009 @ 11:51 am | Balas

  3. Pandu pas kecil badung, ya? Kok udah ga lagi to, Pan?๐Ÿ˜›
    Eh, kata orang, aku pas kecil itu cerewet, lincah, imut-imut, tapi sekarang jadi pendiem, lelet, dan amit-amit.. Kata orang-orang sih gitu, tapi kataku sih aku masih tetep seperti yang dulu..๐Ÿ˜€
    *glubrakkk

    Duh, pengen jadi anak kecil lagi. Ato mending punya anak kecil aja, ya? Hehe..

    Komentar oleh fairuzdarin — Februari 14, 2009 @ 12:58 pm | Balas

  4. sekarang juga masih badung…
    Iya mendingan Reni punya anak kecil aja secara gimana2 juga gak mungkin jadi anak kecil lagi…
    Kapan undangannya Ren, ditunggu ya???

    Komentar oleh kangpandoe — Februari 16, 2009 @ 11:52 am | Balas

  5. iya ndu…

    Komentar oleh mip2 — Februari 27, 2009 @ 3:37 am | Balas

  6. Pan, mbok itu kata tidur telentang nya diralat jadi tidur terlentang.. Bisa KO ntar.. Kasian masa’ tidur sambil “telen tang”
    Bruakakakak..

    Komentar oleh prambors — Maret 11, 2009 @ 9:51 am | Balas

  7. suka terharu kalo liat dede kecil

    Komentar oleh donnyyordan — Mei 21, 2009 @ 2:56 pm | Balas

  8. kalo aku lg salut sama guru qur’anku yang rela ga nerusin spesialis untuk merawat anakny, n temanku dari ITB yang beralih profesi jadi tukang jahit biar bisa sambil ngurus anak dirmuah…pufff…jihad dirumah lebih susah lho tapi bagi yang menikmati jadi hal yang paling membahagiakan dalam hidup

    Komentar oleh dewi — Agustus 28, 2010 @ 2:01 am | Balas

  9. terharu kata ustadz kemarin, jihad dirumah itulah yg mampu mengantarkan seorang istri ke Jannah-Nya…

    Komentar oleh kangpandoe — Agustus 30, 2010 @ 5:57 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: