Kangpandoe’s Weblog

November 9, 2010

Melodi Hujan

Filed under: Features — kangpandoe @ 9:44 am

Partikel-partikel itu telah bertemu, menggumpal, dan menggelayut perkasa di atap langit.
Kepekatannya menutupi temaram sang senja namun dengan nuansa kesyahduan
sementara dingin mulai menyelimuti kolong langit
Dengan penuh khidmat mereka telah menjelma rupa Mendung
Dalam ketundukannya mereka telah berkumpul untuk menyelesaikan suatu perkara dari Tuhannya

Burung-burung pun mulai berterbangan menyambut kedatangan Sang Mendung
Burung hujan penduduk desa menyebutnya,
Psarisomus dalhousiae ahli Biologi menamakannya,
Mereka berputar dan menari dengan eloknya dibawah naungan Sang Mendung
Desah dan kicauannya adalah bahasa puji-pujian bagi Pencipta semesta alam

Mendung masih menggelayut, seolah enggan beranjak dari langit senja.
Mungkin juga ia sedang menunggu perintah Tuhannya,
“Akan kemanakah ia harus pergi menjatuhkan peluhnya yang semakin berat itu”

Dengan wajah letih, tergesa-gesa Angin datang menjumpai Mendung di tepian senja
“Aku sudah susuri setiap jengkal bumi. Tanah dan gunung-gunungnya,
tepian pantai dan samudera birunya” katanya.
“Ayo, turutlah bersamaku supaya setiap peluhmu jatuh ke seluruh negeri !”

Mendung tersenyum. Ronanya sendu hingga tak bersuara
Ia tahu kedatangan angin adalah untuk membantunya
Namun ini pun suatu pertanda bahwa sudah semakin dekat saatnya
Manakala ia harus meluruh, berpendar, dan mencair
Memecah jutaan partikel yang telah melekat pada dirinya
Menghadirkan hujan nan memesonakan

Tanpa ragu ia bersandar pada angin, karena ia tahu dirinya lemah
Ia memeluk bahu sang angin dan merelakan langkahnya dituntun pergi ke mana saja.

“Kau tahu mengapa aku bergerak? Dari yang tinggi menuju yang rendah.
Kau tahu mengapa aku berkeliling? Dari selatan ke utara, adakalanya dari timur ke barat.
Karena keseimbangan memaksaku berpindah meski kadang memang tak ramah.” Angin membuka kata kepada Mendung.
“Dan kau tahu mengapa kau harus terjun?
Karena puncak tak selamanya tertempuh. Karena batas tak selamanya terlampau.” Lanjutnya.

Mendung sedar tak pernah mampu menjelajah dunia.
Langkahnya tak kan menempuh ujung selatan dan utara.
Meski angin, sesungguhnya, menyediakan bahunya untuknya bersandar
Bahkan ia menyediakan punggungnya untuk ditunggangi ke segala arah.

“Aku berhenti di sini,” kata Mendung.

“Biar aku mengantarmu ke sudut paling utara,” cegah Angin.

Mendung menggeleng, “Sudah sampai waktuku,” katanya.
“Kau teruskan-lah perjalananmu bersama dengan Hujan yang sebentar lagi hadir menggantikan ragaku”

Tanpa banyak bicara, Mendung lantas merunduk penuh takzim.
Ia pergi meluruh bersama gemuruh petir yang sambar-menyambar.

Angin kemudian melesat ke pucuknya tak berhingga
Mencari kesetaraan, menghela kehampaan.
Angin mengerti, jiwa yang menyublim tak serupa lagi perwujudannya.
Juga tak sama bentuk peristilahannya.

Kini hadirlah rinai-rinai syahdu itu,
Tercurah-lah rahmat Tuhan semesta alam
Terbasahilah tanah-tanah yang kering
Tersiramilah jiwa-jiwa yang tandus, gersang dan hampir mati itu

Hujan pun tersenyum, ia telah lahir dari peluh-peluh Mendung yang tak kuasa lagi ditanggungnya
Dengan bernyanyi kecil, Hujan melambaikan tangannya kepada Angin
“Ayo bawa aku kesegenap pelosok bumi !” pintanya kepada Angin
“Agar aku bisa membasahi setiap jengkal tanah dan gunung-gunungnya, tepian pantai dan samudera birunya” lanjutnya.

Angin menggenggam tangan Hujan,
Sementara Hujan, dengan tersenyum manja member isyarat pada Angin
untuk mengantarkannya perlahan ke belahan bumi bagian utara,
Mereka berlari-lari kecil sambil mendendangkan lagu gembira
Mereka saling bergenggaman tangan, Erat sekali,
dan dengan penuh perhatian di bimbingnya Hujan menyelesaikan tugasnya

Hujan telah menjelma rupa bahagia lewat titik-titik air
Meluncur teratur bak jutaan anak panah kecil yang dihempaskan Angin
Menimbulkan alunan melodi syahdu dalam gemercik air
Wanginya telah mengaroma dalam bebasahan dedaunan,

Di udara, alunan melodi itu pun bersambut oleh nyanyian burung-burung hujan
Di bumi, tak kalah serunya orkestra katak di pinggir danau turut membahana
Ikan-ikan pun menari-nari, dan tetumbuhan pun sama memuji dalam diam dan bahasa yang tak pernah kita mengerti.

Maka tatkala rinai itu telah berganti gerimis kecil dan Angin telah menyampaikan salam perrpisahan dengan Hujan
Ketetapan Tuhan telah berlaku, perkara yang diputuskan telah dilaksanakan
Oleh Mendung, Angin, dan Hujan serta gemuruh petir sebagai pertandanya

Angin pun melanjutkan perjalanannya
Kali ini dengan wajah kuyu menanggung rindu
Dalam singkatnya perjumpaan dengan Hujan dan Mendung,
Angin telah menemukan keikhlasan, cinta, dan pengorbanan

Hingga ketika ia kembali ke khatulistiwa,
dijumpainya hijau di mana-mana, wewarna bunga-bunga nan merekah menyebarkan ranumnya

Angin pun menjelma gemuruh yang menampar-nampar gembira.
“Ke manakah hujan yang menumbuhkan kalian?” tanyanya
“Katakan padanya, aku merindukannya !” pintanya.
“Rindu macam apakah sebenarnya?” dedaunan dan bebungaan sama bertanya keheranan
“Seperti jiwa kalian yang tumbuh dari kematian, aku merindukannya.”
Katakan padanya. Katakan padanya !

Untuk mereka yang selalu terinspirasi oleh kesyahduan Hujan dan keberkahan yang dibawanya
Allohumma Shoyyiban Naafi’an, Amiin

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: