Kangpandoe’s Weblog

Januari 4, 2011

Sepucuk Surat Cinta untuk Bunda

Filed under: Features — kangpandoe @ 2:22 pm

Bunda, bagaimana kabarmu di penghujung malam hari ini?
Adakah setiap dentuman waktu kan selalu menjelma dalam rupa doa teriring cinta
Sungguh aku rindu dekapan hangat dan belaian manja itu
Dan sungguh aku pun terus pula berharap bahwa dirimu adalah sejumput jiwa yang tenang,
yang setiap saat selalu berada dalam rengkuh cinta dan perlindungan-Nya…

Bunda, tahukah engkau saat ini aku tengah asyik membaca suratmu yang lalu
Tatkala kau berbincang tentang jutaan harapan mu padaku
Ah, Bunda. Aku hanya bisa melirih dalam setiap bait dan rangkai kata mu
Betapa aku sangat beruntung memiliki orang yang membesarkanku dalam cinta

Dan aku pun terpikir bahwa masih saja diriku serupa anakmu yang durhaka
yang setiap kali kau menelpon ku, aku selalu berlagak tengah sibuk mengurus dunia.
Aku yang zhalim karena begitu asyik dengan teori-teori kuliah ekonomi di kepalaku
Aku yang merugi karena nafas waktu ku terengah-engah oleh tarikan pekerjaan & organisasi
Hingga panggilanmu acap kali tak terdengar jelas dan kusahuti dengan kata, “Ah..”

Bunda sayang,
mengapa waktu begitu lekas bergulir membentuk keriput di wajahmu,
menguras sendi-sendi tenagamu
dan membentuk gurat-gurat di keningmu
Namun satu hal yang tak kan lekang, yakni pancaran kecantikan dan ketangguhanmu..
Karena kau-lah wanita tangguh itu yang telah membesarkan kami
Kau-lah yang mengajarkan kesahajaan dan keberanian
Ketika dalam khilafnya akhirnya Ayah terseret dalam pusaran dunianya hingga kini
Dalam kesigapan kau tampil sebagai sosok Ibu sekaligus Ayah

Aku tak pernah bisa lupa
Bagaimana dengan tegasnya kau menolak beberapa lelaki yang mencoba mendekatimu
Dan kau pun lebih memilih dua bocah lelaki kecilmu
Untuk kau besarkan dan kau ajarkan kepada mereka hakikat makna kehidupan

Kau jua yang mengajarkan bagaimana caranya menjadi lelaki sejati kepada kami
Kau juga yang melarang kami untuk meneteskan air mata
“Bunda paling benci melihat lelaki menangis” ujarmu ketika itu
Sebuah pesan yang ku pegang teguh hingga kini,
meskipun tanpa sengaja telah beberapa kali ku langgar

terutama ketika kau putuskan untuk menjual istanamu satu-satunya
untuk membiayai pendidikan dua bocah lelakimu yang telah beranjak dewasa
aku tak pernah sanggup untuk tidak menangis ketika itu

kini kau telah mampu membuktikan kepada mereka yang mencemoohmu dulu
bahwa katanya bocah lelaki kecil mu ini tak kan pernah bisa sampai di bangku kuliah
toh ternyata mereka salah besar kan Bunda,

kini bocah lelaki kurus ini tengah meniti hari meraih mimpi masa kecil-nya
belajar di universitas terbaik di negeri ini
pada sebuah fakultas yang konon selalu melahirkan lulusan Menteri
meskipun dengan itu harus kutebus dengan menjejal sisa-sisa waktu
juga membelanjakan seperempat gajiku itu setiap bulan
yang mungkin saja bisa kugunakan untuk mencicil istana baru untuk mu

Ah, kau memang begitu anggun tuk tak pernah risaukan semua itu,
yang kau hadirkan justru selusin dukungan pada setiap keputusan dan mimpi-mimpi ku
bahkan ketika kuputuskan tuk mengurungkan saja prosesi wisuda diploma ku dulu
walau pun sedih tak bisa membuat mu menyaksikan upacara sakral itu
namun ruang-ruang kedewasaan dan logika akan realitas telah khatam kau ajarkan padaku

“bunda, dari pada untuk wisuda baiknya uang yang ada digunakan untuk mengurus dokumen pemberkasan CPNS saja, toh tidak diwisuda pun aku tetap telah lulus dari Sekolah Tinggi ini” ungkapku dulu

Juga tentang cerita prestasi gemilang adik
Pelajar teladan Jawa Barat dan peserta olimpiade sains nasional
Tak heran Institut terbaik di negeri ini, FTI ITB pernah disinggahinya meski hanya 2 bulan
Walau pada akhirnya kau menolak keseriusan ku tuk menanggung semua biaya kuliahnya
Dan fatwa keluarga akhirnya menuntunnya untuk mengikuti jejak ku di sekolah tinggi kedinasan.
Toh semua itu tak sedikit pun mengurangi bukti ketangguhan dan keseriusan mu membesarkan bocah-bocah lelaki mu itu

Bunda sayang,
aku pun tak kan pernah bisa melupakan kalimat sanjungan mu yang selalu membesarkan hati
memberikan disposisi kedewasaan dan ruang-ruang kematangan berpikir
Meskipun jiwa kekanak-kanakan sepertinya tak mau lekang juga dari diri ku
“Anak lelaki yang paling ku percaya” ucap mu pada ku suatu ketika
Aku memang tak pernah bisa mengalahkan adik yang kau semat dengan gelar “Anak lelaki yang paling bisa kau andalkan” karena adik memang selalu dekat di sisi mu
Namun kata-kata “percaya” itu lah yang membuat ku semakin percaya diri mengeksekusi berbagai pilihan-pilihan hidup

Jika suatu saat aku pergi lagi meninggalkanmu, apakah Bunda akan ikut kecewa?
Tiga tahun sekolah menengah aku berpisah darimu,
lalu tiga tahun yang memayahkan kembali menipiskan kehangatan itu lagi.
Aku selalu mengira bahwa Bunda berharap setelah itu aku kembali dan menyemai semua peluh yang pernah aku jalani bersamamu.

Namun aku salah,
Ternyata kau malah mendorong ku untuk bertumbuh lebih cemerlang lagi,
Dan mengepakkan sayap-sayap kecil ku yang dulu itu melintasi 7 samudera dan 5 benua

Hingga suatu saat aku pun paham bahwa keputusan Bunda menyekolahkanku membuka cakrawala baru yang mungkin menyanjungkan lubuk hati mu

Seperti halnya semangat kakek dulu
Masih jelas terekam dalam memori ku ketika kau tunjukkan artikel awal tahun 80-an di majalah usang itu
Tentang keperkasaan kakek melawan kepongahan Jakarta
Tentang ketangguhannya mengayuh becak
Tentang idealisme-nya menyekolahkan ke tiga anaknya hingga tingkat SLTA
Sebuah barang mewah tentunya bagi rakyat jelata dikala itu
Ah, rasanya aku jadi mengerti bagaimana Kakek dulu juga telah menempa mu menjadi wanita perkasa

Bunda sayang,
Aku mohon restu mu untuk menjelajah benua lebih jauh lagi,
melintasi samudera, dan melihat dunia yang lebih megah dan eksotis daripada negeri ini.
Seperti pesanmu, aku ingin datang ke tempat di mana menara ilmu tertancap megah dan menjulang tinggi,
aku selalu berharap bisa menjadi bagian darinya.

Bunda, apakah kau akan kecewa?
Bahwa aku takut tak mampu menyelimutimu dalam dingin malam
dan menyuapimu makan pagi saat gigimu tak kuasa lagi mengunyah?
Ah, aku merasa terlampau lancang seperti si Malin.
Tapi, tahukah Bunda bahwa hatiku pun bergelegak

Adakah sesuatu yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain melihat anak-anaknya tumbuh sempurna, jauh lebih sempurna dari orang-tuanya?

Dan adakah sesuatu yang lebih membahagiakan bagi seorang anak selain melihat orang-tuanya bangga dan bahagia melebihi kebahagiaan dan kebanggaan dirinya sendiri?

Meski ia tahu persis bahwa matahari tak pernah meminta cahayanya kembali dari bumi
Dan langit tak pernah pula meminta air hujannya dikembalikan padanya.

Bunda sayang,
Tak lupa kau pun mengajarkan kami tentang cinta
Ketika suatu ketika ku bertanya padamu dari mana kah cinta datang?
Kau pun menjawab

“Ia tak datang dan mengalir dari manapun, Ia memancar dari setiap kebaikan yang kau penuhi, dari setiap kebenaran yang kau ucapkan, dan dari setiap janji yang tak kau ingkari.” Itulah cinta,

Dan apa Bunda tahu?
Aku menyalinnya dalam batinku untuk aku sampaikan kepada pujaan hatiku.
Nanti, jika saatnya telah tiba dan restumu telah sempurna.
Kan ku katakan pula padanya:

“Bahwa aku tak punya apa-apa untuk kau banggakan, kecuali sedikit keterpesonaan kepada kebaikan, itu pun perkara yang telah Tuhan-ku anugerahkan dan Ibunda ku ajarkan”.

Kelak jika aku menikah, aku berharap istriku mampu bersikap sepertimu.
kukuh tegar berpendirian
tajam menghujam bernasihat
namun indah dan lembut bertutur,
Bolehkah, Bunda?

Ah, lagi-lagi Bunda mempercayakan segala sesuatunya pada pilihan ku
Kriteria mu pun ternyata hanya satu, “selama kau tentram kepadanya”
Sebuah kata sederhana dan bersahaja namun sarat makna
Aku pun baru saja mengerti ketika membuka kembali lembaran kitab suci
bahwa kata sederhana ini ternyata telah merangkumkan semuanya
“Li taskunuu ilaiha”, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya.

Dan sekali lagi kau mengajarkan makna yang begitu dalam Bunda

Maka aku pun mengerti bahwa tak perlu lah mencari karakter yang serupa
Karena itu adalah kemuskilan, tak ada manusia yang memiliki karakter sama di dunia ini

Tak perlu pula ku rumitkan dengan bertanya visi-misi nya
Sebab acap kali visi dan misi hanya selarik kata-kata nan elok menyastra
Toh ini juga bukan dagangan kampanye pemilihan umum bukan

Ketenteraman telah menjadi bahasa batin yang hanya bisa dimengerti sepasang jiwa
Jiwa yang telah dipasang-pasangkan oleh Tuhannya dengan cara seksama
Tanpa sempat kita tahu bagaimana detail ceritanya

Bisa jadi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, layaknya proklamasi republik ini
Atau jangan-jangan dalam rupa perlahan-lahan dan sedemikian halus seiring dentuman waktu
Layaknya gugurnya dedaunan yang tak pernah dapat kita terka kapan kejadiannya
Demikianlah jiwa itu pun tak pernah tahu kapan persisnya mereka telah jatuh cinta

Dan kau, Bunda, aku berharap kau tersenyum membacanya.
Menyorotkan rona bahagia bahwa kini kau yakin segala pesan mu telah ku resapi maknanya
Dan aku, aku rindu, teramat rindu… Padamu Bunda.
Dan bila aku ditanya apa lagi yang aku inginkan darimu,
Jawabku hanya, “Doa dan Keridho’anmu Bunda”

Jakarta, 29 Muharram 1432 H / 4 Januari 2011

14 Komentar »

  1. hiks…
    Jadi kangen bunda…

    silakan berkunjung…
    http://popnote.wordpress.com

    Komentar oleh Agung Rangga — Januari 4, 2011 @ 2:29 pm | Balas

  2. wah-wah, thanks komennya… kok bisa terpesat sampai k blog saya?
    salam kenal ya

    Komentar oleh kangpandoe — Januari 4, 2011 @ 2:43 pm | Balas

  3. gak nyambung. judulnya bunda tapi gambarnya kucing. hwehe…

    jadi kapan ngasih mantu buat bunda?

    Komentar oleh Farijs van Java — Januari 5, 2011 @ 1:47 am | Balas

  4. Hai Fer? kapan kita jalan cari2 buku lagi sama si Yu-yu juga, kangen nih

    Komentar oleh kangpandoe — Januari 5, 2011 @ 1:52 am | Balas

    • ayok kapan? minta traktir si yuyu dong.😀

      eh, pan. salah tuh link blogku di sidebar-mu. ketambahan titik di depan.

      Komentar oleh Farijs van Java — Januari 6, 2011 @ 5:28 am | Balas

      • si yuyu sabtu minggu ini ada acara ke puncak, makan2 perpisahan orang PKKSI yg promosi ke PIP… makin lebar lah awaknya dia. oke dibenerin deh link-nya

        Komentar oleh kangpandoe — Januari 6, 2011 @ 9:10 am

  5. “bundamu ingin ada yang mendampingi nak, menemani dalam keseharian, jadi mana cucu yang kutunggu-tunggu itu..”

    Komentar oleh hergycah — Januari 5, 2011 @ 3:51 am | Balas

  6. eh ada Om Hergy, sotoy nih, lha wong bunda ku udah punya dua cucu yee ^_^

    Komentar oleh kangpandoe — Januari 5, 2011 @ 3:53 am | Balas

  7. 😀
    meski panjang..sama sekali tak membuat bosan..
    kita sama2 dibesarkan ibu2 perkasa, akh….
    ane juga dari seorang ibu single fighter…

    mm..
    jadi apa beda ‘ketenangan’ ini dengan ‘cinta/chemistry’?

    Komentar oleh reedai313 — Januari 5, 2011 @ 6:48 am | Balas

  8. @ akh Riki: hehe iya akh, jadi pengen banyak belajar dr antum… wah duh sepertinya yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya, lha wong yang nanya sudah lengkap agamanya, he7x… yang jelas klo chemistry nama mata pelajaran IPA di SMA dulu ^_^

    Komentar oleh kangpandoe — Januari 5, 2011 @ 7:26 am | Balas

  9. yee…hidup mamah uci….kata zulfa

    Komentar oleh dewiekawati — Januari 7, 2011 @ 5:57 am | Balas

    • hehe… zulfa ikut mamah uci aja boleh gak Mi?

      Komentar oleh kangpandoe — Januari 12, 2011 @ 10:37 am | Balas

      • waduh, kira-kira gimana ya?

        Komentar oleh dewi — Januari 13, 2011 @ 10:41 am

  10. Tak ada yang mampu dicintai oleh seorang bunda melebihi cinta pada anak-anaknya.. Itulah anugerah yang Allah tanamkan di hati setiap perempuan..
    Kecintaanmu pada bunda, sebening embun yang menggelayuti dedaunan di pagi hari, seindah tawa anak-anak kecil yang tak berguru pada dunia..
    Keep it that way, pandu.. ajarkan lebih banyak lagi kebaikan yang kau dapatkan darinya..

    Let’s meet.. so many things to ask.. hehe

    Komentar oleh Echi — Maret 28, 2011 @ 7:26 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: