Kangpandoe’s Weblog

April 22, 2011

Kritis tak Berarti tidak Objektif: Bincang-bincang Pembangunan Gedung Baru DPR

Filed under: Artikel — kangpandoe @ 6:02 am

“There are two freedoms; the false, where a man is free to do what he likes; the true, where a man is free to do what he ought”(Charles Kingsley)*

Sebuah pembangunan proyek infrastruktur, entah berupa jalan, jembatan, pelabuhan, ataupun gedung seyogianya disambut gembira dan didukung oleh banyak pihak. Pasalnya pembangunan identik dengan menggeliatkan roda perekonomian, meningkatkan government spending, dan pada gilirannya berdampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian suatu wilayah bahkan negara.

Namun hal tersebut nampaknya tidak serta merta berlaku bagi rencana pembangunan gedung baru DPR. Dari awal rencana digulirkan hal ini telah menjadi polemik di berbagai media. Pasalnya gedung baru yang dibangun dinilai kelewat mewah dengan dilengkapi berbagai fasilitas seperti SPA, fitness center, dan kolam renang.

Banyak kalangan menuding pembangunan tersebut sebagai sesuatu yang melukai perasaan rakyat. Terlebih jika membandingkan kinerja para wakil rakyat dengan fasilitas yang mereka peroleh, rasa-rasanya masih jauh panggang dari api.

Tak sulit melihat indikatornya, dari 70 RUU yang telah ditetapkan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2010, sampai dengan penutupan masa sidang II tahun sidang 2010-2011 hanya delapan dari 70 RUU tersebut yang berhasil diselesaikan oleh DPR, ditambah dengan delapan RUU kumulatif terbuka.
(more…)

Iklan

Desember 29, 2010

Sebuah Catatan untuk Konsumen dan Pelaku Bisnis on-line

Filed under: Artikel — kangpandoe @ 2:33 am

Suatu hari seorang kolega berkunjung ke kantor untuk mengadakan pertemuan informal dengan atasan dan kami. Beliau adalah salah seorang Ibu Asisten Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang cukup akrab dengan kami para pelaksana di Kemenkeu. Si Ibu baru saja kembali dari pertemuan ASEAN-OECD Workshop on Regulatory Reform di Hanoi Vietnam beberapa waktu lalu.

Cerita yang menarik untuk dibagi disini bukanlah tentang isi workshop tersebut, melainkan sisi menggelitik dari pengalaman beliau manakala harus menelusuri pelosok kota Hanoi di tengah malam demi menemukan Hotel yang ‘manusiawi’ dan terjangkau dari sisi budget. Lho kok bisa? Memangnya tidak dipesan waktu masih di Indonesia.

Usut punya usut ternyata Beliau menjadi ‘korban penipuan’ reservasi hotel secara on-line lewat sebuah web penyedia jasa layanan reservasi hotel. Hotel yang dipesan dan sudah dibayarkan lewat transaksi kartu kredit itu, ternyata dinyatakan penuh ketika beliau sudah sampai disana, padahal waktu telah menunjukkan larut malam, sekitar pukul 22.00 waktu setempat.

Alhasil, beliau pun terpaksa ‘berkeliaran’ di jalan-jalan kota Hanoi untuk mencari hotel yang pas di hati. Maklum, hotel-hotel bintang 3 ke bawah di Hanoi kebanyakan terkenal dengan citra kumuh dan prostitusi terselubungnya. Untungnya ada staf KBRI yang bersedia mendampingi, dan hotel yang pas dihati pun ditemukan tepat pada pukul 00.30 waktu Hanoi. (more…)

Agustus 25, 2008

Kangpandoe Ngerokok : Fakta Rokok di Indonesia

Filed under: Artikel — kangpandoe @ 10:03 am

( Tulisan Pertama dari Dua Tulisan )

Mulut asem…, gak bisa mikir…, dan lemes…, itulah kira-kira perasaan yang dialami seorang ‘ahli hisap’ bila sehari atau bahkan sejam saja belum menghisap dan mengepulkan asap rokok dari kerongkongannya. Alhamdulillah akang teh gak sampe jadi pecandu rokok yang parah kayak gitu….

He..he.. jadi inget waktu pertama kali nyobain ngerokok, waktu itu pas acara perpisahan kelas 3 SMP di Waduk Darma, Kuningan. Ada temen yang ngasih rokok, katanya lumayan efektif nih untuk menghangatkan badan ditengah cuaca dingin udara pegunungan.

Abis itu beberapa kali semasa kelas satu SMA temen sekamar dikosan (kakak kelas 3) sering ngasih beberapa batang rokok. Kemudian rokok-rokok tadi sebagian akang kasihkan ke orang yang memang bener-bener doyan rokok, tapi kadang-kadang kalau lagi stress tak hisap sendiri rokoknya… weleh…weleh.

Untungnya pas temen sekamar itu lulus, gak pernah lagi ada yang ngasih-ngasih rokok, dan alhamdulillah seumur hidup belom pernah beli rokok pake duit sendiri. He..he.. jaman SMA dulu, hidup dikosan jangankan buat beli rokok… bisa makan 3 kali sehari aja udah TOP ( Halah jangan suka mendramatisir kang, eh..beneran lho ).

Fatwa MUI : Haram Merokok

Fatwa haram merokok awalnya digagas oleh Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Seto Mulyadi. Kak Seto mengusulkan agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram merokok (khususnya bagi anak dibawah umur) guna menyelamatkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari bahaya racun rokok.

Akan dikeluarkannya fatwa ini kemudian mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak dan seperti biasa banyak juga yang menentang. Sementara pihak yang menentang, sebenarnya juga mengakui bahwa merokok pada dasarnya memang merugikan terutama kesehatan badan. Namun di sisi lain, mereka juga mengakui tidak sedikit sumbangan dari para pengusaha rokok. Beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa, sponsorship program lingkungan hidup, pemerdayaan masyarakat, pembinaan atlet olahraga, dan lainnya.

Dalam bungkus rokok sudah jelas-jelas tertulis merokok dapat mengakibatkan serangan jantung, kanker, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin sebagai bentuk pringatan kepada para penikmat dan pecandu rokok. Namun sepertinya peringatan tersebut hanya menjadi tulisan tanpa makna. Sebab, semakin hari semakin bertambah jumlah pecandu rokok di negeri ini. Tidak hanya pria dewasa yang sudah bekerja, namun anak-anak sekolah juga sudah mulai kecanduan dengan barang yang mengandung zat nikotin ini.

Di tulisan ini, saya mencoba menyajikan fakta dan solusi apa yang bisa kita pertimbangkan bersama untuk memperbaiki keadaan ini. Tentunya dari sudut pandang ekonomi dan keuangan donk sebagai field major akang, klo dari sudut fiqihnya insya Allah sudah banyak ulama-ulama kita yang berkompeten. Begitu juga dari sudut kesehatan, insya Allah sudah banyak ahlinya pula. Mudah-mudahan bermanfaat.. Amin.

Fakta Rokok di Indonesia

1. Sebanyak 57 juta penduduk Indonesia Merokok

Persentase penduduk yang merokok pada tahun 2004 adalah 34%, meningkat 7% dari tahun 1995 yang hanya sebesar 27%. penduduk laki-laki perokok sebanyak 63%, sedangkan wanita yang perokok 4,5%. Dengan mayoritas perokok mengkonsumsi rokok kretek (88%)

2. Lebih dari 97 juta penduduk Indonesia yang tidak merokok terpapar asap rokok secara terus-menerus

3. Hampir 80 persen perokok mulai merokok sebelum umur 19 tahun

Akibat informasi yang tidak sempurna yang dimiliki oleh konsumen tentang risiko kesehatan dan efek adiktif menyebabkan terjadinya kegagalan pasar pada konsumsi tembakau. Tepatnya 78% dari perokok Indonesia mulai merokok sebelum usia 19 tahun.
Nikotin bersifat sangat adiktif, faktanya perokok dibawah usia 15 tahun, dimana 8 dari 10 diantaranya gagal dalam usahanya untuk berhenti merokok. Tidak seperti barang konsumsi adiktif lainnya yang illegal, konsumen rokok secara terus menerus dihadapkan pada gencarnya iklan yang mempromosikan rokok sebagai suatu yang umum diterima di lingkungan sosial.

4. Separuh dari 57 juta perokok akan meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok

Nah lho ini fakta-fakta yang lebih mengerikan : setiap tahun 200.000 orang meninggal akibat merokok di Indonesia. 50% perokok aktif akan meninggal akibat merokok di Indonesia.
Parahnya lagi nih, ente catet semua… biaya kesehatan untuk mengobati penyakit yang terkait dengan merokok mencapai Rp2,9 triliun sampai dengan 11 triliun per tahunnya atau setara dengan 0,12% sampai 0,29% dari Produk Domestik Bruto.

5. Pada tahun 2005, rumah tangga dengan perokok menghabiskan 11,5% pengeluaran rumahtangganya untuk konsumsi tembakau

Sementara itu, hanya 11% digunakan untuk membeli ikan, daging, telur dan susu secara keseluruhan. 2,3% untuk kesehatan dan 3,2% untuk pendidikan. ( Nah, lho… untuk calon ibu-ibu pertimbangkan lagi lho klo calon suaminya sekarang perokok… hikz..hikz..)

Bersambung…

Sumber Utama Referensi :

1. Ekonomi Tembakau di Indonesia, Barber, Sarah, dkk. Lembaga Demografi FEUI. 2008
2. Kosen S. Bab 2 The Health Burden of Tobacco use. Dalam Tobacco Source book, Depkes RI.2004
3. P. Jha, FJ. Chaloupka, J. Moore, V. Gajalakshmi, PC Gupta, R. Peck et al. Tobacco addiction. Disease Control Priorities in Developing Countries. Oxford University Press. 2006
4. WHO, National Health Accounts. Indonesia. 2006
5. PDB berdasarkan anggaran (APBN) tahun 2007. Dalam Statistik Anggaran 2007-2008. Departemen Keuangan.

April 7, 2008

Nikah Dini ! Siapa Sie yang Gak Mau ?!

Filed under: Artikel — kangpandoe @ 10:00 am

Klo ngebahas masalah satu ini, ampun deh gak bakalan ada habis-habisnya, sumpeh. Apalagi buat para lajang dijamin ni masalah yang selalu hangat, aktual, dan menarik plus bakalan bikin kamu betah berjam-jam cuma buat ngomongin ini masalah.

Di tulisan ini saya gak mau bicara macem2 tentang nikah dini coz buku-buku yang ngebahas itu udah banyak buanget alias udah bejibun. Cuma ada satu hal ni yang menurut-ku menarik untuk dibahas, yaitu gimana kita melihat nikah dini dari sudut pandang dan bahasa yang berbeda dari apa yang sering dipaparkan oleh buku-buku tersebut, serta menguak berbagai fakta lapangan yang terjadi akibat maraknya propaganda tentang nikah dini.

Ada dialog yang lucu banget antara aku dan temen sekosku yang kuliah di FK UI tentang topik yang satu ini. Bermula dari kabar akan menikahnya kakak kelas kami di SMA dulu ( aku dan temenku ini dulu satu SMA en satu organisasi DKM alias Rohis ) terjadilah dialog ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, namun di ujung-ujungnya ada beberapa kesepakatan atas pembahasan Kami tersebut. Begini ceritanya :

(T) :  Ndu kapan mau nyusul nikah, nunggu apalagi kerjaan udah punya?

(A) : Nikah itu bukan urusan satu-dua hari lho Min, dibalik itu terselip tanggungjawab yang besar. Aku sie awalnya pingin nikah setahun setelah wisuda tapi kemarin dah bilang ke mamah belum diijinin aku harus S-1 dulu syaratnya. Kamu sendiri kapan hayoo? Kan udah S.Ked tinggal nunggu gelar dokternya…

(T) : Aku sie dirumah udah ditawarin beberapa calon sama orang tua ada yang sekarang kuliah di kedokteran di bandung, ada yang kuliah di UNJ dan ada satu lagi yang kuliah di Kebidanan. Tapi ku bilang nanti dulu coz aku juga belum siap untuk nikah planningku untuk nikah 3 tahun lagi.

(A) :   Klo aku dulu waktu mau lulus dari STAN, kakak sepupuku itu suka ngelobi mamah katanya, “Bu’le nanti sebelum penempatan ke daerah disuruh nikah aja dulu, kan lebih enak klo pas penempatan itu udah bawa temen dari sini daripada nyari disana…ntar ta cariin deh gampang.” Eh ternyata aku penempatan di Jakarta.

(T) :   Jadi, gimana nie kapan nikahnya?

(A) :   Beberapa waktu lalu Muroby sempat bilang ke forum masalah ini, kata beliau “Karena di STAN nikah dini dianggap sebagai suatu prestasi tersendiri bagi ikhwan-akhwat saya tidak ingin kalian terbawa euphoria seperti itu dan menonjolkan semangat untuk nikah dini tapi menomorduakan planning yang matang karena nikah itu bukan urusan satu-dua hari saja akhi.” Beliau menambahkan “ Saat ini sebenarnya kalian dihadapkan pada pilihan antara nikah dulu atau pengembangan diri dulu, tidak semua orang yang nikah dini itu bisa mensejajarkan pengembangan dirinya lho. Sering saya menemukan orang yang menikah dini justru pengembangan dirinya menjadi terbengkalai dan aktivitas dakwahnya menjadi kendur. Ini bukan berarti saya kemudian melarang antum semua untuk nikah dini, hanya saja tolong di review lagi apa hukum nikah bagi antum saat ini? Sudahkah wajib atau jangan-jangan sunnah saja belum?”

(T) :  Klo aku dulu sempet kepikiran mau nikah sie, tapi nikahnya itu untuk menghalalkan pacarannya dulu… ya jadi aktivitas setelah nikahnya itu layaknya orang berpacaran aja, masih tinggal dirumah masing-masing, kuliah tetep jalan, dan tiap week end bisa jalan kemana-mana berdua Tapi, waktu kutanya ma Ustadz aku malah diomelin itu makruh katanya “Kamu kok mau enaknya aja.”

(A) :   Walah kok pemikirannya sama sieh, aku juga dulu pingin banget nikah dini supaya menghalalkan pacarannya dulu aja coz secara kesiapan menjadi orang tua kayanya belom siap nih wong jalan kemana-mana aja masih suka dipanggil Ade’

(T) :  Hahaha

(A) :  Eh Min, ternyata rumah tangga ikhwan-akhwat ada juga lho yang mengalami krisis perceraian?

(T) :   Ah, masa sih, masa kayak gitu?

(A) :   Iya, awalnya juga aku mikirnya ikhwan-akhwat tu saling menerima, sabar dan sebagainya tapi aku diceritaain kakak sepupuku di pondok gede. Dia sering jadi konsultan pernikahan untuk ikhwan-akhwat katanya dia sering nemuiin kasus-kasus perceraian atau keretakan rumah tangga di kalangan ikhwan-akhwat.

(T) :  Wah, penyebabnya apa Ndu?

(A) :  Rata-rata ya hal-hal manusiawi seperti masalah ekonomi, masalah keluarga, emosi yang masih labil karena nikah dini belum didukung persiapan yang optimal…de el el

{ Kesepakatan pertama ‘nikah memerlukan planning yang mantap dan saat ini hukum nikah bagi kami belum wajib’ }

(T) :  Ndu klo kamu nikah nanti rencananya ta’aruf lewat murobbiy ato gimana?

(A) : Aku pernah nanya ke Murobi sie tentang best practice-nya, jawabannya tidak harus lewat Murobiy. Klo dulu memang harus lewat Murobiy karena jumlah kader masih sedikit dan kualitas kader perlu dijaga. He..he..jadi kayanya aku klo udah siap bakal ngomong langsung ke orangnya klo orangnya udah oke langsung menghadap ke orang tuanya.

(T) :  Wah, sama Ndu aku juga pinginnya kaya gitu…kan sebenarnya yang punya hak adalah orang tuanya.

(A) :   Iya bukankah Hasan Bashri pernah melamar Rabi’ah Al Adawiyah secara langsung, dan Sahabat Abdurrahman bin Auf r.a. melamar Ummu Hakim binti Qarizh rh.a secara langsung.

{ Kesepakatan kedua ‘tidak harus lewat Murobiy’ }

(A) : Min, klo di UI biasanya nikahnya sesama anak kedokteran lagi ya?

(T) : Biasanya sih iya, umumnya sie di kita jangan berharap dapet temen seangkatan coz itu udah jadi jatahnya kakak kelas di FK tu udah rahasia umum.

(A) : Kok gitu ya, klo gitu pada maen tek-tekan dong?!

(T) : Apaan tu tek-tekan?

(A) : Itu lho menetapkan target jauh-jauh hari…btw gimana menurut pendapatmu, boleh ga kita ngungkapin perasaan kita dulu ke seseorang dan berjanji akan menikahinya beberapa tahun lagi misalnya?

(T) : Klo soal tek-tekan ga tau ya, mungkin ada tapi klo menurutku menyimpan di hati boleh aja coz namanya juga perasaan suka. Nah, yang gak boleh klo udah ngungkapin plus ngejanjiin mau dinikahi bbrp tahun lagi klo udah siap nikah ya langsung aja. Aku juga pernah ditanya adek kelas pertanyaan yang sama terus ku jawab jodoh itu di tangan Allah jadi klo emang udah jodoh kita gak bakalan kemana. Trus kata adek kelasku lagi “ klo diambil duluan sama orang gimana bang?” jawabku gampang aja yaa itu namanya bukan jodoh-mu, klo dia memang ditakdirkan jadi jodohmu entah gimana caranya mungkin dia jadi janda dulu baru kemudian bisa kamu nikahi.

(A) : ha..ha..ha..

(T) :   Aku ada cerita tentang masalah ini di kampus X di bandung ada dua orang ikhwan akhwat yang bertahun-tahun ada pada satu amanah, ketika si ikhwan lulus kuliah dia kerja di Jakarta dan otomatis posisi-nya di amanah tsb diganti sama adek kelasnya.

Rupanya sejak lama si ikhwan ini punya perasaan suka sama akhwatnya, coz pernah suatu hari dia datang jauh2 dari Jakarta ke Bandung hanya untuk ngelihat si akhwat itu..

Seiring berjalannya waktu ternyata si adek kelasnya ini yang langsung duluan menghadap ke orang tua si akhwat untuk meminangnya, pinangannya diterima dan undangan pun sampailah ke tangan si ikhwan yang ada di Jakarta tadi.

Apa yang terjadi adalah si ikhwan kecewa berat dan gak menghadiri sama sekali walimahannya.

(A) : lho kan menghadiri undangan walimah klo kita diundang hukumnya wajib?

(T) : namanya juga orang patah hati, ndu.

(A) : ehhm… ya ikhwan juga manusia, emang perasaan suka adalah fithrah manusia yang gak bisa di hilangkan begitu aja, tapi yang penting disini adalah gimana caranya supaya prosesnya itu bisa berlangsung dengan cara yang benar jadi klo pun orang yang kita suka belum jadi jodoh kita kita gak kecewa berat dan menyerahkan urusannya kembali kepada Allah.

{ kesepakatan ketiga ‘suka boleh aja, tapi ga usah pake tek-tekan ya dan pandai-pandailah menjaga hati’ }

Nb : Tulisan ini murni cuma sekedar obrolan dan opini dari kita berdua di dalamnya gak di dukung sama sekali oleh dalil atau argumentasi kuat lainnya, oleh karenanya diskusi lebih lanjut dan masukan lainnya sangat diharapkan dalam rangka mencari kebenaran.

Maret 24, 2008

Janji Allah Bagi Yang Hendak Menikah

Filed under: Artikel — kangpandoe @ 1:09 am

(Sebuah re-package dari e-mail yang dikirim oleh seorang sahabat)

 

Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…

1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)

Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.

2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.

Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160) [1]

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)

Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dan seterusnya.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll. [2]

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia [3], pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll. [4]

Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dan lain-lain. [5]

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad). [6]

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35). [7]

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim). [8]

6. ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)

Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.

7. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)

Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.

8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)

Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)

10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)

Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?

 

 

Chandraleka

hchandraleka(at)telkom.net

 

 

Footnote:

[1] Lihat Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Konsep Perkawinan dalam Islam, Pustaka Istiqomah, Cet. II, 1995, hal. 12

[2] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Sebab Terkabulnya Do’a, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. I, Des 2004, hal. 1 – 2

[3] Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni.” Demikianlah keadaannya hingga fajar terbit.

Blog di WordPress.com.