Kangpandoe’s Weblog

Desember 27, 2010

Belajar Dari Pohon Kelapa

Filed under: Motivasi — kangpandoe @ 12:14 pm

(Sebuah Refleksi dari Perilaku Organisasi Seorang Pegawai)

“Belajar dari pohon kelapa” sebuah tema sederhana yang menjadi bahasan pertemuan pekanan kami di salah satu selasar Masjid Baitul Maal sekitar tiga tahun silam, menjelang prosesi wisuda dan pengumuman penempatan instansi kerja.

Sebagai calon abdi Negara ketika itu, kami dihadapkan pada sebuah transformasi antara dunia kampus ke dunia kerja yang masih asing dan penuh teka-teki. Doktrin yang sering dihembuskan ketika itu adalah,”PNS harus siap ditempatkan dimana saja”. Hingga pada akhirnya ketika kemampuan memilih unit eselon I tidak lagi menjadi privilege angkatan kami, kami pun menyiapkan mental untuk siap ditempatkan dimana saja.

Belajar dari pohon kelapa

Pohon kelapa adalah spesies tumbuhan yang unik, karena kita dapat menemukan habitatnya sejak dari tepi pantai nan terik, sampai ke daerah perbukitan nan sejuk. Kalau sejenak kita mentadaburkannya setidaknya kita akan menyimpulkan bahwa tumbuhan ini memiliki kemampuan adaptif yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang di tempat tumbuh yang memiliki karakteristik berbeda-beda.
Keunikan lain dari tumbuhan ini adalah kemanfaatan yang dapat diambil manusia padanya sangat banyak dan beragam. Selain buah dan airnya, manusia pun dapat mengambil manfaat dari daunnya, batoknya, sabutnya, bahkan batangnya. Subhanallah.

Sampai di sini jelas pelajaran yang dapat kita ambil ada dua, mampu ditempatkan dimana saja dengan kemampuan adaptasi yang baik dan berikanlah kemanfaatan yang sebesar-besarnya dimana pun kita berada. Karena bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sebuah Anomali (more…)

Iklan

Desember 22, 2008

3 Angin dan Seekor Kera

Filed under: Motivasi — kangpandoe @ 11:05 am

Pada zaman dahulu kala, tersebutlah 3 buah angin yang tengah bercengkrama satu sama lain. Mereka adalah angin puyuh, angin topan, dan angin sepoi-sepoi. Ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba seekor kera yang sedang asyik bermain dan bergelantungan di dahan sebuah pohon besar nan rindang mengusik perhatian ketiga angin ini.

Angin Puyuh berkata, “Hai teman-temanku! Mari kita bertaruh siapakah gerangan yang dapat menjatuhkan kera itu dari pohon, dia akan kita angkat sebagai pemimpin dan yang paling hebat diantara kita bertiga.” ujarnya pada kedua orang kawannya.

“Aku setuju usulmu Angin Ribut,” kata Angin Topan. “Bagaimana denganmu Angin Sepoi-Sepoi?” Tanya mereka berdua. “Aku menurut saja usul kalian,” kata Angin Sepoi-Sepoi datar.

Setelah mereka berembuk, akhirnya diputuskanlah Angin Puyuh yang mendapatkan giliran pertama menjatuhkan sang kera dari tempatnya bergelantungan. Angin Puyuh mengeluarkan semua kekuatannya untuk menjatuhkan sang kera dari dahan tempatnya bergelayutan. Akan tetapi, semakin keras Angin Puyuh berusaha, semakin keras pula sang kera berpegangan pada pohon besar nan kokoh tersebut.

Setelah melihat usaha kawannya menemui kegagalan, Angin Topan berkata dengan pongahnya, “Kalau kekuatanmu hanya segitu mana bisa kau menjatuhkan si kera, coba kalian lihat aku.” Ucapnya kepada kedua kawannya.

Angin Topan mengerahkan seluruh kekuatannya, kekuatan Angin Topan memang lebih dahsyat dari kawannya si Angin Puyuh. Akan tetapi yang terjadi adalah sang kera lebih keras lagi 3 kali lipat untuk berpegangan pada pohon besar itu. Sang Kera menggunakan kaki, tangan, dan ekornya untuk berpegangan kuat-kuat.

Akhirnya Angin Topan pun putus asa. “Baiklah teman-teman sekarang giliranku untuk mencoba,” ujar si Angin Sepoi-Sepoi. Teman-temannya menertawakannya. “Kami saja yang lebih kuat dari mu tidak berhasil menjatuhkannya, apalagi kamu.” Ejek mereka.

Angin Sepoi-Sepoi tidak memperdulikan ejekan kawannya, ia turun perlahan mendekati pohon besar dimana sang kera bergelantungan. Perlahan tapi pasti dia mulai beraksi, hembusannya yang meneduhkan lama kelamaan membuat sang kera mengantuk. Apalagi sebelumnya, sang kera kelelahan setelah dihantam oleh Angin Puyuh dan Angin Topan. Lambat laun dia katupkan matanya, dan yang terjadi akhirnya adalah kejatuhan sang kera tak terelakkan lagi.

Jangan terbuai dengan zona nyaman

Sering dijumpai seseorang yang ditimpa berbagai tantangan dan ujian yang susah namun dia sanggup melewatinya dengan baik. Adakalanya seseorang ketika dia sudah merasa nyaman dengan lingkungan yang memiliki sedikit tantangan, tidak ada gejolak yang berarti, dia akan merasa terlena dan parahnya dia lupa berpegang pada prinsip hidupnya yang seharusnya selalu dia pegang teguh.

Akibatnya fatal, dia terjatuh… Nah, kisah diatas mencoba mengingatkan kita untuk hati-hati pada ujian bertipe “Angin Sepoi-Sepoi” ini. Salah-salah tak waspada, kita bisa jatuh dibuatnya. Sewaktu diuji dengan kesusahan dan penderitaan kita kuat. Ketika diuji dengan kesenangan dan kemewahan dunia jangan-jangan kita kurang waspada dan akhirnya terjatuh. Naudzubillah.

Agustus 4, 2008

Rindu Ramadhan

Filed under: Motivasi — kangpandoe @ 10:01 am

Sahabat, tahukah kita bahwa rumah-rumah produksi dan TV station dalam rangka mempersiapkan tayangan-tayangan Ramadhan bisa melakukan persiapan sampai 6 bulan lamanya sebelum Ramadhan tiba? Luar biasa memang, dengan bisnis sebagai motivasi besarnya mereka telah bekerja keras mengeluarkan semua inovasi, kreasi, tenaga dan fikiran sampai sumber daya finansial dalam jumlah besar dalam rangka mempersiapkan tayangan-tayangan Ramadhan yang mampu menyedot penonton dan ujung-ujungnya mampu menaikkan ratting sehingga pundi-pundi rupiahpun dapat mengalir.

Saya rasa sobat juga sudah mahfum bahwasanya Rasulullah Saw mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan 4 bulan lamanya sebelum Ramadhan tiba. Nah pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dengan kita? Apa dan bagaimana persiapan kita untuk menyambut tamu agung yang hanya datang setahun sekali ini? Kalaulah PH dan station TV dengan motivasi bisnisnya telah melakukan persiapan sedemikian rupa, lantas bagaimana dengan kesunguhan persiapan kita sebagai umat Rasulullah Saw menyambut Ramadhan?

Mengapa Perlu Mempersiapkan Diri Menyambut Ramadhan?

Ibarat sang tamu agung yang kedatangannya akan membawa banyak hadiah luar biasa yang sangat kita butuhkan, sungguh tamu agung ini tidak akan begitu saja memberikan hadiahnya kepada kita. Hanya sang tuan rumah yang mampu menyambut sang tamu dengan sebaik-baiknya, memenuhi seruan-seruannya, dan memulyakannya dengan kemulyaan yang pantaslah yang akan mendapatkan banyak hadiah-hadiah besar tersebut. Jika sang tuan rumah acuh tak acuh, masa bodoh atau hanya ala kadarnya saja menyambut sang tamu maka sebuah keniscayaan pula sang tamu hanya akan berlalu saja meninggalkan sang tuan rumah tanpa banyak hadiah berarti yang bisa diberikan.

Demikian halnya dengan kita sungguh kitalah sang tuan rumah dan Ramadhan adalah sang tamu agung itu. Ia datang dengan membawa hadiah-hadiah nan istimewa. Rahmat Allah SWT, ampunan-Nya, jutaan kesempatan meraih pahala, kesempatan meraih pembebasan dari api neraka, dan tentu saja kesempatan meraih predikat taqwa di sisi Allah SWT. Rasulullah Saw mengajarkan kita untuk memperbanyak doa di bulan Ramadhan dengan memohon kepada Allah diberikan surga dan dijauhkan dari api neraka karena dua hal itulah yang sangat kita butuhkan dan melalui Ramadhanlah sarana agar keduanya dapat diraih.

Persiapan Seorang Mu’min Menyambut Ramadhan

Sungguh seruan puasa di bulan Ramadhan ini hanya ditujukkan bagi orang-orang yang beriman, maka selayaknyalah setiap pribadi yang mengaku beriman bersiap-siap menyambut seruan ini dengan persiapan yang sebaik-baiknya. Dalam kajian Tarhib Ramadhan di Masjid Baitul Maal Kampus STAN (03/08), Ust. Musyaffa A. Rahim, Lc menyampaikan sejumlah hal yang hendaknya dilakukan oleh seorang Mu’min untuk mempersiapkan kedatangan Ramadhan, berikut inti sari kajian beliau.

  1. Memperbanyak Doa ; Perbanyaklah meminta kepada Allah SWT agar dipertemukan oleh Allah dengan bulan Ramadhan tahun ini karena siapa yang tahu umur manusia bukankah apa yang akan kita alami nanti malampun tidak kita ketahui. Kemudian mintalah agar kita diberikan kesehatan dan kemampuan untuk dapat mengisi Ramadhan dengan berbagai amal shalih. Terakhir jangan pula lupa untuk memohon perlindungan agar dijauhkan dari hal-hal yang dapat merusak Ramadhan kita kali ini.
  2. Memperbanyak Puji dan Syukur kepada Allah ; Kita bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan dan nikmat yang diberikan sehingga kita masih bisa menikmati setiap tarikan dan hembusan nafas di bulan Rajab dan Sya’ban mudah-mudahan dengan rasa syukur tadi Allah tambahkan nikmat-Nya sehingga kita bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan yang mulia.
  3. Bergembira ; Nampaknya tidak ada alasan untuk tidak bergembira menyambut kedatangan Ramadhan. Pintu-pintu surga dibuka seluas-luasnya dan pintu-pintu neraka dikunci rapat dan setan-setan dibelenggu. Amal ibadah dilipatgandakan nilainya, nafas kita bernilai tasbih dan tidur kita dinilai sebagai ibadah. Lantas apalagi yang menyebabkan kita tidak berbahagia?
  4. Susun Rencana Ramadhan ; Sifat dasar dari waktu adalah cepat berlalu dan tak bisa diulang oleh karenanya apabila kita tidak memanage waktu dengan baik maka waktulah yang akan memanage kita. Nah Sahabat, yuuk kita susun rencana terbaik di Bulan Ramadhan. Jangan biarkan tiap detik Ramadhan berlalu begitu saja!
  5. Bulatkan Tekad Untuk Mengisi Aktivitas Ibadah di Bulan Ramadhan ; Keberhasilan seseorang dalam mencapai cita-citanya berbanding lurus dengan seberapa besar tekad yang ia miliki. makin kuat tekad seseorang maka makin besar pula peluangnya untuk sukses. Sebuah contoh kecil ketika pada suatu Ramadhan Ustadz Musyaffa diundang untuk memberikan taujih dan kultum tarawih di sebuah lokasi pertambangan lepas pantai. Kondisi pertambangan di laut lepas begitu terik di siang hari disana Ustadz menemukan banyak pekerja yang tidak berpuasa. Namun yang menarik banyak pula yang tetap menjalankan shoum sebagaimana biasanya. Menjawab rasa keingintahuannya ustadz Musyafa melakukan interview kepada beberapa orang pekerja. Subhanallah jawaban mereka ternyata yang membuat mereka tetap kuat menjalankan puasa walaupun bekerja di pengeboran/pertambangan lepas pantai yang terik adalah tekad yang kuat untuk tetap berpusa. “Semua bergantung tekadnya ustadz,” ujar mereka.
  6. Refresh Pengetahuanmu Tentang Fiqh Shiyam dan Ramadhan ; It’s mean bahwa kita sudah pernah membaca, mendengar atau mengetahuinya. So, segarkan kembali pengetahuan dan wawasanmu mengenai Fiqh Shiyam dan keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan. Insya Allah hal ini bisa menjadi salah satu trigger agar kita lebih mencintai Ramadhan.
  7. Bertekad Untuk Meninggalkan Dosa ; Ali Bin Abi Thalib ra pernah bertanya kepada Rasulullah Saw “Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini (Ramadhan)?” Rasulullah menjawab ” Ya Abul Hasan amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”
  8. Kondisikan Hati dan Jiwa Baik Melalui Bacaan, Kaset, dan Media Lainnya ; Yup, gunakanlah sarana dan media-media yang mampu mengkondisikan hati dan jiwa agar condong kepada fithrah kebenaran dan kesucian jiwa manusia.
  9. Susun Rencana Kerja Dakwah Khusus Ramadhan ; Di saat gelora dan semangat manusia cenderung kepada kebaikan maka inilah kesempatan emas kita untuk berdakwah. Madh’u (objek dakwah) menjadi siap dan cenderung untuk senantiasa melakukan dan mendengar hal-hal yang baik di bulan Ramadhan. So, jangan lewatkan kesempatan berdakwah di bulan ini.
  10. Tekad Menjadikan Ramadhan Sebagai Titik Awal Lembaran Baru Hidup Kita ; Sering kali seseorang membutuhkan momentum berharga sebagai titik tolak yang mampu merubah arah hidupnya menjadi lebih baik. Adakalanya seseorang akan mencari-cari alasan menunggu momentum yang tepat untuk merubah arah hidupnya menjadi lebih baik. Misalnya saja sering kita dengar “Kalau sudah tua saya akan sembahyang.” Sekarang udah gak jamannya lagi untuk menunda-nunda seperti itu, jadikan Ramadhan sebagai titik tolak yang baik untuk merubah semua kebiasaan buruk kita dan menuju orientasi kehidupan yang lebih baik. Siapa yang tahu kalau Ramadhan tahun depan kita masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan lagi.

April 14, 2008

Mencari Kompetitor Terbaik

Filed under: Motivasi — kangpandoe @ 4:32 am

Kompetisi adalah fithrah manusia

Sepertinya telah menjadi fithrah manusia untuk selalu berkompetisi dan senang melakukan kompetisi di dunia ini. Betapa tidak sesungguhnya untuk terlahir ke dunia ini saja kita telah berkompetisi. Ketika jutaan sel sperma berkompetisi untuk membuahi sel telur dalam rahim ibu, toh hanya satu dari berjuta-juta sel sperma itu yang keluar menjadi pemenang dan jutaan lainnya harus mati dalam kompetisi ini. Subhanallah, betapa Maha Suci Allah, kalau mengingat kembali cerita ini sungguh saya merasakan bahwa Allah telah menciptakan saya dari kualitas terbaik sang pemenang dengan jutaan kompetitor. Maka ketika saya harus berhadapan dengan sebuah kompetisi lainnya di dunia ini sungguh tidak layak bagi saya untuk gentar menghadapinya.

Allah SWT sendiri mengatakan di dalam Al Qur’an Surah Al Mulk ayat 2 bahwa diciptakan-Nya hidup dan mati manusia adalah untuk menguji siapa manusia yang paling baik amalnya. Dan di ayat lainnya kita juga diperintahkan agar berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan (fastabiqul khoirot). Artinya kembali lagi disini kita berkompetisi untuk menjadi manusia yang paling baik amalnya disisi Allah SWT.

Temukan Kompetitor-mu

Sahabat akang, setuju gak klo akang bilang tanpa kompetisi dunia ini kurang menarik? karena dengan adanya kompetitor-lah kita bisa mengefisiensikan dan mengefektifkan seluruh potensi dan resources yang kita miliki. Dengan kompetisi kita bisa lebih bergairah dan termotivasi dalam belajar, bekerja, berkarya, berinovasi dan tentu saja beribadah. Setiap pertandingan akan terasa nikmat disaksikan bila ada kompetisi di dalamnya.

Tengok saja persaingan antara Umar Ibn Khotob r.a. dan Abu Bakar r.a. sebuah kompetisi sehat yang membangun semangat untuk terus meningkatkan potensi kebaikan. Ketika Umar r.a. mengira dengan menginfakan separuh hartanya kali ini ia akan mampu untuk mengalahkan amal shalih Abu Bakar r.a. maka Abu Bakar r.a. pun menginfakan seluruh hartanya di jalan Allah, sampai-sampai ketika beliau di tanya oleh Rasulullah SAW apa yang disisakannya untuk keluarganya, Beliau menjawab; “Allah dan Rasul-Nya”.

Dalam konteks budaya kekinian kita bisa berkaca dari sebuah film yang menurut akang sangat bagus untuk di saksikan, apalagi oleh remaja kita. Film ini berjudul “dragon sakura” menceritakan kisah tentang 6 orang anak SMA “ecek-ecek” di Jepang yang bercita-cita masuk ke To Dai (Tokyo University) universitas elit nomor satu di Jepang di bawah bimbingan seorang sensei yang mantan ketua kelompok genk motor. Perjuangan mereka sangat unik, karena sebelum mereka berani bercita-cita untuk masuk ke To Dai, sekumpulan anak-anak desperate ini harus berjuang dulu melawan keyakinan diri mereka sendiri, berjuang melawan cemoohan dari berbagai pihak, berjuang melawan kondisi keluarga masing-masing, hingga pada akhirnya berjuang dan berkompetisi melawan para pesaing di ujian masuk To Dai.

Hal yang akang garis bawahi dari film itu adalah cara mereka belajar. Mereka menjadikan setiap kegiatan belajarnya sebagai kompetisi sesama mereka dengan cara yang unik, setiap yang mendapatkan nilai terendah harus memakai ikat kepala bertuliskan “DUMB” dan ikat kepala ini baru bisa dilepas kalau dia mendapatkan nilai yang lebih baik. Mereka telah berhasil menemukan visi yang sama, kemudian menjadikan sahabatnya sebagai kompetitor terbaik bagi mereka sendiri untuk sama-sama mengejar cita-cita.

(eh..eh.. kok jadi nulis resensi film nie….ending-nya yang keterima di To Dai cuma 3 orang dari 6 orang itu lho, jadi gak semuanya happy ending)

Begitu-pun kita, saya sendiri sangat ingin menemukan sahabat sekaligus kompetitor dalam hidup ini. Dengan keberadaannya saya akan selalu merasa termotivasi, terinspirasi dan bergairah dalam hidup ini. Seperti Umar r.a. dan Abu Bakar r.a. atau seperti Abdullah Ibn Umar dan sekumpulan kawannya yang berani men-declare cita-citanya dan mewujudkannya bersama-sama. Subhanallah alangah indahnya seperti itu.

Kompetitormu Bukanlah Musuh-mu

Musuh abadi manusia Allah katakan dalam Al Qur’an adalah Syaithon laknatullah ‘alaih. Oleh karenanya siapapun dia yang menjadi kompetitor kita harus kita maknai sebagai sparing partner yang akan membantu kita melejitkan potensi diri kita. Ia adalah cerminan dari capaian kerja keras kita selama ini, kalau ia lebih hebat itu artinya kita mesti harus lebih banyak berlatih lagi. Kalau suatu saat kita yang lebih unggul artinya ada satu nilai lebih yang kita sudah miliki namun belum dimiliki oleh kompetitor kita dan kita harus menjaga bahkan membuat inovasi baru lagi untuk meningkatkannya.

Wallahu’alam bishowab

Maret 25, 2008

Never Stop to Dream and Then Reach for It

Filed under: Motivasi — kangpandoe @ 7:59 am

Suatu hari ada seorang teman yang mengatakan, “Hmm sekarang kok aku merasakan kalau hidup-ku tidak bergairah.” “Kenapa Sobat?” tanyaku kemudian. Temanku itu mengatakan kalau mungkin yang menjadi penyebab semua itu adalah saat ini dia tidak punya mimpi yang secara spesifik ingin dicapainya. Dulu sewaktu SMA sobatku ini bercerita dia dengan penuh semangatnya berjuang untuk menembus olimpiade MIPA tingkat nasional yang dengan perjuangannya itu justru dia sangat menikmati setiap tetesan keringat, curahan fikiran dan tenaga yang dia kerahkan. Subhanallah.

Nah, sobat akang yang lain pernah gak ngerasain hal serupa?

Sobat sesungguhnya penyakit yang paling parah yang diderita manusia adalah penyakit ketiadaan mimpi dan cita-cita. Betapa tidak, karena berkat mimpi-mimpi itulah kita sekarang bisa mencapai berbagai macam hal yang ketika hal itu disampaikan pada zamannya akan dianggap sebagai sesuatu hal yang mustahil. Melalui keyakinan dan kerja keras dari “Para Pemimpi” di setiap zaman itulah maka sekarang kita bisa menikmati komputer, lampu, telephone, Hp, dan lain-lain.

Mimpi adalah manifestasi dari nilai luhur naluri manusia yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada setiap hambanya yang menginginkan pencapaian suatu hal yang agung. Bukankah Allah sendiri pernah menantang hambanya apabila mereka sanggup menembus tujuh lapis langit dan bumi maka tembuslah dan kita takkan pernah bisa melakukannya kecuali dengan “Sulthon” atau kekuatan. Kekuatan ilmu pengetahuan, kekuatan teknologi dan tentu saja kekuatan manusia-manusia yang berani bermimpi. Mimpi tentang sesuatu yang tak pernah terbersit sedikitpun oleh para penghancur mimpi yang hanya biasa memandang hidupnya dari kumpulan rutinitas.

Mulailah Bermimpi

Ya, jangan tunda lagi siapapun kita mulai sekarang renungkanlah kembali apa saja yang ingin kita raih, apa impian terbesar kita, kapan kita harus mencapainya, dan mengapa kita harus mencapainya. Nah, setelah kita selesai menentukan apa yang menjadi mimpi kita kemudian tulislah mimpi itu dan sampaikan kepada orang lain yang kita percaya akan menjadi motivator kita dalam mencapai mimpi itu. Lalu yang terakhir adalah “Just do It” dengan memulai melakukan apa-apa yang kita anggap paling penting untuk dilakukan kemudian setelah itu kita lakukan juga apa-apa yang mungkin untuk kita lakukan, insya Allah tanpa terasa kita akan melakukan sesuatu yang tidak mungkin.

Suatu ketika Abdullah Ibn Umar berkumpul bersama para sahabatnya, kemudian sekumpulan sahabat karib ini saling bercerita untuk mengungkapkan cita-cita mereka masing-masing. Diantara mereka ada yang bercita-cita menjadi Gubernur di Irak, ada pula yang berkeinginan untuk menikah dengan dua orang Sahabiah sekaligus, dan ketika Abdullah Ibn Umar ditanya tentang mimpinya beliau menjawab, “Aku ingin masuk surga.” Diceritakan setelah bertahun-tahun setelah itu, sahabat yang bercita-cita menjadi Gubernur di Irak telah mendapatkan mimpinya. Sahabat yang satu lagipun telah mendapatkan keinginannya untuk menikahi dua orang sahabiah sekaligus. Adapun Abdullah Ibn Umar dikenal sebagai seorang sahabat yang sangat Alim dan Abid serta amat sangat mencontoh Rasulullah Saw di dalam kehidupannya. Sampai-sampai ketika berjalan melintasi suatu pohon beliau menundukan kepalanya disebabkan beliau pernah melihat Rasulullah menundukan kepalanya ketika melintas di bawah pohon tersebut.

Jangan sampai kita terjebak dengan rutinitas, bukankah hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Perbaiki kembali niat dan motivasi kita setiap hari. Ada sebuah ilustrasi menarik mengenai seekor anjing yang jago lari. Suatu hari ia berjumpa dengan sahabatnya sesama anjing dan berkata dengan sombongnya, ” Apa sih yang gak bisa ku kejar, kuda aja kalah sama lariku.” Kemudian dihadapan mereka melintaslah seekor kelinci sambil melompat-lompat, kucluk, kucluk, kucluk. Teman sang anjing jago lari berkata, ” Nah tuh ada kelinci kejar aja dia sana!” Anjing jago lari itu pun langsung tancap gas mengejar sang kelinci, wuussss…., ternyata kelinci lari lebih kencang. Si anjing semakin ngotot mengejar dan kelincipun semakin cepat pula menghindar dan dengan cepat ia masuk kedalam lubang. Sang kelinci pun tak terkejar. Anjing jago lari tadi kembali ketemannya dan temannya pun tak ampun lagi menertawakan kebodohannya. “Ah kau ini, katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa terkejar.” Kata temannya. Apa jawab si anjing jago lari?

“Habis dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, sementara aku goal-ku hanya untuk sekedar fun aja.” Kata anjing yang jago lari. Nah, makanya dalam setiap kesibukan kita harus ada yang kita jadikan sebagai value added jangan sampai goal kita dalam hidup ini hanya untuk sekedar “Fun” saja yang dengan utopisnya kita gaungkan muda bahagia, tua kaya raya, mati masuk surga tanpa disertai effort yang bernilai lebih ya hasilnya cuma terengah-engah saja deh.

Bagaimana Memulai Mimpi?

Rumusnya apa ya?! Hmmm…. bermimpilah dengan SMART !!!

S= Spesifik, bermimpilah dengan spesifik jangan mimpi yang samar-samar misalnya saya bermimpi untuk sekolah S2 diluar negeri, di Birmingham University di usia saya yang ke 29 tahun dengan beasiswa.

M= Measurable, bermimpilah dengan keterukuran, misalnya saya bermimpi memiliki penghasilan sebulan 100 juta

A= Antusiasme, bermimpilah dengan niat dan motivasi yang kuat untuk mencapainya. Bagaimana caranya, salah satu tipsnya dengan menceritakan mimpi kita kepada sahabat terpercaya.

R= Realistic, bermimpilah dengan menuliskannya kemudian tuliskan pula langkah-langkah kecil yang kita perlukan untuk mencapai mimpi kita itu.

T= Time Line, bermimpilah dengan membuat garis limit waktu kapan kita ingin mencapainya misalnya saya ingin menikah di usia 25 tahun dan saya ingin punya rumah di usia 24 tahun.

Nah sobat-sobat akang selamat bermimpi, dan mari kita bersama-sama membumikan mimpi kita itu.

Blog di WordPress.com.