Kangpandoe’s Weblog

Maret 12, 2017

Mencari nilai dari tumpukan sampah

Filed under: Uncategorized — kangpandoe @ 9:58 pm

Musim Dingin 2016

Minus 5 derajat celcius, demikian aplikasi cuaca di smart-phone memberitahuku suhu udara di pagi buta itu. Sementara jarum jam menunjukkan pukul 03.55, aku bergegas menyusuri sepanjang jalan di antara Chifley Library dan University Oval menuju gedung tempat ku bekerja paruh waktu. Sudah hampir 2 pekan ini aku menjalani rutinitas sebagai cleaner professional untuk membersihkan salah satu gedung perkuliahan di kampus tempatku menempuh program studi master di Australia.

Profesional? Yup, karena untuk diterima sebagai cleaner, aku harus melalui serangkaian proses seleksi layaknya orang bekerja kantoran di Jakarta. Pertama, aku harus membuat police check (semacam SKCK) yang prosesnya dilakukan secara on-line dan cepat. Hanya hitungan jam, “SKCK” ini sudah jadi, dikirim melalui email dalam format PDF. Kedua, aku harus membuat Tax File Number atau TFN (semacam NPWP) yang juga prosesnya dilakukan secara on-line. Bedanya, notifikasi TFN dikirim via pos sebagai bentuk klarifikasi alamat pemohon.

Proses rekrutmen berlanjut dengan mengisi aplikasi on-line sembari menyertakan CV dan 2 kontak referensi tempat dimana aku sebelumnya bekerja. Berlanjut ke wawancara, on-line training, dan diakhiri dengan induction dan on-site training. Pada sesi on-line training, bahkan terdapat komponen assessment yang harus dijawab dengan benar minimal 90 persen.

Melewati Chifley Library, ku lirik sebentar perpustakaan yang memiliki jam operasional 24 jam tersebut. Tampak beberapa mahasiswa sedang khusyuk di depan komputer. “Astaga, mereka ini pada nggak tidur apa? Atau jangan-jangan pada nge-kos di Chifley” batinku. Memang begitulah sehari-harinya di perpustakaan ini, ada saja mahasiswa yang lembur mengerjakan tugas kuliah sampai pagi.

Selepas Chifley, pemandangan berganti menjadi jalan setapak yang lebih kecil, di kiri-kanan tumbuh pohon-pohon coolabah (pohon khas Australia), yang tidak terlalu besar sebenarnya, tapi cukup tinggi untuk ukuran pohon di Indonesia. Di sisi kanan, beberapa ekor kelinci sedang berkeliaran di rerumputan yang tertata rapih. Sementara di sisi kiri jalan terlihat seekor rakun betina sedang mencari makanan sambil menggendong anaknya dipunggung.

Akhirnya tiba juga di seberang jalan di mana gedung yang harus kubersihkan terletak. Jangan bayangkan seperti di Jakarta, dimana satu lantai dibersihkan oleh dua orang petugas cleaner, pria dan wanita yang bekerja seharian. Di sini kami harus membersihkan satu gedung, bukan satu lantai sendirian.

Di bangunan 4 lantai ini, pekerjaanku meliputi mengambil sampah dan mengganti kantong sampah dari setiap ruangan para dosen, staff, dan mahasiswa PhD. Kemudian membersihkan kamar mandi dan dapur beserta ruangan seminar dan ruangan kelas. Dan hari ini aku berencana untuk menghitung jumlah pasti ruangan kantor yang harus kubersihkan di gedung ini. Karena rasanya biar sekebut apa pun dikerjakan, waktu 4 jam masih saja terasa kurang.

Tak peduli siapa kamu  

“Rizky… Rizky…” panggil seseorang mengagetkanku yang sedang membersihkan toilet di lantai 3. Dari suaranya pasti yang datang adalah Pak Haji Adang, supervisor di perusahaan tempat kami bekerja. Kami memanggilnya Pak Haji atau Bang Haji karena Beliau sudah berkesempatan pergi haji di tahun keduanya di Australia. Tanpa antrian panjang seperti di Indonesia katanya, tahun ini daftar, tahun depan sudah bisa langsung berangkat ke tanah suci.

Mengikuti istrinya yang kuliah program S3, Pak Haji Adang adalah tipikal pekerja keras dan suami yang tidak bisa diam berpangku tangan hanya dengan mengandalkan uang beasiswa istri. Setelah bekerja menjadi supervisor dari jam empat sampai jam delapan pagi, Pak Haji lanjut lagi bekerja sebagai day-time cleaner mulai jam delapan pagi sampai jam tiga sore. Tidak heran, dari 4 orang supervisor, Pak Haji adalah orang yang paling berpengaruh dan dikenal dekat dengan on-site manajer.

Aku bergegas keluar dari toilet menuju sumber suara. Di depan pintu lift, sudah berdiri pria dengan perawakan tinggi besar, berkulit putih, dan berusia sekitar 45 tahunan. “Coba ikut saya ke dapur!” pintanya dengan intonasi suara besar khas orang Palembang.

“Ini tolong tutup tempat sampah dilap dan dibersihkan lagi!” katanya. “Astaga, sampai detail sekecil ini pun harus dibersihkan” pikirku dalam hati. “Saya ingin supaya kamu diterima jadi pegawai tetap disini, jangan cuma jadi pekerja lepas, makanya kerjanya harus benar-benar bersih supaya bos senang,” ujarnya seperti membaca pikiranku. “Apalagi keluarga sudah datang menyusul dari Indonesia kan, jangan sampai posisimu diambil cleaner dari negara lain,” lanjutnya.

Begitulah Pak Haji, kadang teman-teman Indonesia yang bekerja sebagai cleaner menganggapnya terlalu cerewet, tapi maksud sebenarnya baik. Pak Haji pernah bercerita awal mula dia mencari pekerjaan di kota Canberra tidaklah mudah. Beberapa kali berganti pekerjaan, akhirnya diterimalah ia di perusahaan ini, dan dengan berbekal kerja keras akhirnya diangkat sebagai supervisor.

Pak Haji pernah menuturkan, dulu orang Indonesia yang bekerja di perusahaan ini sangat sedikit. Karyawan didominasi oleh orang dari Mongolia yang banyak merekomendasikan kawan-kawan senegaranya. Setelah Pak Haji masuk, dia berusaha untuk membawa kawan-kawan Indonesia untuk bisa bekerja di sini. Oleh karenanya, Pak Haji sangat ketat terhadap kawan-kawan Indonesia karena dia ingin menunjukkan kepada manajer bahwa orang Indonesia jauh lebih profesional, pekerja keras, dan bisa dipercaya.

Hasilnya memang luar biasa, dalam waktu satu tahun jumlah kawan-kawan Indonesia, baik mahasiswa ataupun yang sedang mendampingi pasangan studi yang diterima bekerja di perusahaan meningkat tajam. Bahkan dari 4 orang supervisor, dua diantaranya diisi oleh orang Indonesia. Selain Pak Haji, supervisor lainnya adalah Bang Rahmat, mahasiswa Ph.D yang juga seniorku di Kementerian Keuangan.

“Dengar Rizky, saya selalu katakan ke kawan-kawan kita, pokoknya saya tidak peduli siapa kamu di Indonesia. Saya hanya peduli bahwa kamu sekarang sedang membawa nama Indonesia bekerja di sini. Makanya kerja yang bagus, kerja dengan hati jangan asal-asalan,” demikian Pak Haji memulai kuliah subuhnya di pagi itu. “Siap Pak!” jawabku singkat.

Karyawan tetap

Good morning mate!”, sapa seseorang di depan ruangan kebersihan tempatku menaruh berbagai peralatan. Jam menunjukkan pukul 07.50 pagi, 10 menit lagi menuju absensi jam kerja. Kali ini yang datang adalah Agi, wanita Mongolia yang menjadi supervisor-ku langsung. “Hi Agi, how is it going?” balasku.

Did you see me last night on the class?” tanyanya. “Are you taking financial report analysis class?” kataku kaget, karena tadinya ku kira Agi ini mahasiswa Ph.D. “Yes, I saw you on the class last night,” jawabnya. “What is your program?” Kataku lagi. “I am doing Master of Project Management, and you?”, katanya lagi. “Oh, I am in MBA program”, jawabku.

Demikianlah di minggu ketiga, aku bekerja baru kutahu kalau supervisor-ku adalah teman sekelas di salah satu mata kuliah. Dari percakapan kami aku juga baru tahu bahwa kami berada dalam satu program beasiswa yang sama, yakni Australia Awards. Bedanya Agi masuk lebih dulu satu semester ke kampus kami. Berbeda dengan Pak Haji, wanita yang memiliki dua anak ini lebih santai dalam berinteraksi dengan para cleaner, apalagi yang berstatus sesama mahasiswa. Karena Agi cukup tahu beban studi di kampus dan tuntutan profesionalisme untuk membagi waktu antara bekerja dan studi.

Pernah satu waktu dia mengatakan kepadaku harus memiliki strategi dalam membersihkan gedung ini. Dengan jumlah ruangan staff yang mencapai 130 ruangan, ditambah toilet, dapur, dan lain-lain maka waktu 4 jam tidak akan cukup kecuali disiasati dengan baik. Dia juga mengatakan kalau ada tugas kuliah, dia mengizinkan sekitar setengah jam untuk membaca atau menyicil tugas selama pekerjaan dapat dituntaskan dan tidak ada keluhan dari customers.

I come with new contract, the manager has offered you a permanent contract”, tutur Agi menjelaskan maksud kedatangannya. Aku membaca surat tersebut dan segera kutandatangani untuk keserahkan kembali kepadanya karena aku harus bergegas untuk menyiapkan tugas kuliah di hari itu. “Thank you Agi, here it is” kataku sambil menyerahkan kembali beberapa lembar dokumen kontrak tersebut. Mulai hari ini aku resmi berstatus karyawan tetap. Artinya aku akan mendapatkan benefit tambahan superannuation (semacam BPJS ketenagakerjaan) dan hak cuti selama 25 hari setahun.

Mencari nilai

Beberapa hari setelah menandatangani kontrak karyawan tetap, aku sempat merefleksikan kembali apa sebenarnya yang aku cari dan aku inginkan dari bekerja paruh waktu di perusahaan ini. Kebiasaan merefleksikan banyak hal seperti ini sudah kumulai sejak kelas satu SMP, saat kedua orang tua kami memutuskan untuk bercerai setahun sebelumnya.

Tentu yang terlintas pertama kali adalah teori hierarki kebutuhan Maslow, yakni untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena datang ke Australia membawa keluarga dan anak, maka secara hukum diharuskan menyewa rumah yang memiliki dua kamar. Oleh karenanya, biaya sewa rumah sudah mengambil porsi 60 persen sendiri dari uang beasiswa. Sebenarnya hal ini bisa disiasati dengan cara melakukan sharing kamar dengan mahasiswa lain yang belum berkeluarga atau tidak membawa keluarga. Namun aku dan istri memilih untuk tidak mengorbankan privasi hanya demi menghemat seratus sampai dua ratus dolar.

Kedua, teringat cerita mantan Kepala Biro kami tentang seorang Bapak tukang sapu di sebuah kampus. Alkisah, Bapak yang selalu giat dan gembira dalam pekerjaannya tersebut ditanya mengapa Bapak kelihatan senang sekali bekerja sebagai tukang sapu. Jawaban Bapak tersebut sungguh di luar dugaan penanyanya, “Oh, saya bukan tukang sapu sembarangan. Saya tukang sapu perpustakaan, Saudara tahu perpustakaan ini tempat belajar calon-calon pemimpin masa depan. Kalau para calon pemimpin ini merasa nyaman dan senang belajar disini, maka saya sudah membantu mereka untuk membuat perubahan besar di masa yang akan datang.”

Ah, betapa luar biasa sekali Bapak tukang sapu itu. Mungkin pendidikannya rendah tapi ketulusan hatinya mampu membuat dirinya menemukan sebuah value yang luhur,” batinku. Aku jadi tersenyum simpul, “Mungkin saat ini aku sedang membantu kawan-kawan penghuni gedung ini menjadi pemimpin di masa depan”, kataku dalam hati.

Pernah dalam satu obrolan makan siang dengan anak-anak muda penerima beasiswa LPDP mereka bertanya, “Mas Rizky kerja di Kemenkeu masih mau kerja jadi cleaner?” Aku hanya tersenyum, “Kemenkeu di Indonesia bro, disini cuma mahasiswa biasa yang harus menafkahi dan mengajak jalan-jalan keluarga, ha..ha..” jawabku. Belum lagi pertanyaan gimana bagi waktu dan mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Sejak ada beasiswa LPDP, jumlah mahasiswa Indonesia yang studi di Canberra bertambah pesat. Senang sekali melihat banyak pelajar Indonesia yang mendapatkan kesempatan lebih luas dari negara untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Ibu Kota Australia ini. Bedanya, para penerima beasiswa Australia Awards hampir bisa dipastikan adalah para senior yang sudah bekerja lebih dari 3 atau 4 tahun dan sudah berkeluarga. Sementara banyak sekali penerima beasiswa LPDP di Canberra adalah anak-anak muda fresh-graduate. Tambah lagi, menurut mereka LPDP melarang untuk bekerja paruh waktu yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan, sedangkan Australia Awards tidak melarang penerima beasiswanya untuk bekerja.

Kuliah sambil bekerja bukan barang baru bagiku, dulu aku pun menyelesaikan pendidikan sarjana di program ekstensi UI sambil bekerja di siang hari. Tidak mudah memang, tapi di situ kedewasaan dan profesionalisme diuji. Ah, jadi teringat ucapan Begawan Ekonomi Indonesia, almarhum Sumitro Djojohadikusumo ketika ditanya pendapatnya tentang mahasiswa ekstensi UI, Beliau berkata, “Mahasiswa terbaik di kelas malam (ekstensi maksudnya) akan bisa mengalahkan mahasiswa terbaik di kelas pagi (regular), tetapi mahasiswa yang terburuk di kelas malam sudah pasti jauh lebih buruk dari kelas pagi.”

Pernyataan yang masuk di akal, dengan tuntutan akademik yang relatif sama, mahasiswa terbaik di kelas malam pasti memiliki kerja keras dan manajemen waktu yang lebih baik dari mahasiswa di kelas pagi yang sebagian besar waktunya hanya dituntut untuk belajar. Sementara mahasiswa terburuk di kelas malam hampir pasti tidak mendapatkan ilmu apa-apa dari kelasnya.

Ujian Integritas

Pagi itu, kami hanya berangkat kerja berdua saja dari kawasan rumah di Belconnen. Mas Herman yang biasanya melengkapi kami sebagai “the three musketeers from Belconnen” sedang cuti selama tiga hari untuk mempersiapkan ujian tengah semester. Seperti biasanya, selama belum memiliki kendaraan sendiri, aku menumpang mobil yang dikemudikan oleh Mas Widiarso. Mas Widiarso adalah salah seorang senior di Kemenkeu yang sedang mengambil program Ph.D di University of Canberra. Aku sendiri banyak belajar darinya, mulai dari masalah agama, belajar menyetir mobil, sampai belajar tentang segudang aktifitasnya di luar bangku kuliah. Eselon 4 adalah jabatan terakhirnya sebelum melanjutkan studi di Canberra. “Luar biasa, eselon 4 saja tidak malu menjadi cleaner apalagi aku yang cuma pelaksana biasa,” pikirku waktu itu.

Sepanjang perjalanan selama 10 menit itu, aku memikirkan strategi untuk bisa men-submit tugas mata kuliah foundation of management yang jatuh tempo jam 9 di pagi itu. “Ah seandainya saja cuti, tinggal butuh waktu sekitar dua jam saja untuk merampungkannya,” batinku. Sebagai karyawan tetap aku memang telah memiliki hak cuti, namun dengan berat hati hak tersebut tidak kupakai di masa ujian ini. Pada saat diwawancarai dulu, bagian SDM perusahaan menanyakan apakah ada rencana cuti dalam 6 bulan ke depan dan bagaimana mengatur waktu jika ujian. Saat itu aku menjawab tidak akan cuti selama 6 bulan ke depan dan mengenai kuliah sambil bekerja, aku sudah punya pengalaman sebelumnya ketika menyelesaikan pendidikan sarjana.

Rasanya lebih berat menelan ludah sendiri dari pada bergulat dengan deadline tugas dan belajar di tengah ujian. Satunya kata dan perbuatan harus selalu dijunjung untuk membangun kredibilitas dan reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya.

Pada mid-semester ini, ada dua mata kuliah yang diujiankan. Sementara satu mata kuliah menugaskan penulisan academic paper dan untuk mata kuliah foundation of management ini tugasnya cukup unik, membuat story telling video. Video semacam ini menurut dosen kami adalah instrumen yang cukup efektif bagi top manajemen untuk menyampaikan pesan yang dalam baik kepada internal dan eksternal stakeholders. Tema video bebas seputar manajemen dengan durasi sekitar lima menit plus-minus 30 detik.

Masalahnya adalah seumur-umur aku belum pernah membuat video dan menggunakan software pengolah video. Sekitar 2 minggu sebelum deadline pun, aku masih berkutat mempelajari berbagai blog dan video tutorial bagaimana menggunakan Windows Movie Maker. Tema yang terlintas dalam benak adalah “managing public sector”.

Untuk menerjemahkan pesan yang ingin kusampaikan, di bagian pendahuluan aku membuat semacam storyboard kartun-kartun yang menceritakan buruknya layanan sebuah birokrasi. Dibagian kedua aku mewawancarai tiga orang teman dari berbagai negara menanyakan pendapat mereka tentang birokrasi dan apakah mereka berkeinginan untuk berkarir sebagai birokrat setelah menamatkan program MBA-nya. Dan karena jawaban mereka semua adalah tidak mau, maka di bagian ketiga aku melakukan counter argument. Caranya dengan menampilkan foto Donald Trump yang ketika itu masih sibuk-sibuknya berkampanye, sambil menambahkan caption, “Jika Anda tidak mau menjadi seorang public manager lalu mengapa seorang business leader seperti orang ini mati-matian mau menjadi seorang government leader, apakah untuk meraih popularitas, untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar, atau untuk membuat perubahan?

Di bagian keempat, kutampilkan beberapa data hasil reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan Kemenkeu Indonesia sebagai contoh birokrasi yang sedang menuju perubahan. Terakhir, kutampilkan slide-show foto-foto krisis ekonomi, perang, dan krisis kemanusian yang terjadi sebagai akibat para manajer publik yang mungkin tidak sebijak para mahasiswa kami dalam mengambil keputusan. Video ditutup dengan sebuah pernyataan singkat tentang manajemen perubahan, bahwa seperti telur perubahan indah hanya akan tercipta jika terjadi dari dalam, perubahan telur menjadi anak ayam tidak akan terjadi jika tekanan datang dari luar. Oleh karenanya, mari ambil bagian menjadi perubah masa depan dengan menjadi bagian dari pemimpin di sektor publik.

Setelah selesai bekerja, aku pun bergegas berlari menuju Chifley library, segera ku cari tempat yang paling sepi di sana. Yang kurang adalah video editing untuk membuat dubbing, background music, dan penggalan cerita mengalir dengan smooth. Jam menunjukkan pukul 08.50, tanpa membuang tempo segera saja ku submit video tersebut melalui situs Wattle yang diminta oleh dosen. Tepat pukul 08.55 proses mengunggah video selesai dilakukan. “Fyuuh… Alhamdulillah…” ujarku.

Akhir di Musim Gugur

Kurang lebih tiga pekan, tiba-tiba aku menerima email dari Dr. Shari Read, dosen Foundation of Management, yang isinya sungguh diluar dugaan:

Hi Rizky

I just wanted to tell you how much I enjoyed your video – it was very moving, I thought I might even cry at one point! A very important message

Thank you
Shari

Tidak henti-hentinya aku bersyukur kepada Tuhan atas apresiasi dosen tersebut, kemudian aku baru tahu bahwa aku mendapat nilai High Distinction, video maker kedua terbaik untuk kategori tugas video story-telling tersebut.

Bulan demi bulan berlalu sejak aku menerima email dari Shari. Hari ini, musim gugur tahun 2017, manajemen mengumpulkan kami untuk menerima briefing tentang perubahan yang akan terjadi di semester depan. Sang Manajer mengatakan bahwa pihak kampus menginginkan adanya perubahan jam kerja, dari semula jam 04.00-08.00 menjadi jam 06.00-10.00 pagi. Sontak saja kegaduhan terjadi di dalam aula tempat briefing tersebut. Walaupun alasannya adalah untuk work-life balance dengan jam kerja yang lebih manusiawi. Namun perubahan jadwal kerja itu berarti banyak bagi para cleaners, ada yang bentrok dengan jadwal kuliah, ada yang harus mengantar anak ke sekolah, sampai ada pula yang terancam harus kehilangan pekerjaan day-time kalau harus memilih tetap sebagai cleaner. Kemudian muncul pula tudingan-tudingan kalau alasan sebenarnya dari perubahan jam kerja tersebut adalah efisiensi. Jika dimulai dari jam 6 pagi, maka pihak kampus sebagai pengguna jasa akan menghemat beberapa dolar beban gaji karena selama ini mereka harus membayarkan rate lembur untuk kami yang bekerja mulai jam 4 pagi.

Untuk ku sendiri, apapun alasan perubahan jadwal tersebut kumaknai bahwa sudah rezekinya aku hanya akan bekerja sebagai cleaner sampai akhir bulan Juni 2017 ini. Dengan jam kerja seperti itu, pasti akan bentrok dengan jadwal perkuliahan. Artinya aku punya kesempatan untuk belajar lebih serius dan sungguh-sungguh di semester depan. Masalah rezeki tidak akan kemana, saat ini istriku sedang membangun reputasi sebagai koki handal yang menjual catering makanan khas Minang dan beberapa jajanan kuliner khas Indonesia lainnya. Hitung-hitung berlatih wirausaha.

Banyak hikmah yang kuperoleh selama bekerja paruh waktu sebagai cleaner, dari mulai pelajaran bagaimana perusahaan memotivasi sumber daya manusianya. Pemberian penghargaan employee of the month, penyampaian kartu ucapan selamat ulang tahun dari manajer, pesta barbeque akhir tahun, dan lain-lain. Sampai kepada mempelajari gaya kepimimpinan masing-masing supervisor, dan juga tentunya proses pengembangan dan pendewasaan diri.

Aku jadi lebih menghargai setiap profesi, apa pun itu yang dijalankan dengan sepenuh hati dan profesional di bidangnya masing-masing. Kemampuan manajemen waktu dan membuat skala prioritas yang berkembang dan juga pertemanan dan persaudaraan yang semakin bertambah.

 

Penulis:

Kang Pandoe
Merupakan mahasiswa tugas belajar Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan
Saat ini tengah menempuh program studi Master of Business Administration
di the Australian National University, Canberra.

Iklan

Agustus 24, 2010

Islamic Calendar

Filed under: Uncategorized — kangpandoe @ 12:01 pm

Blog di WordPress.com.